KabarBaik.co- Hiruk-pikuk dukungan pada Timnas Indonesia bakal segera bergemuruh lagi. Setelah riuh kandas menuju Piala Dunia 2026, kini Skuad Garuda memasuki fase penting dalam perjalanannya. Yakni, menatap Piala Asia 2027 di Arab Saudi. Laga ini bukan sekadar turnamen empat tahunan, melainkan panggung pembuktian bahwa lompatan prestasi yang ditorehkan dalam beberapa tahun terakhir bukan kebetulan semata.
Bahkan, kali ini Garuda datang dengan wajah baru di pinggir lapangan: John Herdman, pelatih berpengalaman di level internasional yang dipercaya PSSI untuk memimpin transisi menuju level kompetisi Asia yang lebih tinggi. Herdman resmi diumumkan PSSI, menggantikan Patrick Kluvert, pelatih asal Belanda, yang dicopot setelah Timnas gagal menembus kualifikasi babak keempat Piala Dunia 2026 zona Asia.
Kualifikasi ke Piala Asia 2027 sendiri sudah memastikan Indonesia kembali berada di antara 24 negara terbaik Asia. Artinya, untuk dua edisi beruntun, Indonesia tampil di putaran final, yang sejatinya dulu merupakan capaian langka.
Namun, tantangan ke depan jelas tidak ringan. Berdasarkan peringkat FIFA dan proyeksi AFC, Indonesia hampir pasti masuk pot undian terbawah saat drawing fase grup yang dijadwalkan berlangsung pada 2026. Konsekuensinya, Indonesia berpeluang satu grup dengan tim-tim elite Asia seperti Jepang, Korea Selatan, Iran, Arab Saudi, atau Australia. Situasi ini menuntut kesiapan taktik, mental, dan kedalaman skuad yang jauh lebih matang dibanding sebelum-sebelumnya.
Jika menengok ke belakang, sejarah Indonesia di Piala Asia memang panjang, tetapi tidak selalu manis. Debut pada 1996 disusul penampilan di edisi 2000, 2004, dan 2007—yang saat itu digelar di kandang sendiri—belum mampu membawa Indonesia melampaui fase grup. Baru pada 2023, di bawah asuhan Shin Tae-yong (STY), Garuda mencetak tonggak sejarah. Lolos ke babak 16 besar untuk kali pertama. Meski langkah itu terhenti oleh Australia, pencapaian ini menjadi validasi bahwa Indonesia mulai mampu bersaing secara nyata di panggung Asia, bukan sekadar pelengkap turnamen.
Era STY meninggalkan fondasi penting. Pasalnya, telah membentuk kerangka tim yang lebih disiplin, berani memainkan pemain muda, serta membuka pintu bagi pemain diaspora untuk memperkuat kualitas skuad. Nama-nama seperti Marselino Ferdinan, Witan Sulaeman, hingga lini belakang yang diperkuat pemain berpengalaman dan naturalisasi, menjadi simbol perubahan arah Timnas Indonesia. Namun, konsistensi permainan, transisi menyerang, dan kedalaman skuad, masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya tuntas.
Di sinilah John Herdman diharapkan memberi warna baru. Berbekal reputasi sebagai pelatih yang sukses membangun Timnas Kanada hingga menembus Piala Dunia, Herdman datang bukan hanya membawa pendekatan taktik, melainkan juga filosofi pembangunan tim jangka menengah. Dia dikenal sebagai pelatih yang menekankan budaya tim, manajemen pemain, serta kesinambungan antara tim senior dan kelompok usia di bawahnya. Mazhab footbaal intelligent (sepak bola IQ).
Dalam konteks Indonesia, pendekatan ini dinilai krusial mengingat stok pemain muda yang sebetulnya cukup melimpah, namun membutuhkan jalur transisi yang jelas menuju level tertinggi.
Di bawah Herdman, Timnas Indonesia diproyeksikan bermain lebih fleksibel. Tidak terpaku pada satu sistem, tetapi mampu menyesuaikan diri dengan karakter lawan. Terutama di turnamen besar seperti Piala Asia. Fokus pada penguasaan bola yang lebih rapi, transisi cepat, serta organisasi bertahan yang solid, menjadi agenda utama, tanpa meninggalkan ciri khas energi dan agresivitas yang selama ini melekat pada Garuda.
Skuad yang akan dibawa ke Piala Asia 2027 kemungkinan besar merupakan evolusi dari tim era sebelumnya. Pilar-pilar lama masih akan menjadi tulang punggung, tetapi ruang kompetisi terbuka lebar bagi pemain muda yang matang di level U-23 dan kompetisi internasional. Herdman juga diperkirakan memaksimalkan FIFA Matchday untuk uji coba melawan tim-tim dengan level lebih tinggi, demi mengerek kualitas permainan sekaligus mendongkrak peringkat FIFA Indonesia sebelum undian dilakukan.
Dengan status sebagai tim pot bawah dan sejarah yang masih terbatas di fase gugur, ekspektasi terhadap Indonesia di Piala Asia 2027 memang harus realistis. Namun, setelah menembus 16 besar pada edisi sebelumnya, target untuk kembali lolos dari fase grup—bahkan melangkah lebih jauh—bukan lagi mimpi kosong. Turnamen di Arab Saudi itu akan menjadi ujian apakah Timnas Indonesia benar-benar siap naik kelas, dari tim kejutan menjadi kekuatan yang diperhitungkan secara konsisten.
