KabarBaik.co – Di tengah kawasan padat penduduk Kelurahan Sekardangan, Kecamatan Sidoarjo, berdiri sebuah kampung inspiratif yang kini menjadi percontohan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat, Kampung Edukasi Sampah (KES) ruang belajar terbuka yang mengajarkan pentingnya mengelola sampah secara berkelanjutan.
Setiap sudut KES mencerminkan kesadaran warga terhadap lingkungan. Mulai dari komposter Takakura, komposter aerob, bank sampah Telulikur, hingga instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sederhana, semuanya dibangun dan dikelola warga dengan semangat gotong royong. Dari sinilah, kesadaran bahwa sampah bukan masalah, melainkan sumber daya, mulai tumbuh.
Suasana KES tampak lebih semarak dari biasanya. Puluhan siswa SMKN 2 Buduran Sidoarjo datang untuk belajar langsung tentang pengelolaan sampah. Mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga ikut praktik memilah, mengolah, dan mendaur ulang berbagai jenis sampah menjadi barang bernilai guna.
Pegiat lingkungan Edi Priyanto, penggerak utama Kampung Edukasi Sampah, menjelaskan bahwa KES didirikan untuk menjadi wadah pembelajaran terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar mencintai bumi.
“Sekolah formal itu penting, tapi bukan satu-satunya tempat belajar. Di sini anak-anak belajar langsung dari alam, memahami siklus kehidupan, dan menyadari bahwa mengelola sampah adalah bagian dari ibadah sosial,” ujar Edi Priyanto Senin (20/10).
Menurutnya, perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil. “Kita tidak butuh satu orang sempurna yang hidup tanpa sampah, tapi jutaan orang yang mau berusaha setiap hari. Dari generasi muda inilah masa depan lingkungan akan lebih baik,” tambahnya.
Selain menjadi tempat edukasi bagi pelajar, KES juga menjadi simbol perubahan budaya masyarakat. Warga terbiasa memilah sampah rumah tangga, membuat kompos, serta memanfaatkan hasil daur ulang untuk kebutuhan sehari-hari. Semangat gotong royong yang tumbuh di kampung ini menjadikannya contoh nyata penerapan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) di tingkat lokal.
Guru pembina ekstrakurikuler Green and Clean School (GCS) SMKN 2 Buduran, Sarlina Candra, mengapresiasi konsep belajar di KES.
“Anak-anak sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Mereka bukan hanya belajar teori, tetapi melihat langsung bagaimana masyarakat menerapkan sistem pengelolaan sampah secara nyata. Ini pengalaman belajar yang berharga,” ungkapnya.
Para siswa pun merasakan manfaatnya. Harisma Lukinoviani, salah satu siswi peserta, mengaku kegiatan di KES memberi pengalaman baru yang tak terlupakan.
“Belajar di Kampung Edukasi Sampah sangat seru. Kami belajar cara melestarikan lingkungan dengan langkah kecil, seperti memilah dan mendaur ulang sampah. Belajar seperti ini terasa lebih hidup,” ujarnya.
Sementara itu, Alivia Zaira, siswi lainnya, mengajak generasi muda untuk ikut berperan aktif menjaga lingkungan.
“Ayo teman-teman, kita belajar tidak hanya di sekolah. Di tempat seperti KES ini, kita bisa belajar langsung lewat praktik dan pengalaman nyata,” katanya bersemangat.
Kini, Kampung Edukasi Sampah Sekardangan yang berlokasi di RT 23 RW 07, Kelurahan Sekardangan, Sidoarjo, dikenal sebagai laboratorium pembelajaran lingkungan berbasis masyarakat. KES mengintegrasikan konsep reduce, reuse, recycle, energi terbarukan, dan pemberdayaan warga untuk mewujudkan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) di tingkat lokal.
Kampung Edukasi Sampah Sekardangan menjadi bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari tindakan kecil. Dari kampung sederhana ini, lahir semangat baru untuk menjaga bumi dan menanamkan nilai kepedulian lingkungan kepada generasi muda.(*)






