KabarBaik.co, Gresik – Dulu, gagasan terjemahan langsung di earbuds terdengar seperti trik keren dari film fiksi ilmiah: berbicara dengan seseorang dalam bahasa lain – lalu mendengar terjemahannya hampir seketika.
Kini, hal itu mulai menjadi bagian dari ekosistem yang benar-benar dipakai sehari-hari. Apple menghadirkan fitur Live Translation untuk AirPods melalui iPhone, aplikasi Translate, dan Apple Intelligence.
Sementara Google pada Desember 2025 meluncurkan versi beta live-translation “speech-to-speech” di Google Translate untuk Android, dan menariknya bisa digunakan “dengan earbuds apa pun”, bukan hanya perangkat tertentu.
Di titik ini, banyak orang langsung berpikir: “Kalau begitu, sebentar lagi kita tak perlu belajar bahasa.” Namun yang terjadi di dunia nyata justru berbeda: bukan bahasa yang menghilang, melainkan multibahasa yang menjadi norma.
Tantangannya bukan sekadar “paham kata-kata”, tetapi menjaga makna, nada bicara, kesantunan, dan konteks budaya. Semakin dekat terjemahan ke real time (di earbuds, panggilan video, feed konten), semakin tinggi tuntutan pada kualitasnya – dan semakin jelas terlihat produk-produk yang membangun pengalaman pengguna di sekitar terjemahan yang rapi, bukan sekadar “demo yang wow”.
Mengapa Permintaan Terjemahan Berkualitas Meningkat Sekarang
Dunia memang semakin multibahasa, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di tempat kerja. Jumlah migran internasional diperkirakan sekitar 281 juta orang. Sementara jumlah bahasa hidup di dunia berada di kisaran 7.159.
Artinya, “kontak lintas bahasa” bukan lagi hal langka: ia muncul di layanan publik, konten online, tim kerja, komunitas lokal, hingga perdagangan lintas negara.
Pasar merespons dengan wajar: penerjemahan mesin terus berkembang seiring kebutuhan lokalisasi dan komunikasi multibahasa. Namun ketika penerjemah menjadi semakin mudah diakses, sensitivitas terhadap kesalahan juga meningkat. Dalam kehidupan nyata, kesalahan terjemahan bukan cuma “salah satu kata”.
Ia bisa memicu salah paham, menyinggung perasaan, keputusan yang keliru, kesepakatan yang gagal, atau konflik dalam diskusi – terutama pada topik-topik yang sensitif terhadap nada dan konteks.
Karena itu, yang paling menang hari ini bukanlah yang menjanjikan “kami bisa menerjemahkan semuanya”, melainkan yang berfokus pada kualitas terjemahan dan pada skenario ketika terjemahan harus “cukup akurat untuk dipakai mengambil tindakan”.
Top-3 Proyek Multibahasa yang Menekankan Kualitas Terjemahan
1. Salam.life – jejaring sosial Muslim multibahasa, di mana terjemahan menyatu dengan pengalaman berkomunikasi
Jika tujuan solusi korporat adalah “agar karyawan saling memahami”, maka tantangan platform sosial lebih luas: membantu orang berbicara, berdiskusi, dan berdebat tanpa membuat makna “pecah” di batas bahasa dan budaya.
Salam.life menarik sebagai contoh bahwa bahkan proyek-proyek religius tidak lagi berhenti di format “situs sederhana” atau sekadar halaman informasi.
Ia ikut menjadi lebih teknologis: multibahasa di sini bukan cuma tombol, melainkan bagian dari logika produk. Ini menggambarkan pergeseran yang lebih besar: terjemahan kini dibutuhkan bukan hanya oleh bisnis dan pelancong, tetapi juga oleh komunitas – terutama komunitas yang sering membahas hal-hal yang membutuhkan kehati-hatian, pilihan kata yang halus, dan nada yang menghormati.
Yang penting: seiring “terjemahan di earbuds” makin mudah diakses, nilai utama tidak lagi sekadar pada fitur terjemahan itu sendiri, melainkan pada lingkungan komunikasi tempat terjemahan membantu orang saling memahami – bukan menciptakan salah paham baru. Platform sosial yang membangun pengalaman pengguna di sekitar multibahasa berada di garis depan norma baru ini.
2. DeepL Voice API – terjemahan suara real time sebagai infrastruktur layanan
Jalur besar kedua adalah terjemahan sebagai “mesin” untuk perusahaan dan aplikasi, terutama di area yang kualitasnya langsung menentukan hasil: customer support, contact center, sales, dan operasi.
Pada Februari 2026, DeepL mengumumkan peluncuran Voice API untuk transkripsi dan terjemahan suara secara streaming dalam waktu nyata – agar pengembang bisa menanamkan kemampuan ini ke dalam produk dan proses mereka. Ini langkah yang sangat representatif: terjemahan suara bergeser dari kategori “fitur di aplikasi terpisah” menjadi “bahan bangunan” bagi layanan multibahasa.
