Cerita Manis 4 Pelatih Liga Inggris

oleh -262 Dilihat
Mikel Arteta, Unai Emery, Michael Carrick, Pep Guardiola

KabarBaik.co, Inggris – Liga Inggris musim ini dipenuhi kisah tentang euforia dan ekstasi, tapi juga kesedihan, dalam takaran lebih besar dari biasanya.

Semua kisah itu berpusat pada empat pelatih, yakni Mikel Arteta dari Arsenal, Unai Emery dari Aston Villa, Michael Carrick dari Manchester United, dan Pep Guardiola dari Manchester City.

Sebenarnya masih ada Oliver Glasner yang di ambang membawa Crystal Palace menjuarai kompetisi Eropa untuk pertama kali, Andoni Iraola yang mengantarkan Bournemouth untuk pertama kali bermain di level Eropa, dan Roberto de Zerbi yang ketiban sial menukangi Tottenham Hotspurs yang amburadul di ambang degradasi.

Tapi kisah tentang Arteta, Emery, Carrick, dan Guardiola, adalah yang paling menarik untuk didongengkan.

Keempat orang ini mengajarkan heroisme, inspirasi, dedikasi, dan inovasi serta kreativitas. Tapi, cuma kisah tentang Guardiola yang merupakan elegi.

Mari kita mulai dari Mikel Arteta.

Melalui proses panjang nan melelahkan, Arteta berhasil mengubah Arsenal dari tim yang kerap diejek karena sering kedodoran di akhir musim, menjadi klub juara dengan menjuarai lagi Liga Premier setelah 22 tahun menanti.

Dia, seperti luas diberitakan media massa Inggris, telah mengakhiri “era lelucon” dengan membuka mukadimah baru untuk kitab Arsenal, si klub juara.

Dia sudah masuk bursa calon manajer The Gunners pada 2018, tapi tersingkir oleh Unai Emery.

Perjalanannya mengubah Arsenal sangat berliku, sampai pernah terpikir hengkang akibat lingkungan yang toksik, favoritisme, dan penuh ego.

Namun sejak Juli 2021, atau dua tahun setelah resmi menjadi pelatih Arsenal, era baru muncul berbarengan dengan peta jalan yang dia bentangkan.

Saat itu dia bilang, agar Arsenal juara, skuad harus diisi pemain-pemain muda, rata-rata berusia 27 tahun.

Dia ingin tim yang bisa mudah dibentuk agar kohesi tercipta dan sekaligus meringankan beban keuangan manajemen karena gaji pemain muda biasanya tak terlalu tinggi.

Manajemen tertarik dengan idenya. Maka dilepaskanlah para superstar seperti Pierre Emerick-Aubameyang.

Sebaliknya jebolan akademi seperti Bukayo Saka dan Emile Smith-Rowe diupgrade ke level senior, bahkan pemain muda William Saliba yang dipinjamkan ke Prancis dibetot kembali ke Stadion Emirates. Hasilnya mulai terasa awal musim 2022/2023.

Berikutnya dia meyakinkan manajemen untuk merekrut pemain-pemain yang kini instrumental bagi Arsenal, khususnya gelandang Declan Rice dan kiper David Raya.

Menekankan kohesi tim

Revolusi dalam pendekatan bermain pun dilakukan, termasuk strategi menaikkan probabilitas gol dari set-piece.

Tiga tahun kemudian hasil pun didapat. Mereka juara Liga Premier, bahkan di ambang menjuarai Liga Champions.

Visi, personalitas, kepemimpinan, dan pendekatan Arteta adalah bagian inti dari sukses Arsenal yang bisa berlangsung untuk waktu yang lama.

Kualitas yang kurang lebih setara terlihat pada diri Unai Emery yang direkrut Aston Villa ketika klub ini terperosok di lantai bawah klasemen Liga Premier, menjelang akhir 2022.

Si Kaisar Liga Europa, demikian media Inggris menjulukinya, telah mengembalikan marwah Aston Villa yang pernah menjuarai Piala Eropa (Liga Champions) pada 1982 dan tujuh kali juara liga ketika masih bernama Divisi Pertama.

Mereka tak pernah menjuarai apa pun selama milenium baru, sampai pada 21 Mei 2026 mengangkat trofi juara Liga Europa di Istanbul.

Berkat Emery, klub yang sepuluh tahun lalu terdegradasi ke Liga Championship, berubah ke era emas dengan menjuarai Liga Europa dan tiga musim berturut-turut masuk Liga Champions.

Emery juga membuat catatan bersejarah dengan 15 kali menang berturut-turut di kandang, yang pertama dalam 151 tahun usia Aston Villa.