Peluang Pemain Baru
Peluang menambah pemain naturalisasi baru untuk Timnas Indonesia disebut masih terbuka. Namun, arahnya kini cenderung lebih selektif dan strategis dibanding beberapa tahun lalu. Di bawah John Herdman, naturalisasi tidak diposisikan sebagai solusi instan, melainkan alat pelengkap untuk menutup celah kualitas tertentu. Herdman punya rekam jejak jelas soal ini. Saat menangani Kanada, dia memang memanfaatkan pemain diaspora, tetapi selalu dengan prinsip fit to system dan long-term impact. Pola pikir inilah yang kemungkinan besar dibawa ke Indonesia.
Secara kebutuhan tim, banyak pengamat menyebut ada tiga area utama yang paling berpeluang diisi pemain naturalisasi baru menjelang Piala Asia 2027. Pertama, penyerang tengah (nomor 9). Hingga kini, Indonesia masih bergantung pada kolektivitas dan bukan striker tajam yang konsisten di level Asia. Jika ada pemain diaspora berdarah Indonesia yang bermain reguler di liga Eropa atau Amerika dengan profil target man atau striker box-to-box, peluang diproses sangat besar. Ini sejalan dengan tantangan Indonesia yang kerap kesulitan mencetak gol saat menghadapi tim elite Asia.
Kedua, gelandang bertahan atau box-to-box berpengalaman. Era STY sudah memperbaiki struktur lini tengah, tapi melawan tim-tim pot 1 dan pot 2 Piala Asia, duel fisik dan kontrol tempo menjadi krusial. Herdman dikenal menyukai gelandang yang cerdas secara taktik dan disiplin posisi. Kalau ada diaspora dengan kualitas seperti ini, rasanya naturalisasi akan dipertimbangkan, terutama untuk turnamen jangka pendek seperti Piala Asia.
Ketiga, bek kiri atau bek sayap modern. Posisi ini masih fluktuatif dalam skuad Indonesia. Di level Asia, fullback dituntut bukan hanya bertahan, tetapi juga menjadi outlet serangan. Tambahan satu pemain dengan pengalaman kompetisi tinggi bisa memberi keseimbangan signifikan.
Namun, yang membedakan era Herdman dengan sebelumnya adalah pagar kebijakan. Naturalisasi tidak lagi dilakukan massal. PSSI dan tim pelatih cenderung memprioritaskan pemain diaspora usia produktif (22–28 tahun), memastikan komitmen jangka menengah, bukan hanya satu turnamen, dan tidak menutup jalur pemain lokal serta U-23 yang sedang berkembang. Artinya, naturalisasi baru bukan pengganti pemain lama, melainkan kompetitor langsung yang memaksa peningkatan level internal skuad. Ini penting agar tidak mematikan regenerasi yang justru menjadi kekuatan Indonesia pasca 2023.
Dari sisi waktu, jika memang ada tambahan pemain naturalisasi, momentumnya ideal pada 2026, sebelum drawing Piala Asia dan rangkaian uji coba internasional. Itu memberi waktu adaptasi taktik tim, sesuatu yang sangat ditekankan Herdman dalam kariernya. Singkatnya, peluang naturalisasi baru masih ada dan realistis, tetapi bukan dalam jumlah besar. Jika terjadi, itu akan bersifat tepat sasaran, mengisi kebutuhan spesifik, dan diarahkan untuk membuat Timnas Indonesia lebih kompetitif di fase gugur Piala Asia 2027, bukan sekadar lolos grup.
Kabar tentang calon pemain naturalisasi baru bererdar dari Cape Verde. Sedang ramai dibahas dan menjadi potensi nyata menjelang era Herdman. Nama yang kini jadi fokus perhatian adalah Danilson Soares Silva, gelandang berusia 23 tahun yang punya darah Indonesia dari sang nenek yang lahir di Bandung sekaligus darah Cape Verde dari pihak ayahnya. Saat ini, dia bermain di Liga Gibraltar bersama Bruno’s Magpies, dan secara terbuka menyatakan kesiapannya membela Timnas Indonesia jika PSSI memanggilnya.
Menariknya, Danilson bahkan dikabarkan rela menolak panggilan dari Timnas Cape Verde, yang justru baru saja memastikan diri tampil di Piala Dunia 2026. Dia lebih ingin menunggu kesempatan bermain untuk Indonesia, meski peluang tampil di Piala Dunia bersama Cape Verde cukup besar. Namun, perlu juga dicatat perkembangan kebijakan terbaru dari PSSI.
Yang pasti, di tengah panas gurun dan kerasnya persaingan Asia, Piala Asia 2027 akan menjadi panggung penentu. Apakah era baru bersama John Herdman mampu melanjutkan, bahkan melampaui, warisan yang ditinggalkan pelatih sebelumnya. Satu hal tentu jutaan masyarakat bola tanah air tentunya menaruh harapan bahwa Garuda tidak lagi datang hanya untuk belajar. Tapi, sudah lama lapar prestasi. (*)






