KabarBaik.co– Jumat (12/12) malam, di tengah sorot lampu Stadion 700th Anniversary Chiang Mai. harapan jutaan rakyat Indonesia meredup. Digantikan rasa pilu mendalam. Timnas Indonesia U-23, yang datang ke SEA Games 2025 dengan mahkota juara bertahan, harus menerima kenyataan pahit. Perjalanan Garuda Muda terhenti secara mengenaskan di fase grup. Menang 3-1 melawan Myanmar dalam laga terakhir Grup B, tetap menjadi palu godam yang mematikan mimpi.
Sejak peluit kick-off ditiupkan, nuansa tegang sudah menyelimuti skuad Garuda Muda. Kebutuhan tim asuhan Indra Sjafri untuk meraih kemenangan besar, setidaknya selisih tiga gol, seakan menjadi rantai yang mengikat kaki para pemain. Indonesia memang sempat bernapas ketika J. Ravens berhasil menambah 2 gol, mengubah skor menjadi 3-1. Momen itu menciptakan harapan, seolah gerbang semifinal masih terbuka. Namun, sepak bola seringkali ironis. Skor 3-1 bertahan hingga wasit meniup peluit panjang. Tiket semifinal kandas. Dan akhirnya menjadi milik Malaysia.
Kegagalan ini terasa semakin menyakitkan karena Indonesia sejatinya datang dengan komposisi pemain terbaik. Termasuk amunisi-amunisi abroad yang diharapkan menjadi pembeda. Kehadiran pemain-pemain yang merumput di Eropa, seperti gelandang box-to-box Ivar Jenner dan penyerang eksplosif Rafael Struick, bahkan ditambah dengan potensi talenta seperti Mauro Zilstra, nyatanya tak mampu mendongkrak performa kolektif tim di bawah tekanan krusial ini.
Jam terbang mereka di kompetisi luar negeri yang keras, yang seharusnya menjamin ketenangan mental, gagal menular ke seluruh tim. Mereka berjuang keras secara individu, namun sistem tim seolah-olah macet ketika berada di kotak pinalti. Apalagi skenario wajib menang besar.
Kegagalan memaksimalkan potensi pemain yang berkarier di luar negeri ini mesti menjadi catatan evaluasi penting bagi PSSI. Di atas kertas, skuad ini adalah salah satu yang terkuat dalam sejarah partisipasi Indonesia di SEA Games. Namun, sepak bola membuktikan bahwa kualitas teknis harus selaras dengan ketangguhan mental serta kecerdasan otak dalam menghadapi turnamen yang padat dan penuh tekanan.
Ironi kegagalan ini kian terasa ketika menilik kembali kebanggaan yang baru saja direbut Indonesia. Timnas U-23 baru saja mengakhiri penantian 32 tahun yang panjang dan melelahkan pada SEA Games 2023 di Kamboja, mengamankan medali emas ketiga dalam sejarah mereka setelah era 1987 dan 1991. Kemenangan pada 2023 itu diharapkan menjadi titik balik, sebuah fondasi dominasi baru di Asia Tenggara.
Indonesia tercatat telah meraih tiga medali emas (1987, 1991, dan 2023). Selain itu, Indonesia juga menduduki posisi runner-up sebanyak lima kali (Perak), yang terakhir pada 2019, serta mengantongi empat medali perunggu. Catatan ini menegaskan bahwa sepak bola Indonesia selalu menjadi kontestan kuat, namun kerap terganjal di momen-momen penentu.
Eliminasi dini di SEA Games 2025 ini secara tajam memutar balik narasi yang baru dibangun dua tahun lalu. Ini bukan sekadar kegagalan mempertahankan gelar, tetapi sebuah kemunduran besar yang menuntut evaluasi total. Mulai dari strategi, kecerdasan (IQ) pemain, manajemen tekanan, hingga sinergi pemain liga domestik dan pemain abroad.
Dan, status juara bertahan kini telah beralih menjadi status tersingkir di fase grup, meninggalkan tanda tanya besar tentang masa depan pembinaan pemain muda Indonesia. (*)








