KabarBaik.co, Jombang – Di tengah menjamurnya bengkel variasi mobil yang menawarkan penggantian suku cadang secara instan, sebuah lapak sederhana di Pasar Tunggorono, Jombang, justru tetap menjadi andalan warga.
Lapak tersebut milik Darsono, 65, seorang perajin servis kaca spion yang telah menekuni profesinya selama lebih dari tiga dekade. Ia dikenal mampu memperbaiki spion kendaraan tanpa harus mengganti seluruh unit, cukup mengganti bagian kaca yang rusak.
“Rata-rata yang datang ke sini spion pecah. Di sini lebih hemat karena hanya ganti kacanya saja. Tidak sampai beli spion baru,” ujar Darsono, Sabtu (21/3).
Darsono mulai menjalani profesi ini sejak 1994, bertepatan dengan berdirinya Pasar Tunggorono. Keahliannya diperoleh dari seorang teman yang lebih dulu menekuni bidang serupa.
Awalnya, Darsono bekerja di sebuah pabrik sebelum akhirnya memutuskan berhenti. Dari situlah ia mulai belajar memperbaiki kaca spion hingga membuka lapak sendiri di kawasan pasar loak tersebut.
Berbekal peralatan sederhana seperti pemotong kaca dan tang, ia melayani berbagai jenis kendaraan, mulai dari sepeda motor hingga mobil, truk, dan bus. Ia menyediakan berbagai jenis kaca, baik cembung maupun datar.
Untuk servis spion motor, Darsono mematok tarif antara Rp 20.000 hingga Rp 50.000, tergantung jenis kaca. Sementara untuk kendaraan roda empat atau lebih, biaya perbaikan bisa mencapai Rp 100.000 atau lebih per kaca.
Dalam sehari, ia melayani sekitar empat hingga tujuh pelanggan. Meski tidak seramai saat awal pasar berdiri, penghasilannya masih mencukupi kebutuhan keluarga.
“Sekarang tidak seramai dulu. Mungkin karena banyak yang belanja online,” ujarnya.
Menurut Darsono, perubahan pola belanja masyarakat turut memengaruhi omzet pedagang di pasar loak. Namun, ia menilai membeli langsung di pasar tetap memiliki kelebihan.
“Kalau beli online, tidak bisa lihat barang langsung. Kadang juga tidak sesuai ekspektasi saat barang datang,” katanya.
Untuk menjangkau pelanggan yang tidak sempat datang, Darsono juga menyediakan layanan servis ke rumah. Ia mencantumkan nomor telepon di lapaknya agar mudah dihubungi.
Selama bulan Ramadhan, ia tetap membuka usahanya mulai pukul 07.00 WIB hingga sore hari menjelang azan Ashar. Saat Lebaran, ia hanya libur dua hari sebelum kembali beroperasi.
Meski keahliannya tergolong langka, belum ada anggota keluarga yang meneruskan profesinya. Namun demikian, Darsono mengaku terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar.
Ia pun berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih kepada para pedagang kecil di Pasar Tunggorono agar aktivitas ekonomi kembali menggeliat.
“Harapannya pasar ini bisa dikelola lebih baik, supaya ekonomi pedagang kecil bisa ramai lagi seperti dulu,” tuturnya.
Sebagai informasi, Pasar Tunggorono yang berdiri sejak 1994 dikenal sebagai sentra barang loak di Jombang. Beragam barang bekas tersedia di pasar ini, mulai dari onderdil kendaraan, perabot rumah tangga, hingga besi tua. (*)






