Seni Kepemimpinan Bima Arya dan Gus Fawait dalam Merajut Kepemimpinan Daerah

oleh -87 Dilihat
Gus Fawait bersama Wamendagri RI Bima Arya Sugiarto. (Ist)

KabarBaik.co, Jember – Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember menjadi saksi diskusi mendalam mengenai seni kepemimpinan.

Bupati Jember, Gus Fawait, hadir langsung dalam bedah buku Babad Alas yang menghadirkan Wakil Menteri Dalam Negeri RI Bima Arya Sugiarto sebagai penulis sekaligus pembicara utama.

Kegiatan ini bukan sekadar diskusi literasi, melainkan ruang refleksi atas dinamika dan kompleksitas yang dihadapi para kepala daerah di Indonesia.

Bima Arya menekankan bahwa memenangkan kontestasi politik hanyalah permulaan. Tantangan sesungguhnya justru muncul saat roda pemerintahan mulai berjalan.

“Beratnya kampanye itu tidak seujung kuku dibandingkan menjalankan pemerintahan. Saat kampanye, lawan terlihat jelas. Namun saat memimpin, garis antara kawan dan lawan seringkali kabur,” ungkap Bima.

Ia mengatakan analogi itu mengambil inspirasi dari tokoh Bima yang membuka Alas Amarta. Ia menegaskan bahwa keberanian tanpa kebijaksanaan hanya akan membawa kerusakan. Bima menekankan pentingnya inklusivitas dan konsistensi antara pikiran, ucapan, serta tindakan dalam setiap kebijakan publik.

Menanggapi paparan tersebut, Bupati Gus Fawait mengakui bahwa pengalaman Bima Arya merupakan cermin bagi tantangan yang ia hadapi di Kabupaten Jember.

Ia menyoroti tiga isu krusial yang menjadi prioritasnya: kemiskinan ekstrem, stunting, dan kesehatan ibu-anak.

“Kami mengawali kepemimpinan dengan fokus pada reformasi pelayanan publik sebagai fondasi dasar pembangunan,” ujar Gus Fawait.

Pemkab Jember sendiri telah melakukan capaian stategis, seperti transformasi sektor kesehatan, di mana optimalisasi jaminan kesehatan daerah hingga mencapai Universal Health Coverage(UHC), memastikan pengobatan gratis bagi masyarakat sekaligus memperkuat operasional RSUD.

“Ada juga Adminduk Jemput Bola, memangkas birokrasi dengan mendekatkan layanan administrasi kependudukan hingga ke tingkat kecamatan dan desa,” ungkap Gus Fawait.

Selain itu, kemandirian fiskal dengan mendorong peran BUMD bukan hanya sebagai pemburu laba, melainkan instrumen strategis untuk menggerakkan sektor ekonomi yang tidak tersentuh swasta.

“Yang terakhir kenaikan PAD, satu tahun terakhir, PAD Jember menunjukkan kenaikan signifikan, memperkuat kapasitas fiskal untuk pembangunan berkelanjutan,” tegasnya.

Kegiatan bedah buku ini menjadi momentum refleksi bersama antara pengalaman kepemimpinan nasional dan dinamika pemerintahan daerah.

Korelasi pengalaman Bima Arya dan perjalanan kepemimpinan Muhammad Fawait menunjukkan bahwa kepemimpinan daerah menuntut keberanian, keteguhan nilai, serta kemampuan merumuskan strategi pembangunan yang berpihak kepada masyarakat. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dwi Kuntarto Aji
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.