KabarBaik.co, Surabaya – Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini memberikan apresiasi tinggi terhadap pengembangan kampung tematik di Surabaya, Jawa Timur. Ia menilai inisiatif berbasis komunitas ini memiliki potensi besar untuk bertransformasi menjadi desa wisata yang mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat lokal secara berkelanjutan.
Hal tersebut ditegaskan Novita saat melakukan kunjungan kerja Komisi VII DPR RI ke Kampung Batik Okra, Surabaya, Selasa (10/2).
Menurut Novita, ekosistem yang terbentuk di wilayah tersebut sudah sangat siap menjadi destinasi wisata berbasis komunitas.
“Saya melihat banyak peluang ekonomi yang bisa berdampak langsung bagi masyarakat. Di sini bukan hanya ada aktivitas membatik, tetapi juga UMKM kopi dan kuliner yang digerakkan oleh warga setempat,” ujar Novita.
Dorong Peningkatan PAD
Novita menekankan bahwa pengembangan desa wisata yang lahir dari inisiatif warga tidak hanya memberikan manfaat finansial bagi individu, tetapi juga membantu pemerintah daerah dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Baginya, kekuatan desa wisata terletak pada pengalaman autentik yang ditawarkan kepada pengunjung.
“Desa wisata tidak hanya dinilai dari keindahan lingkungan, tetapi dari aktivitas kreatifnya. Wisatawan bisa belajar membatik langsung atau mengenal produk UMKM lokal. Pengalaman seperti inilah yang dicari,” tambahnya.
Menariknya, daya tarik Kampung Batik Okra telah menjangkau skala internasional. Novita mengungkapkan bahwa mayoritas pengunjung justru berasal dari institusi pendidikan di Jakarta, bahkan hingga wisatawan mancanegara yang datang khusus untuk belajar membatik dan berbelanja produk lokal.
Dukungan Pemerintah Pusat
Komisi VII DPR RI pun mendorong pemerintah, khususnya melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, untuk memberikan dukungan penuh. Optimalisasi desa wisata yang telah diakui secara nasional diharapkan mampu membawa nama Indonesia bersaing di tingkat global.
Di sisi lain, Pendiri Kampung Batik Okra, Ridi Sulaksono, menjelaskan bahwa fokus utama mereka saat ini adalah pelestarian budaya. Sebagai Ketua RW 1 Kampung Pancasila Kranggan, ia membangun kampung ini dengan semangat komunal.
“Kami fokus pada pelestarian budaya, sehingga urusan omzet atau pendapatan itu nomor dua. Mungkin ke depan baru bisa diarahkan ke skala industri,” tutur Ridi.
Meski dikelola dalam skala wilayah RW, ia menyebut produk batik hasil karya warganya kini telah tersebar di hampir semua benua dan berbagai pelosok Indonesia. (*)






