KabarBaik.co, Jakarta,– Bayangkan seorang outside hitter dengan tinggi 169 cm yang mampu melompat setinggi gunung, menghantam bola voli dengan kekuatan petir, dan membawa Timnas Indonesia meraih medali perunggu di SEA Games 2025. Kini, di usia 26 tahun, Ersandrina Devega Salsabila tak hanya mengenakan jersey tim, tapi juga seragam TNI Angkatan Udara.
Baru empat hari lalu, dia dilantik sebagai Letnan Dua Korps Perbekalan Wanita (Letda Kal (W)), tapi passion volinya tak surut, dia kembali ke lapangan Proliga sebagai pevoli Jakarta Electric PLN, membuktikan bahwa disiplin militer dan semangat olahraga bisa berpadu sempurna.
Ersandrina atau akrab disapa Caca, lahir di Surakarta pada 16 Desember 1999. Berasal dari keluarga sederhana di Solo, dia adalah anak sulung dari pasangan Harlik dan Maryati. Bakat volinya bukan datang dari nol. Tapi, mewarisi “darah voli” dari sang ibu, Maryati, yang merupakan mantan pemain voli profesional era 1990-an hingga awal 2000-an.
Maryati pernah berkarier di level Proliga, kompetisi voli tertinggi Indonesia, dan aktif membesarkan Caca dengan fondasi olahraga ini.Sejak kecil, Caca sudah diajak ibunya ke klub amatir Vita Solo, di mana dia belajar teknik dasar seperti passing.
Dalam sebuah podcast Agustus 2025, Caca mengungkapkan warisan keluarga ini secara terbuka: “Sebenarnya orang tua kan juga atlet voli ibuku atlet voli dulu ini pemain proliga juga jadi dari kecil sudah diajarin voli dari passing gitu…”
Kutipan ini mengungkap bahwa sosok Maryati bukan hanya ibu, tapi juga mentor pertama yang membentuk karir Caca. Awal karir profesionalnya dimulai pada musim 2014/2015 bersama Jakarta Pertamina Energi. Dia belajar dasar-dasar kompetisi tingkat tinggi. Dua tahun kemudian, 2016/2017, l bergabung dengan Gresik Petrokimia, mengasah kemampuan sebagai outside hitter yang lincah dan tak kenal lelah.
Setelah jeda singkat, pada 2019/2020, Caca kembali ke lapangan dengan performa yang semakin matang. Puncaknya datang pada 2022-2025, saat dia berganti klub secara dinamis: mulai dari Jakarta TNI AU, lalu Bandung BJB Tandamata, dan akhirnya Jakarta Electric PLN. Di sini, dia menjadi salah satu motor serangan, dikenal dengan energi tak habis dan ketenangan di momen genting, jarang panik saat tim tertinggal.
Prestasi internasional Caca benar-benar meledak pada 2025. Debutnya di Timnas Voli Putri Indonesia di AVC Women’s Nations Cup membuatnya jadi bintang: sebagai debutan, keluar sebagai top skor dengan 126 poin, termasuk 58 attack dan 1 servis ace hanya dalam tiga pertandingan awal.
Statistik mentereng ini membuktikan versatilitasnya—bahkan bisa bermain sebagai opposite hitter meski posisi aslinya outside. Tak berhenti di situ, dia turut andil membawa Indonesia meraih medali perunggu di SEA Games 2025 Bangkok, Thailand.
Penampilannya di SEA V League 2025 juga diapresiasi, di mana dia jadi tumpuan serangan bersama Megawati Hangestri. Di level domestik, Caca membela TNI AU Electric Putri di Livoli Divisi Utama 2025, memperkuat ikatannya dengan institusi militer.
Transisi ke dunia militer datang sebagai penghargaan atas prestasinya. Sebelumnya, Caca sudah bergabung dengan satuan TNI AU sebagai anggota melalui jalur atlet di bawah pembinaan TNI AU, tapi naik pangkat ke perwira melalui program khusus.
Pada Januari 2026, dia pamitan sementara dari Jakarta Electric PLN untuk menjalani Pendidikan Pembentukan Perwira Khusus (Diktukpasus) Tahun 2026 di lingkungan Kodiklatau TNI AU. Jalur pendidikan formal khusus untuk atlet berprestasi, berbeda dari pendidikan perwira reguler seperti di Akademi Angkatan Udara (AAU) yang memakan waktu 3-4 tahun.
Pendidikan formal Diktukpasus fokus pada pembentukan dasar keprajuritan dan kepemimpinan militer, termasu pelatihan disiplin, nilai-nilai TNI, etika prajurit, dan pengetahuan dasar pertahanan negara. Latihan fisik militer, kesamaptaan jasmani, dan adaptasi kehidupan barak. Lalu, pembekalan kepemimpinan, administrasi militer, serta orientasi korps (dalamk asusnya, Korps Perbekalan/Logistik).
Durasi pendidikan relatif singkat Biasanya 4-6 bulan, bergantung angkatan karena peserta sudah memiliki prestasi dan latar belakang profesional. Bukan pendidikan akademik panjang seperti sekolah perwira reguler.

Program tersebut dirancang sebagai apresiasi negara, di mana atlet tetap bisa menjalankan karir olahraga sambil mengabdi sebagai perwira. Setelah lulus Diktukpasus, pelantikan dilakukan berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 5/TNI/Tahun 2026 tanggal 4 Februari 2026.
Yang menarik, pagi hari 5 Februari 2026, Caca dilantik langsung oleh Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI M. Tonny Harjono di Mabesau Cilangkap, Jakarta, bersama lima atlet lain. Tak berselang lama, Caca langsung terbang ke Malang untuk memperkuat tim Jakarta Electric PLN Mobile di hari yang sama, pertandingan pembuka putaran kedua Proliga 2026 Seri Malang di GOR Ken Arok. Malam itu, timnya menghadapi Jakarta Pertamina Enduro pada pukul 19.00 WIB, meski akhirnya kalah 0-3.
Kini, sebagai pevoli Proliga yang baru saja kembali, Caca jadi inspirasi bagi banyak atlet muda. Angle uniknya, bagaimana seorang wanita dari Solo, yang mewarisi passion voli dari ibunya, bisa menyatukan dua dunia. Militer dan olahraga, tanpa kehilangan esensi. Dari pagi salam hormat di Mabes AU, langsung terbang ke Malang untuk smash di GOR Ken Arok, dia membuktikan komitmen ganda yang luar biasa.
Di tengah kesibukan tugas TNI, dia tetap aktif berlatih, membuktikan bahwa prestasi tak selalu datang dari tinggi badan, tapi dari hati yang tak pernah menyerah. Masa depannya? Mungkin lebih banyak medali, atau bahkan jadi panutan di kedua bidang.
Ersandrina Devega Salsabila bukan hanya pemain voli; dia adalah salah satu contoh simbol ketangguhan Indonesia, lengkap dengan legacy dari ibunya. (*)






