​Dapur Baru Persebaya: Uston Nawawi Sang Kepala Restoran, Bernardo Tavares Koki Utama

oleh -747 Dilihat
USTON NAWAWI
Uston Nawawi, Direktur Teknik Persebaya Surabaya (Foto Antara)

KabarBaik.co – Pemandangan berbeda di bench Persebaya Surabaya putaran kedua Super League 2025/2026. Sosok Uston Nawawi yang biasanya turut sibuk memberikan masukan di pinggir lapangan, kini dipastikan tak ada lagi.

Namun, jangan salah sangka, salah seorang legenda Persebaya tidak pergi. Dia justru sedang merancang “menu” yang lebih besar dari balik meja Direktur Teknik.

Ibarat sebuah restoran bintang lima, Persebaya baru saja melakukan redefinisi peran. Jika selama ini Uston adalah asisten koki yang turun langsung mengolah bumbu, kini dia resmi menjabat sebagai Direktur Teknik (Dirtek), sang “kepala restoran” yang menentukan standar rasa dan kualitas bahan baku untuk jangka panjang.

Sebagai Dirtek, Uston Nawawi kini memegang kendali atas cetak biru (blueprint) permainan klub. Tugasnya bukan lagi memikirkan taktik untuk mengalahkan lawan besok sore, melainkan memastikan bahwa dari dapur akademi hingga tim senior, semuanya memiliki “rasa” yang sama: karakter ngeyel dan gacor khas Surabaya.

Uston adalah penjaga filosofi. Dia yang memastikan bahan baku pemain dari EPA (Elite Pro Academy). Dengan lisensi AFC Pro, dia menjadi jembatan strategis yang memastikan visi besar manajemen bisa dieksekusi dengan baik oleh staf pelatih.
Tavares dan Tim Dapur Baru

Sementara itu, di dapur utama (lapangan), Bernardo Tavares berperan sebagai head chef. Tavares adalah eksekutor taktis yang bertanggung jawab penuh atas hasil pertandingan. Untuk membantunya menyajikan kemenangan, Tavares kini dikelilingi oleh staf asisten pilihannya sendiri, termasuk Felipe Martins Goncalves yang fokus mengasah ketajaman kiper. Sebagai Manajer Tim ditunjuk Sidik Maulana Tualeka dan Sekretaris Tim Andri Suyoko.

​Perbedaan perannya jelas. Uston memastikan sistem berjalan, memantau scouting pemain, dan menjaga standar kualitas klub untuk 3-5 tahun ke depan. Tavares meracik taktik 90 menit, memilih starting XI, dan mengejar target juara di akhir musim.

Bagaimana ke depan? Tentu butuh waktu. Yang pasti, dengan Uston yang fokus pada manajemen teknis, Tavares bisa lebih berkonsentrasi pada performa tim. Paling tidak, Persebaya tampil trengginas di awal putaran kedua dengan catatan kemenangan yang meyakinkan 3-0 atas PSIM Yogyakarta.

Sinergi antara “kepala restoran” yang paham betul lidah orang Surabaya dan “koki Internasional” yang ahli taktik global tersebut diharapkan mampu menyajikan trofi juara yang sudah lama dinantikan publik Bonek di lemari piala mereka.

Jaga Reputasi sebagai Pabrik Emas Timnas

​Perubahan posisi Uston menjadi Dirtek sejatinya bisa jadi bagian upaya cerdas manajemen untuk menjaga identitas paling sakral dari klub ini. Yakni, kawah candradimuka talenta terbaik Indonesia. Sejak era Perserikatan, Persebaya dikenal memiliki “nutrisi” khusus yang tak pernah berhenti melahirkan bintang bagi skuad Garuda.

Sejarah panjang ini terukir lewat nama-nama besar yang jalur kariernya bermula dari kompetisi internal Surabaya, hingga akhirnya menjadi bagian dari tulang punggung skuad Garuda. Di antaranya, Evan Dimas Darmono. Ikon fenomenal dari produk asli kompetisi internal Persebaya. Sang “jenderal” lini tengah yang membawa Indonesia juara AFF U-19 ini adalah bukti sahih betapa matangnya sistem pembinaan di Surabaya dalam mencetak pemain dengan visi kelas dunia.

Lalu ada Toni Firmansyah. Salah seorang wonderkid terbaru yang kini menjadi buah bibir. Ia adalah penerus estafet gelandang kreatif Surabaya yang enerjik dan berani, membuktikan bahwa “pabrik” talenta Persebaya tetap produktif hingga hari ini.

Sebelumnya, Marselino Ferdinan. Alumnus klub internal yang kini berkarier di Eropa, menunjukkan bahwa didikan Surabaya mampu bersaing di level internasional. Kemudian, ​Rizky Ridho dan Ernando Ari. Dua pilar pertahanan yang ketangguhannya ditempa di lapangan-lapangan Surabaya sebelum akhirnya menjadi tembok tak tergantikan di Timnas senior. Dan, banyak lagi. Termasuk sejak era Perserikatan.

Bagi Persebaya, mengorbitkan pemain muda bukanlah sekadar tuntutan regulasi, melainkan kewajiban sejarah. Dengan peran barunya sebagai Dirtek, Uston Nawawi tertantang memikul tanggung jawab besar agar “ban berjalan” yang telah mencetak legenda mulai dari era dirinya sendiri, Evan Dimas, hingga Toni Firmansyah, tetap berputar kencang.

Sinergi antara manajemen teknis yang paham akar sejarah dan pelatih kepala yang ahli taktik global diharapkan mampu mengembalikan kejayaan Green Force ke puncak tertinggi sepak bola tanah air. Wani. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.