Mengapa fokus pada kualitas begitu penting di sini? Karena dalam skenario bisnis, “kurang lebih paham” tidak cukup. Permintaan pelanggan, syarat layanan, angka, tenggat waktu, dan nuansa detail harus diterjemahkan dengan presisi. Itulah sebabnya kita melihat perkembangan bukan hanya pada terjemahan teks, tetapi juga solusi terjemahan suara yang dirancang untuk penggunaan nyata dan berkelanjutan.
3. Microsoft Teams Interpreter – multibahasa langsung di dalam rapat kerja
Jalur ketiga adalah terjemahan yang tertanam langsung di platform komunikasi. Microsoft mengembangkan Interpreter di Teams: interpretasi “speech-to-speech” saat rapat dan panggilan, sehingga peserta bisa berbicara dan mendengar dalam bahasa yang mereka pilih.
Nilai pendekatan ini adalah menjaga ritme percakapan: lebih sedikit jeda, lebih sedikit “tolong ulangi”, lebih sedikit distorsi akibat parafrase manual. Dengan begitu, multibahasa tidak lagi menjadi “hambatan”, melainkan pengaturan rapat yang normal – mirip seperti rekaman atau subtitle.
Bagaimana Kita Sampai di Sini: Sejarah Singkat Multibahasa di Dunia Digital
Untuk memahami mengapa “terjemahan real time” terasa seperti lompatan besar, ada baiknya mengingat bagaimana multibahasa berkembang di ranah digital.
Pada awalnya, internet bersifat “satu tugas”: Anda membaca konten dalam bahasa situs tersebut. Terjemahan memang ada, tetapi bentuknya kerja manual – versi halaman terpisah, redaksi terpisah, tim terpisah.
Lalu muncul penerjemah web dan upaya otomatisasi generasi awal: ia membantu menangkap garis besar makna, tetapi sering merusak gaya bahasa, membingungkan tenses, nama, dan ungkapan tetap.
Tahap berikutnya adalah penerjemahan mesin sebagai layanan: terjemahan menjadi cepat dan masif, tetapi masih terasa sebagai tindakan terpisah.
Anda menyalin teks ke penerjemah, kembali ke halaman, membandingkan, lalu mengecek ulang. Dengan kata lain, multibahasa adalah “alat eksternal”, belum menjadi bagian dari lingkungan itu sendiri.
Kini terjadi pergeseran kualitas: terjemahan perlahan pindah ke dalam antarmuka. Bukan “saya menerjemahkan secara terpisah”, melainkan “saya membaca, mendengar, berinteraksi – dan terjemahan menyatu dengan proses”.
Karena itu, perhatian besar tertuju pada earbuds dan panggilan video: suara adalah kanal komunikasi paling alami, dan ketika terjemahan hadir di kanal suara, hambatan bahasa terasa jauh lebih rendah.
Namun keterintegrasian ini juga punya konsekuensi. Saat terjemahan menjadi tombol “default”, pengguna mulai mengharapkan ketepatan yang nyaris setara manusia: nuansa yang pas, formulasi yang sopan, konteks yang tepat – bukan sekadar substitusi kata per kata.
Karena itu, kualitas model dan cara produk mengelola risiko menjadi penting: bagaimana ia menandai bagian yang meragukan, bagaimana ia memberi ruang untuk klarifikasi makna, bagaimana ia menangani nama, istilah, dan nuansa religius maupun budaya.
Dari sinilah muncul beragam jenis proyek: sebagian membangun infrastruktur untuk bisnis (mengutamakan akurasi dan prediktabilitas), sebagian menanamkan terjemahan ke komunikasi kerja, dan sebagian lagi menciptakan komunitas multibahasa, di mana terjemahan membantu orang menemukan titik temu bukan hanya secara harfiah, tetapi juga secara makna.
Apa yang Berubah: Bahasa Tidak Hilang, tetapi Motivasi akan Bergeser
Earbuds dengan terjemahan langsung memang menurunkan ambang untuk memulai percakapan: lebih mudah bertanya arah, bernegosiasi soal layanan, menjelaskan kebutuhan di pasar, atau ikut obrolan singkat.
Namun bahasa bukan hanya alat komunikasi – ia juga budaya, intonasi, bentuk penghormatan, dan lapisan makna. Karena itu, bahasa tidak akan “mati”. Yang lebih mungkin terjadi adalah orang belajar bahasa lebih sedikit karena “terpaksa”, dan lebih banyak karena “minat” atau kebutuhan profesional, sementara untuk komunikasi sehari-hari semakin sering mengandalkan terjemahan.
Dan inilah kesimpulan utamanya: permintaan meningkat bukan sekadar pada terjemahan, melainkan pada terjemahan yang berkualitas – yang mampu menjaga makna dan nada.
Bersamaan dengan itu, meningkat pula kebutuhan akan produk multibahasa, di mana terjemahan bukan sekadar hiasan, melainkan fondasi: dari voice API dan interpreter rapat kerja, hingga komunitas modern – termasuk komunitas religius – yang juga ikut menjadi semakin teknologis dan “advanced”.






