KabarBaik.co- Di kampung tua pesisir Selatan Kebumen, ada satu kebiasaan turun-temurun yang diam-diam masih dijalani sebagian orang tua: mengantongi batu kecil saat bepergian jauh atau menempuh hutan, terutama jika tidak ada tempat buang air yang layak.
Batu itu disebut Watu Dudu, atau secara harfiah berarti batu duduk, tapi fungsinya justru sebaliknya: mencegah orang duduk untuk buang hajat sebelum waktunya. Anehnya, batu itu bukan ditaruh di tangan atau di tas melainkan diselipkan ke dalam saku celana, dekat pinggul kanan. Karena menurut kepercayaan warga, letak batu akan memengaruhi saluran niat dari dalam tubuh.
Bukan Menahan, Tapi Menyegel
Warga percaya, batu itu bukan sekadar menahan keinginan buang air. Ia menyegel lubang ke bawah agar tidak dimanfaatkan oleh makhluk-makhluk halus yang kerap mengikuti manusia dalam keadaan lemah.
Orang yang sedang kebelet tapi tidak bisa buang air itu paling rawan dimasuki makhluk gentayangan, ujar Mbah Roko, juru rawat makam tua di desa Karangduwur. Mereka senang tempat yang gelap, lembap, dan terbuka dari dalam.
Jangan Digunakan Saat Lewat Makam atau Sumur Tua
Watu Dudu tidak boleh dibawa saat melewati tempat wingit seperti komplek pemakaman, pohon beringin besar, atau sumur tua. Alasannya? Karena batu yang bekerja menahan hajat juga bisa menyerap keinginan lain yang bukan milik si pembawa.
Ada cerita tentang seorang santri muda yang mengantongi batu saat melintasi kuburan tua. Sejak hari itu, ia tidak bisa buang air besar selama tiga minggu, dan setiap malam mendengar suara ceburan air dari bawah ranjang. Ketika batunya akhirnya dibuang, ia buang air dalam posisi tertidur, dan tubuhnya lemas seperti habis melahirkan.
Batu yang Menuntut Dilepaskan
Warga yang biasa membawa batu ini tahu satu hal penting: batunya harus dilepaskan sebelum magrib, atau akan sulit dilepaskan secara batin. Jika lupa, maka malamnya pembawa batu akan bermimpi menahan buang air dalam toilet yang tak pernah selesai dibangun dan rasa mulesnya akan terus terbawa saat bangun.
Dibungkus Kain Putih, Tidak Boleh Dimasukkan ke Dompet
Watu Dudu tidak boleh dicampur dengan benda lain, terutama uang atau logam. Jika dimasukkan ke dompet, dipercaya bisa membuat rezeki seret karena energi batu menahan aliran, bukan hanya hajat, tapi juga kelancaran.
Batu itu biasanya dibungkus kain putih kecil, lalu disimpan dalam saku terpisah. Saat tidak digunakan, ia ditaruh di atas genteng selama malam Jumat Kliwon agar tidak terlalu haus.
Antara Etika dan Energi
Bagi warga desa, membawa batu penahan hajat bukan sekadar urusan sopan santun. Itu cara menjaga tubuh dari kehinaan dan dari yang tak kasat mata. Karena di balik keinginan sederhana manusia untuk buang air, ada titik rawan di mana tubuh terbuka dan yang menunggu tak selalu terlihat.
Karena itu, batu yang tampak sepele itu tak pernah benar-benar dibiarkan begitu saja. Sebab saat tubuh ingin melepaskan, kadang yang datang lebih dulu adalah sesuatu yang ingin masuk.







