KabarBaik.co – Banjir yang merendam jalur rel kereta api di Pekalongan berdampak pada perjalanan Kereta Api Harina, kereta antarkota kelas campuran (Eksekutif, Bisnis, dan Ekonomi Premium) milik PT KAI yang melayani rute Bandung–Surabaya Pasarturi melalui jalur utara Pulau Jawa.
Salah satu penumpang, Muhammad Wahyu Pramujiwo, mengungkapkan bahwa perjalanan yang ia tempuh bersama tiga rekannya mengalami keterlambatan cukup panjang akibat gangguan tersebut. KA Harina yang seharusnya berangkat dari Stasiun Pasarturi Surabaya pada pukul 17.45 WIB mengalami penundaan hingga beberapa jam.
“Awalnya diinformasikan berangkat jam 23.00 WIB, tapi kemudian dimajukan menjadi jam 21.55 WIB,” ujar Wahyu Pramujiwo saat dikonfirmasi KabarBaik.co, Senin (19/1).
Setibanya di Stasiun Semarang Tawang, perjalanan tidak dapat dilanjutkan ke arah Pekalongan karena jalur rel terendam banjir. Akibatnya, rangkaian kereta harus berputar arah dan dialihkan melalui jalur selatan.
“Dari Semarang Tawang kami lanjut ke Solo, Yogyakarta, lalu terus melalui jalur selatan hingga Purwokerto, sebelum akhirnya kembali naik ke arah Cirebon,” jelasnya.
Akibat pengalihan jalur tersebut, Wahyu baru tiba di Stasiun Cirebon sekitar pukul 08.10 WIB. Padahal, dalam kondisi normal, perjalanan menuju Cirebon hanya memakan waktu sekitar enam jam.
“Kurang lebih saya 10 jam di kereta. Harusnya sekitar pukul 00.12 WIB sudah sampai Cirebon, tapi ini baru tiba pagi hari,” katanya.
Meski mengalami keterlambatan cukup lama, Wahyu mengaku tetap bersyukur karena masih bisa sampai di tujuan dan menghadiri agenda pentingnya. Ia juga beruntung telah memesan hotel sebelumnya sehingga masih memiliki waktu untuk beristirahat.
“Saya masih bisa mandi, sarapan, dan lanjut meeting jam dua siang setelah makan siang,” ungkapnya.
Wahyu turut mengapresiasi respons PT KAI yang dinilainya cukup sigap dalam menangani dampak banjir tersebut. Menurutnya, pihak KAI memberikan kompensasi kepada para penumpang selama perjalanan berlangsung.
“Di Stasiun Pasar Turi kami diberi dua botol air mineral dan snack. Pagi hari sekitar jam enam di kereta juga mendapat sarapan dan air mineral. Menjelang turun di Cirebon kami kembali diberi snack dan air mineral,” tuturnya.
“Intinya saya tetap bersyukur. Walaupun kereta terlambat, saya masih bisa sampai tujuan dan mengikuti meeting. Apalagi saya melihat banyak perjalanan kereta lain yang akhirnya dibatalkan,” pungkas Wahyu. (*)






