Alarm Boikot Piala Dunia 2026 Makin Nyaring

oleh -82 Dilihat
20200122 trofi piala dunia
Piala Dunia

KabarBaik.co– Pesta sepak bola terbesar di jagat raya, Piala Dunia 2026, kini berada di ambang krisis paling kelam dalam sejarahnya. Kurang dari lima bulan sebelum kick-off, turnamen yang seharusnya menyatukan ini justru terancam menjadi ajang yang sepi penonton dan peserta. Situasi ini menyusul menguatnya sinyal boikot massal dari raksasa-raksasa sepak bola Eropa.

Bukan masalah infrastruktur atau dana yang menjadi duri. Tapi, buah ambisi geopolitik. Langkah Presiden AS Donald Trump yang ingin menganeksasi Greenland telah memicu “gempa bumi” diplomatik hingga merembet ke lapangan hijau. Di Budapest pekan ini, para petinggi federasi sepak bola Eropa (UEFA) berkumpul secara informal dengan satu agenda kecemasan yang sama: Apakah mereka harus tetap terbang ke Amerika Serikat saat kedaulatan sekutu mereka terancam?

Jerman, sang pemegang empat gelar juara dunia, berada di garda depan. Politisi senior Jerman secara terbuka menyebut boikot sebagai “senjata terakhir” untuk menahan agresi ekonomi dan teritorial Trump. Jika Jerman mundur, efek domino diprediksi akan menyeret Inggris, Belanda, dan negara-negara NATO lainnya untuk meninggalkan kursi di stadion-stadion megah AS.

Tembok Visa bagi Suporter

Kebijakan “Amerika Pertama” yang kembali ditegaskan Trump telah membekukan visa bagi warga dari 75 negara. Ironisnya, banyak dari negara tersebut—seperti Brasil, Maroko, dan Nigeria adalah negara dengan basis suporter paling fanatik. FIFA kini menghadapi alarm kenyataan pahit, sebuah Piala Dunia yang mungkin hanya akan dihadiri oleh atlet dan pejabat, tanpa sorak-sorai suporter dari belahan bumi selatan.

Internal FIFA dilaporkan sedang mengalami gejolak. Keputusan Presiden FIFA Gianni Infantino memberikan “Penghargaan Perdamaian” kepada Trump pada Desember lalu kini menjadi bumerang yang memalukan. Publik menilai FIFA terlalu “mesra” dengan kekuasaan, sementara nilai-nilai inklusivitas sepak bola sedang diinjak-injak oleh kebijakan imigrasi dan tarif dagang.

​​Dengan 78 dari 104 pertandingan dijadwalkan berlangsung di Amerika Serikat, mundurnya tim-tim besar Eropa bukan sekadar kehilangan prestasi olahraga, melainkan bencana komersial bernilai miliaran dolar.

“Ini bukan lagi soal sepak bola, ini soal martabat. Jika satu negara besar Eropa mundur, seluruh turnamen ini akan runtuh seperti kartu domino,” ujar salah satu sumber dalam pertemuan di Budapest seperti ditulis sejumlah media luar negeri.

Kini, mata dunia tertuju pada pertemuan formal UEFA tanggal 11 Februari mendatang di Brussels. Akankah diplomasi sepak bola mampu meruntuhkan ketegangan politik, ataukah tahun 2026 akan dikenang sebagai tahun di mana Piala Dunia kehilangan maknanya? (*)

 

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi


No More Posts Available.

No more pages to load.