KabarBaik.co – Di sebuah gang sempit di Jalan Ngaglik, Gang Kuburan, Surabaya, kesibukan produksi lumpia tampak di teras rumah Sukarsipah (59), yang akrab disapa Mak Ipah. Bersama keluarganya, ia memimpin usaha pembuatan lumpia yang kini dikenal sebagai ikon Kampung Lumpia.
Di ujung teras, tiga perempuan sibuk mengisi kulit lumpia dengan isian khas, sementara anak Mak Ipah menggoreng di sudut lain, dibantu beberapa pekerja. Seorang pria tampak telaten membuat kulit lumpia di atas tungku, dengan baskom adonan tersusun rapi di sampingnya.
Produksi lumpia tidak hanya berpusat di rumah Mak Ipah, tetapi juga melibatkan puluhan pekerja dari beberapa rumah tetangga. Mereka terbagi tugas, mulai dari membuat kulit, mengisi, hingga menggoreng lumpia.
“Awalnya kami hanya coba-coba jualan sosis, lalu mencoba lumpia. Pak Kasno (suami Mak Ipah) yang berjualan di stadion, saya keliling kampung. Anak-anak membantu produksi di rumah,” ujar Mak Ipah, mengenang awal usahanya pada 2020, Minggu (9/2).
Usaha ini berawal dari kesederhanaan. Saat itu, Mak Ipah yang bekerja sebagai buruh cuci merasa tertantang mencoba resep lumpia atas ajakan sang suami, Kasno (64). Perlahan, usaha tersebut berkembang, melibatkan tetangga yang terdampak PHK selama pandemi.
“Saya kasihan melihat orang-orang yang kehilangan pekerjaan dan jauh dari keluarga. Jadi saya ajak mereka bekerja di sini. Awalnya belajar dulu, lama-lama mereka mahir,” ujarnya.
Setiap hari, produksi dimulai pukul 03.00 WIB hingga siang. Jumlah pesanan meningkat drastis pada akhir pekan atau hari libur nasional. Jika dulu hanya ratusan lumpia dibuat untuk dijual di stadion atau keliling kampung, kini produksinya mencapai 7.000 hingga 15.000 lumpia per hari.
Satu lumpia dijual dengan harga Rp1.500 (mentah) dan Rp1.800 (siap makan). Dari awalnya hanya dijual di sekitar Stadion Tambaksari, kini lumpia Mak Ipah sudah dikirim ke berbagai kota seperti Sidoarjo, Gresik, Yogyakarta, Solo, hingga Malaysia.
Kesuksesan ini membuat Mak Ipah tak lupa berbagi. Ia menggagas Kampung Lumpia, sebuah inisiatif untuk memberdayakan masyarakat sekitar melalui usaha lumpia.
“Saya selalu bilang ke anak-anak, jangan sombong. Lihatlah dulu bagaimana kita memulai. Yang penting sederhana dan bermanfaat,” tutup Mak Ipah dengan senyum hangat.(*)









