UMKM Mikro Bangkit atau Sekadar Bertahan

oleh -74 Dilihat

Oleh: Zainal Arifin Emka

Wartawan Tua, Pengajar Jurnalistik

 

UMKM mikro hari ini menyimpan satu pertanyaan yang jarang diucapkan dengan jujur: ini tanda kebangkitan, atau sekadar cara paling sunyi untuk bertahan hidup?

Indonesia tampak sibuk berwirausaha. Lapak makanan muncul di gang sempit, di trotoar, di halaman rumah. Bahkan di pintu belakang, dekat dapur.

Sekilas terlihat seperti denyut ekonomi rakyat. Seperti kabar baik. Tapi kalau kita mendekat, ceritanya tidak sesederhana itu.

Di balik ramainya lapak kue, kopi gerobak, dan es serut, ada tekanan ekonomi yang makin menyesak. Banyak UMKM mikro tidak lahir dari keberanian mengambil peluang, tapi dari sempitnya pilihan.

Bukan mimpi besar. Lebih sering: “yang penting bisa jalan dulu”.

Ketika negara bicara soal pertumbuhan, banyak orang muda dan keluarga kecil bicara soal bertahan. Di antara dua bahasa itu, lahirlah UMKM makanan kecil—reaksi darurat atas hidup yang makin mahal.

Berputar di Tempat
Mari jujur sejak awal. Ini bukan soal menyalahkan pelaku UMKM. Ini soal struktur.

UMKM mikro—kue rumahan, gorengan, kopi gerobak—umumnya beroperasi di lingkungan padat, dengan daya beli rendah. Produknya murah, cepat habis, mirip satu sama lain, dan sangat sensitif harga.

Pembelinya? Ya, orang-orang di kelas yang sama.

Akhirnya terbentuk sirkulasi ekonomi horizontal: orang kecil melayani orang kecil, uang berputar pendek, habis hari itu juga.

Ekonomi bergerak, tapi tidak mendaki. Bukan karena UMKM mikro tidak kreatif. Tapi karena akses ke pasar yang lebih mapan memang mahal. Masuk ke kelas menengah-atas butuh standar mutu, konsistensi rasa, kemasan, branding, kepercayaan, dan distribusi.
Semua itu butuh modal, pendampingan, dan waktu—tiga hal yang jarang dimiliki UMKM mikro, dan jarang disediakan negara secara serius.

Maka lahirlah situasi pahit tapi nyata:
kemiskinan yang saling menghidupi kemiskinan.

Bukan Pengangkat
Di titik ini penting untuk adil. Pelaku UMKM tidak salah. Mereka bermain di lapangan sempit yang memang disisakan untuk mereka.

Masalah muncul ketika negara merasa cukup dengan statistik: jumlah UMKM naik, baliho dipasang, slogan dirayakan. Tanpa tangga sosial-ekonomi yang jelas, UMKM mikro lebih berfungsi sebagai peredam ledakan sosial daripada mesin kesejahteraan.

Orang sibuk jualan, tidak menganggur. Tapi juga tidak benar-benar naik kelas. Yang lebih berbahaya: kondisi ini dianggap normal, bahkan dipuji.
Padahal ia menandai kegagalan kebijakan yang lebih dalam.
Ledakan UMKM makanan belakangan ini lebih mirip mekanisme bertahan hidup ketimbang tanda ekonomi rakyat yang sehat.

Berhenti di Slogan
Ada beberapa lapis masalah yang sering disederhanakan. Pertama, UMKM makanan sebagai ekonomi darurat.
Ambang masuknya rendah. Tidak butuh teknologi. Tidak perlu izin rumit. Modal bisa dicicil dari tabungan tipis.
Ini ciri ekonomi tertekan—bukan ekonomi yang sedang naik daun.
Kedua, absennya negara di level paling krusial.

UMKM disebut tulang punggung ekonomi, tapi banyak yang tidak bankable, terlalu kecil untuk program besar, dan tidak cocok dengan narasi digitalisasi yang sedang digemari.
Negara hadir di baliho, absen di lapak. Ketiga, masalahnya bukan jumlah, tapi kualitas dan daya tahan.

Produk homogen, margin tipis, mudah mati saat harga bahan naik atau tren bergeser. Ini bukan ekosistem sehat, tapi kompetisi sesama orang kecil yang berebut dompet orang kecil juga.

Keempat, bahaya romantisasi UMKM.
Ketika UMKM mikro terus dipuja tanpa kritik, kegagalan negara ditutup oleh heroisme rakyat. Rakyat dipaksa adaptif dan kreatif, sementara kebijakan struktural mandek.

Bukan Solusi
Pada akhirnya, banyak UMKM makanan hari ini adalah gejala, bukan solusi. Ia tanda bahwa tekanan ekonomi nyata dirasakan di bawah, sementara intervensi negara masih setengah hati. Yang perlu dikritik bukan orang yang jual jajanan pasar, kopi, atau es.
Mereka ini pejuang.

Yang perlu ditelisik adalah sistem yang membiarkan mereka berjuang sendirian. UMKM mikro tidak salah. Yang menyedihkan adalah ketika negara merasa cukup dengan memuji ketangguhan rakyat, tanpa menyediakan tangga untuk naik kelas.

Selama orang miskin hanya melayani orang miskin, ekonomi boleh bergerak, tapi keadilan tetap diam. Menjual kue, kopi, atau es bukan masalah.

Masalahnya adalah ketika itu menjadi satu-satunya jalan yang tersedia.
Jika UMKM terus dirayakan tanpa keberanian mengakui akar persoalannya, yang kita rawat bukan kesejahteraan, melainkan kepasrahan.
Dan dari kepasrahan itulah, masa depan yang rapuh perlahan dibangun.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.