KabarBaik.co – Di tengah derasnya arus budaya global, sekelompok perempuan di Surabaya memilih berdiri tegak dengan identitasnya sendiri. Melalui penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berbasis budaya, Koordinator UMKM Kain Kebaya Indonesia, Wahyu Ida Rochayati, terus menggerakkan perempuan untuk mandiri secara ekonomi tanpa meninggalkan akar tradisi.
Selama lebih dari dua dekade, komunitas ini menggabungkan misi pelestarian busana tradisional kebaya dengan pemberdayaan ekonomi perempuan. Bagi Ida, kebaya bukan sekadar pakaian, melainkan simbol jati diri dan kebanggaan perempuan Indonesia yang harus dijaga agar tidak tergerus zaman, apalagi diklaim oleh pihak asing.
Melalui struktur koordinasi yang menjangkau hingga tingkat kecamatan, Ida memastikan kebaya dan jarik tetap hadir dalam keseharian perempuan. Upaya ini dilakukan agar generasi mendatang tidak tercerabut dari akar budayanya. “Menjaga budaya adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Ida meyakini, kebaya mampu menghadirkan keanggunan bagi siapa pun yang mengenakannya. “Mau gemuk, mau kurus, mau hitam, mau putih, kalau pakai kebaya itu anggun,” kata Ida saat ditemui, Kamis (22/1).
Menurutnya, kebaya memberikan kesan jinem atau miyayeni—pantas dan berwibawa—sehingga pemakainya tampil percaya diri dan dihormati di mana pun berada.
Namun, perjuangan Ida tidak berhenti pada estetika dan simbol budaya semata. Ia melihat tantangan nyata yang dihadapi para pelaku UMKM, terutama perempuan, adalah kesenjangan antara kemampuan produksi dan pemasaran. Banyak perempuan memiliki keterampilan luar biasa, tetapi kesulitan menjual produknya secara efektif.
Untuk menjawab persoalan tersebut, komunitas UMKM Kain Kebaya Indonesia memberikan pendampingan intensif, dimulai dari pengurusan legalitas usaha seperti Nomor Induk Berusaha (NIB). Legalitas ini menjadi pintu masuk untuk memperoleh sertifikasi Halal, SNI, hingga PIRT, sehingga produk UMKM memiliki standar yang jelas dan kepercayaan konsumen semakin meningkat.
Transformasi digital juga menjadi agenda penting. Para anggota dilatih memasarkan produk melalui platform niaga elektronik dan media sosial. Ida mengakui, adaptasi teknologi bukan hal mudah, terutama bagi ibu-ibu yang belum terbiasa.
“Di TikTok, apalagi diajari nge-live, anak sekarang mungkin sudah biasa, tapi orang seperti saya ya bingung,” tuturnya.
Meski demikian, pendampingan terus dilakukan agar produk lokal mampu bersaing di pasar digital yang kian dinamis.
Tak kalah penting, aspek manajemen keuangan turut menjadi perhatian serius. Ida menekankan pentingnya pemisahan keuangan rumah tangga dan modal usaha, termasuk pembukuan yang rapi. Langkah ini dinilai krusial agar kerja keras para pelaku UMKM tidak berakhir sia-sia.
Dengan estimasi anggota mencapai lebih dari 10.000 perempuan di Surabaya, Ida optimistis perempuan akan terus menjadi pilar tangguh ekonomi keluarga. Melalui kebaya, budaya tidak hanya dirawat, tetapi juga menjadi jalan menuju kemandirian dan kesejahteraan.






