KabarBaik co – Banjir kembali melanda Dusun Ketapang Rejo, Desa Ketapang Kuning, Ngusikan, Jombang. Genangan air mulai muncul sejak Minggu (11/1) pagi dan mencapai puncaknya pada Selasa (13/1) pagi dengan ketinggian air mencapai selutut orang dewasa.
Ahmad, salah satu warga setempat, mengatakan banjir kali ini merupakan banjir tahunan yang kerap terjadi di wilayah tersebut. Namun, ia menilai kondisi banjir tahun ini lebih parah dibandingkan sebelumnya.
“Ini memang banjir tahunan, tapi sudah yang kedua. Yang pertama terjadi November 2025, tapi tidak separah sekarang,” kata Ahmad,
Banjir tidak hanya merendam area persawahan, tetapi juga masuk ke rumah-rumah warga. Ilham, warga lainnya, menyebut air mulai menggenangi permukiman sejak Senin (12/1) sore dan semakin tinggi pada malam hari.
“Kemarin sore air mulai masuk. Malamnya sudah ada beberapa rumah yang terendam sampai bawah lutut,” ujarnya.
Menurut Ilham, tidak semua rumah terdampak dengan tingkat keparahan yang sama. Rumah dengan posisi lebih tinggi relatif aman dari genangan, sementara rumah di dataran rendah kemasukan air.
“Tergantung posisi rumahnya. Kalau rumahnya lebih tinggi tidak masuk air, tapi yang rendah hampir sebagian besar kemasukan,” jelasnya.
Warga berharap pemerintah dan pihak terkait dapat segera memberikan solusi agar banjir tahunan ini tidak terus berulang, terutama karena berdampak pada lahan pertanian dan perekonomian warga.
“Harapan kami ada solusi supaya warga dan petani tidak terus dirugikan setiap banjir datang,” tambah Ilham.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Jombang Wiku Birawa Felipe Diaz menjelaskan banjir di wilayah utara Kecamatan Ngusikan, termasuk Desa Ketapang Kuning, disebabkan oleh pergeseran aliran air dari sejumlah wilayah lain.
“Ketapang Kuning ini merupakan daerah akhir aliran air dari wilayah Marmoyo, Ploso, Kudu, dan sekitarnya. Air bergeser dan akhirnya berkumpul di sini,” jelas Wiku.
Ia menambahkan wilayah tersebut juga berbatasan langsung dengan Kabupaten Mojokerto yang memiliki sistem pengaturan air tersendiri, sehingga turut memengaruhi kondisi banjir.
“Untuk kondisi di perkampungan saat ini sudah mulai berangsur surut. Namun, genangan masih terjadi di area persawahan,” katanya.
Menurut Wiku, karena menjadi titik akhir aliran air, durasi genangan di Desa Ketapang Kuning cenderung lebih lama dibanding wilayah lainnya.
“Proses akhir aliran memang di Ketapang Kuning, sehingga genangannya bisa lebih lama. Tapi saat ini kondisinya sudah mulai surut,” pungkasnya. (*)








