Entah sudah berapa banyak usaha kerajinan tangan di berbagai pelosok negeri kita yang gulung tikar. Para perajin tak kuasa menghadapi kenyataan bahwa produk kerajinan tangan mereka sudah disaingi produk pabrikan.
Ya! Tidak tanggung-tanggung. Pesaing yang mesti dihadapi industri rumahan bermodal cekak ini adalah industri besar alias pabrik.
Tali tampar rajutan mereka sudah digantikan tali plastik. Ember dan timba berbahan drum bekas beradu menarik dengan ember dan timba plastik produk pabrik. Nasib yang sama diderita cikrak, tampah, bahkan wadah yang dibuat dari anyaman janur sudah tersisih oleh barang yang sama berbahan plastik mirip janur.
Tentu saja orang boleh mengatakan “begitulah kemajuan zaman”, selalu ada yang menjadi korban. Bukankah taksi dan ojek pun harus bersaing dan tersisih oleh taksi dan ojek online. Ribuan kios warnet pun harus tutup kios ketika udara sudah dipenuhi jaringan wi-fi.
Sampai-sampai penjual dawet pun sudah mengganti gentong tanah liatnya dengan gentong plastik berwarna tanah. Untung cendolnya bukan dari plastik.
Pertanyaan yang menggelitik ketika melihat di balik kemajuan itu adalah hilangnya sumber pendapatan yang diderita para perajin cikrak, tampah, bakul, timba berbahan baku anyaman bambu.
Porsi Perajin
Secara sukarela atau sukar rela, faktanya sumber penghasilan dari kerajinan tangan mereka sudah tergusur oleh produk pabrik. Para perajin alat rumah tangga seperti cikrak, tampah berbahan bambu, timba dari bekas drum, berhenti berputar sejak pabrik ikut-ikutan memproduksinya dengan harga lebih menawan.
“Seharusnya pemerintah melarang pabrik memproduksi barang yang menjadi porsi pengusaha kecil. Jangan lupa, matinya usaha mereka, berarti matinya sumber pangan keluarga,” ujar pengajar jurnalistik, Zainal Arifin Emka, dalam keterangannya kepada KabarBaik.co, Rabu (17/9).
“Akh! Tak kusangka, ternyata cara berpikirmu masih sangat primitif ya. Kamu kayak baru keluar dari hutan saja.”
Oke lah. Masalah itu memang menyentuh inti dilema kebijakan industri. Gagasan melarang pabrikan memproduksi piranti sejenis umumnya dinilai tidak masuk akal. Juga dianggap bukan solusi yang efektif dalam jangka panjang.
Meski tujuannya mulia untuk melindungi industri rakyat, langkah proteksionisme seperti ini justru akan menimbulkan lebih banyak masalah daripada menyelesaikan akar masalahnya.
Kebijakan melarang juga tidak kondusif bagi iklim investasi. Investor domestik maupun asing akan khawatir bahwa sektor mereka suatu hari bisa dilarang hanya untuk melindungi kelompok tertentu.
Dengan menghilangkan kompetitor pabrikan, industri rakyat akan kehilangan rangsangan untuk berinovasi dan menekan harga. Konsumen akan dipaksa membeli produk dengan harga yang mungkin lebih mahal dan pilihan yang lebih terbatas.
“Jangan lupa, persaingan mendorong inovasi. Tanpa tekanan dari pesaing, bisa jadi tidak ada dorongan bagi industri rakyat untuk meningkatkan kualitas, desain, atau efisiensi,” kata Zainal.
Babat Habis
Ada masalah mendasar yang mesti ditangani. Seperti manajemen keuangan yang lemah, akses modal yang terbatas, teknologi produksi yang ketinggalan zaman, dan kemasan serta pemasaran yang seadanya. Industri rakyat justru menjadi ‘manja’ karena dilindungi secara artifisial, tidak alami. Bukan karena unggul secara kompetitif.
“Memangnya ada alternatif yang jauh lebih baik dan masuk akal,” tanya Zainal yang akrab dengan sebutan wartawan tua ini.
Zainal meminta pemerintah mengambil peran sebagai fasilitator dan pemberdaya. Ambil kebijakan yang lebih cerdas dan adil. Memberikan insentif. Berikan keringanan pajak atau subsidi untuk industri rakyat yang memenuhi kriteria tertentu. Misalnya, menggunakan bahan baku lokal, mempekerjakan tenaga kerja lokal.
Bisa juga dengan memberikan bantuan berupa pelatihan manajemen, akses kepada desainer produk, dan bantuan teknologi untuk meningkatkan efisiensi.
Pemerintah bisa mendorong program kemitraan. Di sini pabrikan besar justru dapat membina industri rakyat sebagai bagian dari rantai pasoknya atau dalam program Corporate Social Responsibility (CSR).
Babat habis segala sesuatu yang menghambat pertumbuhan industri rakyat. Di antaranya dengan mempermudah akses kepada Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga rendah.
“Bantu industri rakyat mendapatkan sertifikasi, seperti sertifikasi halal, SNI, atau sertifikasi ‘produk hijau’ untuk daur ulang yang menjadi nilai jual. Sertifikasi yang membantu, bukan menghambat,” lanjutnya.
