Dari Gresik ke Tim Utama, Poppy Aulia Makin Matang di Proliga 2026

oleh -304 Dilihat
POPPY AULIA2

KabarBaik.co, Gresik,- Di bawah terang lampu GOR Tri Dharma, Gresik, Jumat (30/1) sore, Jakarta Electric PLN membuka Pekan ke-4 Proliga 2026 dengan kemenangan meyakinkan. Juara bertahan Proliga 2025 Jakarta Popsivo Polwan dilibas tiga set langsung, 3-0.

Namun, di tengah dominasi tim dan gemuruh penonton, perhatian tak hanya tertuju pada mesin poin asal Turki, Neriman Ozsoy. Dalam rotasi pemain, muncul sosok ramping dengan sorot mata teduh. Yakni, Poppy Aulia Nursutan.

Outside hitter berusia 18 tahun asal Cirebon itu mungkin belum sebesar nama Neriman dan rekan senior lainnya. Tapi sore itu, Poppy menunjukkan satu hal. Masa depan klub voli itu sedang tumbuh bersamanya. Lompatannya, ayunan tangannya.

Jika Neriman adalah badai yang datang dengan dentuman spike keras, maka Poppy adalah bibit pusaran yang sedang belajar membesar. Dia belum segarang para mentornya. Tetapi, setiap menit di lapangan menjadi ruang belajar. Menyerap teknik, membaca tempo, dan membangun mental juara dari para pemain kelas dunia.

Kembalinya Poppy ke Gresik hari itu, terasa seperti pulang ke halaman rumah sendiri. Di kota inilah kariernya mulai ditempa. Dia pernah membela Gresik Phonska Plus (GPPI) saat masih belia, belajar menghadapi kerasnya kompetisi senior. Dari lantai yang sama, dulu mungkin masih bermimpi. Kini, ia kembali dengan seragam Jakarta Electric PLN dan level permainan yang jauh lebih matang.

Perjalanan Poppy memang tidak instan. Lulusan SMP Negeri 1 Plumbon itu sudah mencicipi atmosfer laga profesionel sejak usia 14 tahun bersama Petrokimia Gresik, usia ketika kebanyakan pemain masih berkutat di turnamen pelajar. Setelah itu memperkaya pengalaman bersama Jakarta Livin Mandiri sebelum akhirnya dipercaya masuk skuad Electric PLN musim ini.

Jam terbangnya juga terasah di tim nasional kelompok umur. Poppy menjadi salah satu pilar Indonesia U-18 yang meraih posisi runner-up di Princess Cup 2024 di Thailand, prestasi internasional yang menguatkan mental bertandingnya.

Secara teknis, Poppy adalah tipe outside hitter modern. Gadis asal Cirebon itu tidak hanya mengandalkan tenaga, melainkan cerdas membaca celah pertahanan lawan. Penempatan bola rapi, pertahanan disiplin, dan jangkauan spike hingga 278 sentimeter membuatnya efektif dari lini serang maupun belakang.

Didikan SKO Ragunan membentuknya bermain taktis sekaligus rapi secara posisi. Namun, salah satu hal yang terbilang melekat adalah senyumnya.

Setiap kali mencetak poin, Poppy jarang melakukan selebrasi berlebihan. Hanya tersenyum, berlari kecil memutar kembali ke formasi, seolah voli adalah kegembiraan. Bukan sekadar pertarungan angka. Gestur itu menjadi salah satu yang mendapat perhatian tersendiri dari penggemarnya.

Karakter tersebut lahir dari rumah. Keluarganya memberi dukungan penuh sekaligus menanamkan disiplin dan kerendahan hati, bekal yang membuatnya tetap santun kepada senior, tetapi berani menghadapi siapa pun di lapangan.

Di sisi lapangan,tentu saja Poppy menyerap ilmu. Berdiskusi, termasuk dengan Neriman Ozsoy. Instruksi kecil, koreksi gerakan, atau sekadar isyarat tangan. Proses transfer ilmu itu terjadi tanpa banyak kata.

Hari ini, Poppy mungkin masih berada di balik bayang-bayang sang bintang Turki dan pemain senior lainnya. Tetapi, waktu selalu bergerak. Regenerasi selalu datang.

Dan, ketika badai itu suatu hari berlalu, Indonesia tampaknya sudah menyiapkan pusaran baru. Salah satu nama itu adalah Poppy Aulia Nursutan, 18 tahun, ditempa sejak remaja di Proliga, dibesarkan oleh disiplin Ragunan, dan sudah mencicipi podium internasional.

Senyumnya tenang. Permainannya matang. Masa depannya panjang. Kabar baik bagi voli Indonesia. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.