KabarBaik.co – Maraknya peristiwa percobaan bunuh diri di Jombang belakangan ini mendapat sorotan serius dari Yesi Aprillia, seorang aktivis kesehatan muda asal Jombang. Ia menekankan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental di tengah masyarakat.
Bunuh diri yang terbaru di Jombang yng terbaru melibatkan seorang pemuda karena asmara dan seorang lansia karena penyakit menahun.
Dua kasus yang terjadi pada Jumat (4/7) menjadi alarm bagi kondisi psikologi warga Jombang. Kasus pertama terjadi pada MA, 20, di Mojoagung yang nekat melompat ke sumur lantaran cintanya tak direstui.
Sementara di Megaluh, Giman, 83, mencoba mengakhiri hidupnya dengan menusuk dada sendiri, diduga depresi akibat penyakit kronis yang tak kunjung membaik.
Yesi Aprillia, yang dikenal sebagai ketua umum demisioner Pusat Informasi dan Konseling Mahasiswa (PIK-M) Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, menyatakan keprihatinannya.
“Kejadian ini menunjukkan bahwa tren dan isu kesehatan psikologi di semua kalangan usia sering terabaikan, terlebih pada usia muda dan lansia,” ujar wanita yang juga aktif sebagai pendidik di Komunitas Anak Muda, Selasa (8/7).
Menurut Yesi, faktor pemicu percobaan bunuh diri sangat beragam, mulai dari masalah pribadi, ekonomi, pendidikan, lingkungan sekitar, bahkan penyakit kronis. Ia menekankan bahwa masyarakat perlu lebih peka dan sadar mengenai kesehatan psikologis karena depresi dan tekanan emosional bisa menyerang siapa saja.
“Seringkali, individu yang sedang berjuang dengan kesehatan mentalnya merasa sendirian dan tidak tahu ke mana harus mencari bantuan,” tambahnya.
Yesi menyoroti kasus pemuda di Mojoagung yang depresi karena asmara tak direstui.
“Bagi kaum muda, kegagalan dalam percintaan bisa menjadi pukulan berat, terutama jika mereka tidak memiliki mekanisme koping yang sehat atau lingkungan yang mendukung untuk berbagi masalahnya,” jelasnya.
Sementara itu, kasus lansia di Megaluh yang menderita penyakit menahun juga menjadi perhatiannya.
“Lansia dengan penyakit kronis sangat rentan mengalami depresi. Rasa sakit yang berkepanjangan, keterbatasan fisik, dan perasaan tidak berdaya dapat memicu tekanan batin yang luar biasa. Pendampingan emosional dari keluarga dan lingkungan sangat krusial,” tegas Yesi.
Yesi mengimbau seluruh elemen masyarakat, khususnya keluarga, untuk lebih proaktif dalam mengenali tanda-tanda gangguan kesehatan mental, depresi, atau perubahan perilaku pada anggota keluarga mereka.
“Jangan ragu untuk berbicara dengan mereka, mendengarkan keluh kesah mereka tanpa menghakimi, dan membantu mencari bantuan profesional jika diperlukan,” saran Yesi.
Selain itu, Yesi juga menyerukan pentingnya edukasi kesehatan mental yang lebih masif.
“Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan komunitas harus bersinergi untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental. Ini termasuk penyediaan akses yang lebih mudah terhadap layanan konseling atau psikolog bagi masyarakat,” pungkasnya.
Pernyataan Yesi ini menjadi pengingat penting bagi seluruh warga Jombang, bahwa isu kesehatan mental bukanlah hal sepele yang bisa diabaikan.
Dengan kepedulian bersama dan upaya preventif yang terstruktur, diharapkan kasus-kasus percobaan bunuh diri dapat dicegah di masa mendatang. (*)