Bawa Manfaat Lingkungan dan Ekonomi, Mahasiswa Untag Surabaya Ajarkan Ibu-Ibu PKK Kedungudi Olah Limbah Organik dengan Cacing ANC

oleh -23 Dilihat
IMG 20260109 WA0030
Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya saat memberi pelatihan anggota PKK Desa Kedungudi di Kecamatan Trawas, Mojokerto

KabarBaik.co – Setiap hari, Suwandewi dan ibu-ibu anggota PKK Desa Kedungudi di Kecamatan Trawas, Mojokerto, menghadapi tumpukan limbah organik dari rumah tangga dan kebun mereka. Limbah yang terkadang terbuang sia-sia, kini bisa diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Keberadaan cacing ANC yang diberikan oleh mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya membuka peluang baru bagi mereka untuk mengelola limbah organik dengan cara yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga mereka.

Pada 9 Januari 2026, program pengabdian masyarakat Pengolahan Limbah Organik Menjadi Vermicompost Menggunakan Media Cocopeat Berbasis Cacing ANC dimulai di Desa Kedungudi. Dilaksanakan oleh Bayu Kusuma, Selvia Natalie Putri, Erena Melinda Putri, Adinda Zahra May Shesa, dan Mohammmad Ivan Hariansyah, program ini menyasar ibu-ibu PKK sebagai mitra utama, yang sehari-hari berhadapan dengan limbah organik rumah tangga.

Selama pelatihan ini, mereka belajar cara memanfaatkan cacing ANC—cacing yang dikenal dengan kemampuannya mengurai limbah organik menjadi pupuk yang kaya akan nutrisi.

Bagi Suwandewi, program ini merupakan angin segar. “Kami biasanya membuang limbah organik begitu saja. Sekarang, kami tahu bagaimana cara mengolahnya menjadi pupuk vermikompos yang tidak hanya berguna untuk kebun, tapi juga bisa digunakan untuk pakan ternak. Ini benar-benar bermanfaat,” ungkap Suwandewi dengan senyum lebar.

Selama ini, limbah organik di Desa Kedungudi sering kali terabaikan, dan masyarakat belum tahu bagaimana cara mengolahnya dengan baik. Dengan pengajaran dari mahasiswa Untag, mereka kini tahu bahwa cacing ANC bisa menjadi solusi cerdas untuk mengubah limbah tersebut menjadi vermicompost—pupuk organik yang berkualitas tinggi dan ramah lingkungan.

“Pelatihan ini sangat praktis. Kami tidak hanya belajar cara budidaya cacing, tetapi juga bagaimana cacing bisa membantu mengolah sampah organik menjadi sesuatu yang berguna. Tidak hanya untuk tanaman di kebun, tetapi juga untuk pakan ternak. Ini sangat berguna untuk meningkatkan kesejahteraan kami,” ujar Suwandewi, yang kini merasa lebih percaya diri dalam mengelola limbah yang selama ini terbuang sia-sia.

Naufal Abdillah, S.Kom., M.Kom., dosen pendamping program menjelaskan bahwa pengolahan limbah organik menjadi vermicompost ini adalah salah satu upaya yang dapat mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Selain memberikan keterampilan dalam budidaya cacing dan pengolahan limbah organik, kami juga mengajarkan masyarakat bagaimana cara menghasilkan produk yang dapat dijual atau digunakan untuk memperbaiki kualitas tanah,” jelasnya.

Program ini dimulai dengan pelatihan praktis yang melibatkan ibu-ibu PKK dalam mengolah limbah organik. Tidak hanya sebatas teori, para peserta juga diajari langsung cara budidaya cacing ANC, bagaimana mencampurkan cocopeat dengan limbah organik, dan teknik membuat pupuk vermikompos yang siap digunakan. Dengan pemahaman ini, para peserta diharapkan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, bahkan mengembangkan usaha kecil berbasis pengolahan limbah organik.

Ibu-ibu PKK Desa Kedungudi kini tidak hanya menjadi pengelola rumah tangga, tetapi juga pelopor dalam pengelolaan limbah yang lebih ramah lingkungan.

“Kami tidak perlu lagi bingung dengan limbah yang ada di rumah. Semua bisa dimanfaatkan menjadi pupuk yang bermanfaat. Ini menjadi kebiasaan baru bagi kami,” tutur Selvia, salah satu peserta pelatihan yang merasa sangat antusias dengan program ini.

Program ini juga membawa dampak ekonomi langsung, karena limbah organik yang dulunya tidak terpakai kini bisa diolah menjadi vermicompost yang bernilai ekonomis, baik untuk kebutuhan pribadi maupun dijual ke pasar.

Dengan program ini diharapkan lebih banyak desa di Mojokerto dapat terinspirasi untuk mengolah limbah mereka menjadi pupuk yang berguna. Program pengabdian ini menjadi contoh nyata bagaimana teknologi tepat guna dapat memberikan dampak yang luas, mengubah kebiasaan masyarakat, dan membuka peluang baru untuk kemandirian ekonomi berbasis lingkungan.

Kegiatan di Desa Kedungudi merupakan bagian dari rangkaian kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh mahasiswa Untag Surabaya di 23 desa yang tersebar di Kecamatan Trawas dan Pacet, Kabupaten Mojokerto.

Kegiatan ini melibatkan hampir 900 mahasiswa dengan total sekitar 150 luaran yang siap diterapkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Bentuk kegiatan meliputi penguatan nilai patriotisme, penerapan inovasi teknologi tepat guna, inovasi produk, serta pengembangan sumber daya manusia.

Seluruh kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut berada di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Untag Surabaya.

Dheny Jatmiko, S.Hum., M.A., Kepala Pusat Publikasi dan Kekayaan Intelektual Untag Surabaya menyampaikan bahwa kegiatan pengabdian ini merupakan perwujudan Kuliah Kerja Nyata (KKN) berbasis luaran.

“KKN yang beberapa waktu lalu kerap diberitakan dengan stigma negatif dan dianggap membebani masyarakat, kami coba buktikan bahwa KKN Untag Surabaya berbeda dan justru mampu membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan di desa, terutama yang berkaitan dengan pemanfaatan potensi lokal,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa meskipun waktu pelaksanaan kegiatan di desa hanya berlangsung selama 12 hari, seluruh program telah dirancang dan dipersiapkan selama kurang lebih empat bulan di kampus.

“Kami memastikan seluruh kegiatan siap diterapkan. Program dirancang melalui pendekatan bottom-up, berangkat dari permasalahan mitra, bukan dari kehendak pelaksana,” tambahnya.

Dengan waktu pelaksanaan yang relatif singkat, kegiatan pengabdian diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan efisien serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Kepala Desa Kedungudi, H. Dul Mukti, juga mengapresiasi program ini, yang dinilai sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa.

“Kami berharap kegiatan ini dapat dilanjutkan dan dikelola secara mandiri oleh warga setelah KKN ini selesai. Ini adalah langkah kecil yang memiliki dampak besar,” ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.