Cik Cik Bum Bum ke Gedung KPK: Nasib Bupati Pekalongan Fadia Arafiq

oleh -17 Dilihat
FADIA

KabarBaik.co, Jakarta – “Ala la la mak ala mak, kucing-kucing menggoda. Adu du duh mak aduh mak, aku sakit kepala.”

Dua dekade lalu, Fadia Arafiq melantunkan lirik itu dengan jenaka di atas panggung. Lagu Cik Cik Bum Bum menjadi hits, dan “kucing-kucing menggoda” mungkin hanya dimaknai sebagai tingkah polos hewan peliharaan yang bikin pusing.

Tentu tak pernah terbayang olehnya, ternyata lirik itu kelak seperti menjadi nyawa dalam hidupnya sendiri. Bukan kucing sungguhan yang menggoda, melainkan godaan-godaan bernama proyek, fee, dan komisi yang datang silih berganti selama duduk sebagai Bupati Pekalongan. Godaan yang terus mengeong-ngeong di telinga, merayu, membujuk, hingga akhirnya…

Fadia tergoda.

Selasa (3/3) dini hari, pukul 02.30 WIB, “sakit kepala” yang dia nyanyikan dulu benar-benar datang. Bukan pusing biasa, melainkan kepala yang tertunduk lesu ketika tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengetok pintu rumahnya di Semarang. Operasi Tangkap Tangan (OTT) membuat Bupati Pekalongan itu harus merasakan akibat dari godaan yang dibiarkan.

Tim satgas KPK bergerak cepat. Sebuah rumah di kawasan perumahan menengah atas menjadi sasaran. Tak ada perlawanan berarti. Fadia Arafiq, perempuan paruh baya berhijab itu, dalam sebuah gambar hanya tertunduk.

“Ini ada hubungannya dengan pengadaan proyek di Kabupaten Pekalongan,” bisik seorang sumber kepada awak media.

Dalam operasi senyap itu, Fadia tak sendirian diamankan. Dua orang lainnya ikut digelandang. Seorang pria yang disebut-sebut sebagai orang kepercayaannya, dan ajudan pribadi yang setia menemani ke mana pun bupati melangkah. Ajudan.

Mereka langsung diangkut ke Jakarta. Gerbang Gedung Merah Putih KPK pun terbuka lebar. Bukan untuk menyambut tamu kehormatan, melainkan untuk menerima tiga orang dengan status “sedang dalam pemeriksaan intensif.”

Kalau dicermati, lagu Cik Cik Bum Bum milik Fadia sejatinya adalah ramalan yang pasti tak disadari. Lirik tentang “kucing-kucing yang menggoda” itu persis menggambarkan apa yang terjadi dalam perjalanan kariernya.

Dalam dunia politik dan pemerintahan, “kucing-kucing” itu hadir dalam berbagai rupa. Ada yang berupa tawaran proyek dengan fee menggiurkan, ada yang berupa “uang pelicin” demi percepatan anggaran, promosi jabatan, ada pula yang berupa komisi dari pengadaan barang dan jasa. Mereka datang menggoda, awalnya mungkin kecil, kemudian semakin berani. Dan, seperti kucing yang terus mengeong, godaan itu tak pernah benar-benar diam.

Lagu itu juga menyelipkan peringatan halus yang luput dari perhatian Fadia. “Semakin kau melihat semakin kau mendekat, ku tahu kau memikat. Tapi awas banyak kutu, takut ada yang melekat.”

Frasa “banyak kutu” dan “takut ada yang melekat” dalam lagunya ternyata adalah kiasan yang sempurna untuk risiko korupsi. Bahwa godaan (kucing) itu memang memikat, tapi di baliknya ada “kutu” masalah, risiko hukum, konsekuensi, harga diri, yang akan melekat dan sulit dibersihkan.

Kini, setelah membiarkan “kucing-kucing” itu menggoda, Fadia harus merasakan sendiri apa arti “sakit kepala” yang sesungguhnya. Duduk di kursi pemeriksaan KPK.

Fadia lahir di Jakarta, 23 Mei 1978. Dulu dengan nama Laila Fathiah. Dia adalah putri dari pedangdut legendaris A. Rafiq, sosok yang suaranya menghiasi radio-radio di era 80-an hingga 90-an  Satu di antara lagu legendarisnya; Lirikan matamu, menarik hati.

Sejak kecil, Laila sudah akrab dengan microphone dan lampu panggung. Darah seni ayahnya mengalir deras. Tak heran, ketika remaja, dia memilih mengikuti jejak sang ayah. Bukan lagi sebagai Laila, melainkan sebagai Fadia A. Rafiq.

