KabarBaik.co– Di bawah sorot terang lampu arena, sosok Shella Bernadheta Onan berdiri tegak bak menara di jantung pertahanan Gresik Phonska Plus Pupuk Indonesia. Musim ini, kepindahannya ke Kota Pudak bukan sekadar perpindahan seragam. Tapi, seolah sebuah pernyataan menyala bagi tim-tim lawan.
Ya, Shella datang tidak hanya membawa sepatu voli dan jersei barunya. Biru, kuning, dan pink. Shella juga seperti membawa “aura emas” yang selama ini melekat erat pada garis tangan kariernya.
Lahir di Bandung pada 31 Oktober 1999, atlet berdarah Nusa Tenggara Timur ini telah menjelma menjadi salah satu srikandi voli tanah air dengan banyak fans. Memiliki tinggi badan mencapai 177 cm, Shella adalah definisi dari ketenangan di tengah badai. Di atas lapangan, ia adalah seorang penyihir transisi; satu detik bisa meredam spike keras lawan dengan blok yang kokoh layaknya tembok karang, dan detik berikutnya terbang melakukan quick attack yang menyambar lantai lawan seperti kilat di sore hari.
Rekam jejaknya adalah narasi tentang kejayaan. Shella bukanlah sekadar pelengkap tim, melainkan kepingan puzzle kemenangan. Tiga mahkota Proliga telah direngkuh, sebuah pencapaian yang membuktikan bahwa di mana pun berpijak, trofi seolah selalu ingin mendekat. Dimulai dari debut manis bersama Jakarta Electric PLN pada 2017, hingga menjadi jangkar utama saat Bandung BJB Tandamata meraih kejayaan beruntun pada 2022 dan 2023. Kini, bersama Gresik Phonska Plus, tentu juga mengincar cincin juara keempatnya, sebuah mimpi yang butuh dipupuk dengan disiplin baja di bawah arahan pelatih Alessandro Lodi.
Namun, Shella lebih dari sekadar statistik poin dan blok. Dia adalah bumbu yang menghidupkan suasana di lapangan. Di tengah ketegangan poin-poin kritis, seringkali memecah kebuntuan mental dengan tarian kecil atau senyuman yang kini menjadi ciri khasnya. “Goyangan” Shella bukan sekadar aksi teatrikal, melainkan metafora dari kegembiraannya bermain voli, sebuah pengingat bahwa di balik kompetisi yang ganas, ada jiwa-jiwa yang mencintai permainan ini dengan tulus.
Kehidupan di luar lapangan pun tak kalah berwarna, walaupun tak jarang diterjang ombak rumor. Hubungan asmaranya yang sempat menjalin kasih dengan pesepak bola Bagus Kahfi sempat menjadi konsumsi publik yang riuh di jagat maya. Namun, Shella menghadapi sorotan kamera dengan kedewasaan seorang veteran. Baginya, kehidupan pribadi adalah ruang teduh, sementara lapangan voli adalah panggung di mana semua tertuntut harus tampil totalitas tanpa sisa.
Shella juga telah menyelesaikan pendidikan tingginya dan resmi menyandang gelar SIP dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Ahmad Yani. Ia melaksanakan prosesi wisuda pada November 2025 lalu. Keberhasilan ini menjadi catatan inspiratif bagi para penggemarnya, mengingat Shella mampu menyeimbangkan jadwal latihan dan kompetisi yang sangat padat sebagai atlet profesional dengan kewajiban akademisnya.
Momen kelulusannya sempat dibagikan di media sosial. Tampak anggun mengenakan toga dan kebaya. Bagi Shella, gelar sarjana ini tentu penting sebagai “investasi masa depan” yang dipersiapkan untuk kehidupan setelah gantung sepatu dari dunia voli nanti.
Di musim 2026 ini, Shella Bernadheta bukan lagi sekadar talenta muda yang menjanjikan, melainkan bagian dari jenderal di lini tengah yang sudah makan asam garam kompetisi. Kehadirannya di Gresik Phonska Plus telah menyuntikkan kepercayaan diri bagi rekan-rekan setimnya. Jika konsistensinya tetap terjaga, bukan tidak mungkin sejarah akan kembali terulang: tangan dingin Shella akan kembali mengangkat piala ke langit, membuktikan bahwa sang “Ratu Quicker” memang ditakdirkan untuk selalu berada di puncak klasemen.
Saat ini, per 18 Januari, Gresik Phonska Plus, tampil sempurna. Tiga kali main, tiga kali menang, dengan 9 poin. Capaian ini menempatkan tim “Silent Killer” di posisi teratas klasemen Proliga 2026. Jika Shella dan kawan-kawan, tampil konsisten, maka tropi juara untuk Gresik Phonska Plus di depan mata. Sudah cukup runner-up hingga enam kali. (*)








