Cerita Perjuangan Edi Priyanto hingga Terciptalah Kampung Edukasi Sampah Sekardangan Sidoarjo

oleh -547 Dilihat
25f5006a 7120 4fe7 97f4 4fbb5f3e0aa7
Edi Priyanto saat menunjukan Ipal milik warga kampung edukasi sampah

KabarBaik.co – Kampung Edukasi Sampah di Kelurahan Sekardangan, Sidoarjo, mulai dirintis sejak tahun 2017. Dari awalnya lingkungan yang warganya cenderung individualis, kawasan ini kini berubah menjadi percontohan nasional berkat inovasi pengolahan sampah terpadu. Perubahan besar ini tak lepas dari motor penggeraknya, Edi Priyanto, seorang pegiat lingkungan.

Sebagai Ketua RT kala itu, Edi prihatin melihat warganya enggan kerja bakti, jarang hadir rapat, dan kurang peduli terhadap sesama. Ia lalu menggagas gerakan perubahan dengan fokus menciptakan lingkungan yang nyaman untuk anak-anak, agar mereka bisa tumbuh sehat dan berprestasi. Dari situlah bibit Kampung Edukasi Sampah lahir.

“Awalnya kami ingin menjadikan lingkungan nyaman untuk anak-anak, agar mereka tumbuh sehat dan tidak nakal. Dari situ muncul ide pengolahan sampah, penghijauan, dan arena bermain. Hasilnya, warga akhirnya mau bergerak bersama,” ungkap Edi kepada KabarBaik.co Senin (22/09).

Gerakan ini berkembang menjadi sistem pengolahan sampah terpadu. Warga mulai memilah sampah sejak dari sampah rumah tangga di antaranya organik, anorganik, dan residu.

0f438154 6ed6 4eb2 a48e c1997585fb0f
Edi Priyanto tunjukan sumur resapan yang dimiliki 14 titik kampung edukasi sampah

Sampah organik diolah dengan komposter takakura, sedangkan nasi basi dikelola dengan komposter airup agar tidak menimbulkan bau. Daun kering dimanfaatkan melalui sumber resapan, sementara air limbah rumah tangga dikelola lewat IPAL sederhana.

Dari kebiasaan baru ini, volume sampah yang dibuang ke TPA berkurang hingga 75–80 persen. Sampah anorganik seperti plastik, botol, dan kertas disetorkan ke bank sampah, bahkan bisa digunakan sebagai pengganti uang iuran lingkungan. Cara ini berhasil mendorong warga lebih aktif terlibat dalam pengelolaan sampah.

Tak berhenti di situ, kampung ini terus berinovasi. Sampah organik diproses menjadi kompos untuk pupuk tanaman warga sendiri. Sampah plastik dicacah untuk dijual ke pabrik plastik untuk campuran bahan. Bahkan, kampung ini memanfaatkan tenaga surya untuk penerangan jalan, menegaskan komitmennya pada energi ramah lingkungan.

Keunikan sistem pengolahan sampah inilah yang kemudian menyedot perhatian banyak pihak di antaranya sekolah, komunitas, kampus, hingga pemerintah daerah datang untuk studi tiru. Mereka belajar langsung bagaimana sebuah gerakan warga bisa mengubah masalah sampah menjadi sumber manfaat.

4ef87c9f 296f 448b be71 6d73f70c7399
Gapura kampung edukasi yang sarat makna dari budaya Jawa

“Kami awalnya hanya mendokumentasikan kegiatan di Instagram supaya tidak hilang. Tidak ada niat promosi. Tapi ternyata banyak yang melihat dan penasaran. Sekarang pengunjung bisa mencapai 4.500–5.000 orang per tahun,” terang Edi.

Pengunjung tak hanya datang dari Jawa, tetapi juga dari luar daerah. Rombongan dari Karangasem Bali, Medan, Kalimantan Tengah, hingga Lampung sudah berkunjung untuk menimba ilmu di Sekardangan. Fakta ini membuktikan bahwa pengolahan sampah berbasis warga mampu menarik perhatian hingga tingkat nasional.

Menurut Edi, kunci dari semua perubahan ini adalah kebersamaan. “Perubahan besar tidak mungkin hanya mengandalkan pemerintah. Harus ada gerakan dari masyarakat, dipimpin RT/RW, dan didukung lurah serta camat. Dengan begitu, hasilnya bisa nyata,” tegasnya.

Kini, Kampung Edukasi Sampah Sekardangan menjadi model pembelajaran. Berbagai inovasi dari hidroponik, kompos, hingga tenaga surya lahir dari tangan warga yang kompak. Dari kampung kecil di Sidoarjo, lahirlah inspirasi nasional tentang bagaimana sampah bisa menjadi sumber solusi, bukan masalah. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Achmad Adi Nurcahya
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.