Tahun 2000, namanya melesat. Sebuah singel berjudul Cik Cik Bum Bum dirilis. Musiknya riang, liriknya ringan, dan video klipnya penuh warna. Lagu itu sukses menjadi buah bibir. Fadia, meski bukan penyanyi papan atas, saat itu punya tempat di hati penggemar dangdut tanah air .

Tapi panggung hiburan ternyata tak cukup luas baginya.

Perlahan, Fadia mulai melirik panggung lain. Panggung politik. Kekuasaan. Apalagi setelah menikah dengan Ashraff Abu, penyanyi dangdut asal India yang kemudian menjadi anggota DPR RI dari Partai Golkar . Bersama, mereka membangun keluarga besar dengan enam orang anak, dan membangun karier politik yang tak kalah besar.

Fadia tak asal terjun. Dia pun membekali diri dengan sejumlah gelar sarjana.  S-1 Manajemen Universitas AKI, S=2 Manajemen Universitas Stikubank Semarang, hingga S=3 di Untag Semarang .

Langkah pertamanya di eksekutif dimulai sebagai Wakil Bupati Pekalongan periode 2011-2016 . Setelah itu, memperkuat posisi di partai. Menjadi Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Pekalongan, lalu merangkap Ketua KNPI Jawa Tengah .

Puncaknya, Pilkada 2020. Fadia maju sebagai Bupati Pekalongan dan menang telak. Sebanyak 312.556 suara berpihak padanya. Lima tahun kemudian, di Pilkada 2024, kemenangan kembali diraih. Berpasangan dengan Sukirman, Fadia mengamankan kursi Bupati Pekalongan untuk periode 2025-2030 dengan persentase 56,24 persen . Karier politiknya berada di puncak.

Di balik gemerlap kekuasaan, LHKPN mencatat harta kekayaannya mencapai Rp 85 miliar per 30 Maret 2025 . Tanah dan bangunan senilai Rp 74 miliar tersebar di Pekalongan, Bogor, hingga Semarang. Sisanya kendaraan mewah dan kas setara kas. Fadia pun tercatat sebagai salah seorang kepala daerah tingkat kabupaten terkaya.

Angka yang fantastis. Namun ironisnya, di sinilah letak persoalannya. Seorang pemimpin dengan harta berlimpah justru diduga masih tergoda untuk “bermain” dalam pengadaan proyek daerah. “Kucing-kucing” itu rupanya tak pernah puas menggoda, dan Fadia mendekat.

Jubir KPK Budi Prasetyo membenarkan penangkapan tersebut. “Para pihak diamankan di wilayah Semarang, kemudian pada pagi hari ini ketiga pihak dimaksud langsung dibawa ke Jakarta untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” ujarnya di Gedung KPK, Selasa (3/3) siang .

Dugaan sementara, korupsi ini terkait dengan pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemkab Pekalongan. Modusnya diduga mark-up anggaran dan menerima fee dari rekanan proyek.

Fadia dan dua rekannya masuk ke Gedung KPK lewat pintu belakang. Menghindari kerumunan wartawan yang sudah berjaga sejak pagi. Wajahnya ditutup jaket hitam. Tak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya.

Kini, dia tentu duduk di kursi pemeriksaan. Lampu terang menyorot wajahnya. Penyidik bergantian masuk dan keluar ruangan. Sementara itu, Partai Golkar, tempatnya bernaung, hanya bisa pasrah.

“Kami prihatin dan kecewa,” ujar Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia. “Seharusnya para kepala daerah itu dapat mengambil pelajaran, harus lebih berhati-hati dan tidak lagi mengambil kebijakan yang berpotensi melanggar hukum.”.

Dan, dua puluh enam tahun lalu, Fadia Arafiq bernyanyi riang tentang kucing-kucing yang menggoda. Mungkin saat itu ia hanya mengikuti arahan produser, menghafal lirik tanpa merenungi maknanya. Tapi hidup seringkali lebih puitis dari fiksi.

Perjalanan sebagai seorang bupati ternyata adalah panggung di mana “kucing-kucing” itu memang biasa benar-benar datang. Satu per satu, diam-diam, mereka menggoda. Dan, sudah banyak kepala daerah, seperti dalam lagu Fadia, mendekat. Melihat. Tertarik. Hingga akhirnya… “kutu” yang diperingatkan dalam lagu itu benar-benar melekat.

Kini, “sakit kepala” itu tak lagi bisa diobati dengan obat tidur atau secangkir kopi. Sakit kepala yang dirasakan adalah nyatanya kenyataan. Dan, bagi Fadia, dalam 1×24 jam, status bupati atau tersangka akan ditentukan.

“Kucing-kucing” yang menggoda dengan manis—proyek, fee, komisi—telah pergi meninggalkannya. Yang tersisa hanya ruang pemeriksaan, penyidik yang tajam, dan rompi oranye yang menanti. Cik cik bum bum, cik cik bum bum. Banyak kucing menggoda… (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.