Dia memang tak terlalu berhasil dalam merekrut pemain. Musim ini pemain baru yang bersinar mungkin hanya Victor Lindelof yang dia karyakan sebagai gelandang, tak lagi sebagai bek tengah.

Tetapi secara umum, berkat Emery, Villa memiliki lagi identitas. Emery membawa dampak positif yang dirasakan dari atas hingga bawah dengan menanamkan obsesi kepada detail dan pengembangan.

Dia workaholic yang juga pemikir yang kuat, dan sangat menekankan kerja sama tim. Baginya tak ada pemain bintang, sehingga tak harus memberikan perlakuan khusus kepada pemain tertentu.

Pendekatannya berhasil, setidaknya dari trofi kelima Liga Europa yang kali ini dia persembahkan kepada Villa.

Melebihi sepak bola

Michael Carrick di Manchester United pun begitu.

Sama dengan Arteta dan Emery, Carrick menekankan kohesi dan kekompakan, walau pendekatannya berbeda dari dua sejawatnya di Liga Premier itu.

Carrick membuat pendekatan yang drastis tapi humanis yang berbeda dari orang yang dia gantikan, Ruben Amorim.

Sejumlah pemain pun menjadi bersinar lagi dan berbalik menjadi kunci sukses United di separuh terakhir musim ini, salah satunya Kobbie Mainoo.

Resultante dari efek pendekatan Carrick itu adalah 11 kali menang dari 16 pertandingan. Ini rata-rata kemenangan yang tinggi, 68,75 persen.

Statistik itu tak hanya membuat United masuk lagi arena Liga Champions dan mengatrol posisi Setan Merah dari papan bawah ke papan atas, tapi juga membuat United optimistis menatap masa-masa setelah musim ini.

Kunci keberhasilan Crrick adalah kemampuan memulihkan suasana ruang ganti menjadi lebih positif dan cair sehingga semua pemain merasa bahagia, dihargai, dan akhirnya menaikkan lagi kepercayaan diri. Dia piawai mengendalikan pemain tanpa merendahkan mereka.

Pendekatannya yang pragmatis, sederhana, mengutamakan pemain dan keseimbangan, telah membuat United stabil, setidaknya dalam empat bulan terakhir ini.

Manajemen pun terlihat puas, dan akhirnya memberikan kepercayaan kepadanya untuk tidak lagi berstatus sementara, melainkan berpredikat pelatih permanen United.

Tapi kualifikasi paling lengkap tetap menjadi milik Pep Guardiola. Dia role model untuk siapa pun; untuk sesama pelatih, pemain, dan manajemen klub.

Guardiola juga tahu kapan harus berhenti, namun ketika tak sedang berhenti, dia akan terus meraih apa pun yang bisa dia raih. Dia berhasil dengan cara itu, bahkan di mana pun dia berkarya.

Visi, inteligensia, kreativitas, kepemimpinan, kharisma, dan profesionalismenya yang tinggi, membuatnya mendapatkan apa yang tak bisa didapat orang lain.

Dia tak pernah bentrok dengan manajemen, entah itu di Barcelona, Muenchen atau Manchester. Bahkan ketika manajemen City dirundung masalah hukum, dia tetap loyal.

Dia pemimpin yang hebat, sekaligus pegawai yang andal, bukan hanya karena keterampilannya, tapi juga loyalitasnya.

Tetapi berbeda dari kisah Arteta, Emery, dan Carrick, cerita tentang Guardiola musim ini adalah elegi untuk seorang perintis, pendobrak, pencipta kecenderungan, maestro, ikon, dan pahlawan, karena dia pergi sambil meninggalkan warisan-warisan agung untuk sepak bola Inggris.

Dia tak hanya telah menuliskan bab-bab baru nan lebih tebal dalam kitab sejarah Manchester City, tapi juga telah mewakafkan ilmu teramat bernilai dan langgeng untuk sistem sepak bola Inggris.

Filosofi, pendekatan, inovasi dan gebrakan Guardiola dipelajari dan ditiru oleh klub-klub lain, mulai Liga Premier, sampai sepak bola amatir dan akar rumput, bahkan mempengaruhi tim nasional Inggris.

Tapi dari keempat pelatih itu ada pertemuan gagasan yang mewujud sebagai pelajaran hebat yang melebihi spektrum olahraga dan sepak bola, yakni ketika semua orang kompak dan tak merasa lebih hebat dari yang lain, tak ada target yang tak bisa dicapai. Mereka mengajarkan ini. (ANTARA)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.