Semua Menang
Dengan strategi yang benar, kita bisa meningkatkan kapasitas industri rakyat sehingga dapat menemukan ceruk pasar mereka sendiri. Bahkan bersaing secara sehat dengan keunggulan yang tidak dimiliki pabrikan. Apa itu?
“Keunikan, kustomisasi, cerita, dan nilai kemanusiawian,” kata Zainal.
Kemudian berceritalah tentang produk artisanal. Produk yang dibuat oleh perajin terampil dengan tangan, menggunakan metode tradisional, dan dengan bahan berkualitas tinggi atau bahan lokal. Hasilnya adalah produk yang unik, bernilai estetika tinggi, dan tidak diproduksi massal seperti produk pabrikan.
Dengan cara ini, yang menang adalah semua pihak. Industri rakyat tumbuh dengan sehat, pabrikan terus berinovasi, dan konsumen memiliki banyak pilihan sesuai kebutuhan dan isi dompet mereka.
Industri rakyat harus berhenti menjual ‘hanya timba’ dan mulai menjual sesuatu yang punya nilai lebih. Ubah timba menjadi pot tanaman. Buat barbeque grill portable dari drum bekas.
Menyimpan Cerita
“Satu lagi ide saya,” kata Zainal masih bersemangat.
Kuatkan aspek cerita. Orang modern membeli cerita dan nilai di balik produk. Ini adalah senjata utama industri rakyat. Tekankan bahwa produk mereka adalah pesan ramah lingkungan. Mereka menyelamatkan drum bekas dari menjadi sekadar sampah. Cerita ini sangat bertenaga untuk menarik konsumen yang sadar lingkungan.
Katakan bahwa setiap produk dibuat oleh tangan-tangan terampil perajin lokal, bukan mesin. Setiap produk memiliki ‘jiwa’ dan keunikan kecil yang tidak bisa diduplikasi pabrik.
Plastik akan selalu menjadi barang. Tapi sebuah tampah yang dianyam dengan tangan oleh seorang perajin yang telah menguasai teknik itu selama puluhan tahun, bukanlah sekadar barang. Setiap anyaman menyimpan cerita tentang sebuah keahlian yang diturunkan dari generasi ke generasi.
“Warisan budaya yang indah adalah kata kunci yang sangat bertenaga. Nilai inilah yang tidak akan pernah bisa dicetak oleh mesin pabrik manapun,” ujarnya.
Produk plastik menang di fungsi utamanya, sebagai wadah yang murah dan ringan. Tapi, produk bambu memiliki nilai-nilai lain yang tidak bisa digantikan plastik. Di situlah peluangnya. Saat ini, kita justru mulai melihat kebangkitan kembali produk-produk bambu ini. Bukan sebagai alat dapur semata, tetapi lebih dari itu.
Masalahnya bagaimana menjualnya. “Jangan hanya mengandalkan penjualan di pinggir jalan atau dari mulut ke mulut,” kata Zainal lugas.
Di zaman kemudahan media ini, kita bisa menggunakan platform media sosial sperti Instagram, TikTok, Facebook untuk menunjukkan proses pembuatan. Perlihatkan keterampilan para perajin, percikan api saat mengelas, dan transformasi dari drum bekas atau ban bekas menjadi produk cantik. Ini membangun koneksi emosional.
Pergeseran Nilai
“Saya pun pernah menangis melihat penjual cobek yang lewat di depan rumah. Nyaris tanpa pembeli. Jalan untuk membantunya bukan sekadar membeli dagangannya. Toh kita tak butuh ganti cobek sebulan sekali,” katanya.
Bantu menemukan desain baru atau temukan fungsi baru untuk cobek batunya. Misalnya fungsi hiasan. Berceritalah tentang tangan-tangan terampil yang membuatnya, tentang filosofi di balik polanya, dan tentang pilihan untuk memiliki sesuatu yang unik dan bermakna.
Memang menyedihkan melihat benda-benda yang sarat dengan nilai budaya dan kearifan lokal seakan-akan kalah oleh produk plastik yang seragam. Namun, izinkan saya melihatnya dari sudut yang sedikit berbeda, melalui contoh tampah dan cikrak ini.
Faktanya banyak restoran-restoran tradisional atau kekinian yang kembali menggunakan tampah untuk menyajikan makanan, karena memberikan kesan autentik dan alami.
Cikrak digunakan sebagai dekorasi atau tempat buah. Tampah dan cikrak yang dianyam dengan rumit dan dihias dengan indah, harganya bisa berlipat. Mereka tidak lagi dijual sebagai ‘alat’, tapi sebagai ‘karya seni’ atau suvenir bernilai tinggi.
Jadi, yang terjadi bukanlah ‘penggantian’, tapi ‘pergeseran nilai’. Industri rakyat tidak boleh lagi menjual tampah sebagai “tempat menjemur kerupuk”, tapi menjualnya sebagai ‘simbol gaya hidup dan warisan budaya yang asli’. (*)
Zainal Arifin Emka
(Wartawan Tua, Pengajar Jurnalistik)







