KabarBaik.co- Momen peringatan Hari Ibu, 22 Desember 2025, mendapat makna istimewa dari lapangan panahan Hua Mak Stadium, Thailand. Diananda Choirunisa, atlet panahan putri Indonesia, mempersembahkan cerita tentang ketangguhan seorang ibu dengan meraih dua medali emas SEA Games 2025, di saat dirinya baru mengetahui tengah mengandung dua minggu.
—
Cerita membanggakan dari cabang olahraga panahan tersebut kian menyentu. Betapa tidak, kabar kehamilan itu baru diketahui Anis, panggilan Diananda Choirunisa, beberapa jam sebelum tampil di partai final, Rabu (17/12) pagi itu. Di tengah momen yang lazimnya membuat seorang perempuan memilih berhenti sejenak, Anis terus melangkah ke garis tembak. Menuntaskan perjuangannya dengan dua keping emas.
Pagi sebelum melakoni pertandingan final nomor individual recurve putri di Hua Mak Stadium, Anis mengaku sempat merasakan mual ketika bangun tidur. Namun, kondisi tersebut sama sekali tidak memengaruhi performanya. Saat pertandingan dimulai, tubuhnya justru terasa sehat dan fokusnya tak tergoyahkan.
“Iya Alhamdulillah saya berhasil mendapat dua medali emas, dan ini rezekinya dobel karena saya juga sedang hamil dua minggu. Saya baru tahu pagi tadi, dan merasa mual pagi saja ketika bangun tidur, pas pertandingan justru saya sehat,” ujar Anis dilansir dari laman resmi Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI.
Dua medali emas SEA Games Thailand 2025 itu seolah menjadi rezeki khusus bagi calon anak keduanya. Apalagi bonus medali emas yang siap diberikan pemerintah, seperti dinyatakan Menpora Erick Thohir dan Presiden Prabowo Subianto, bernilai cukup besar. Mencapai Rp 1 miliar bagi atlet peraih keping emas.
“Ya ini rezekinya anak. Dua anak bisa dapat dua medali emas atau dua miliar,” ucap Anis seusai pertandingan, sembari tersenyum.
Bagi Anos, SEA Games bukan tujuan akhir. Sejak awal kariernya, ajang ini dipandang sebagai sasaran antara. Cita-cita terbesarnya adalah Olimpiade, panggung tertinggi olahraga dunia yang pernah dirasakan dan ingin kembali dituju.
“Cita-cita saya adalah meraih medali di Olimpiade. SEA Games hanya sasaran antara buat saya. Mungkin dengan kehamilan sekarang, saya harus absen dulu di Asian Games 2026. Setelah itu saya akan fokus untuk Olimpiade Los Angeles 2028,” katanya.
Panahan bukan dunia baru bagi Anis. Perempuan kelahiran Surabaya, 16 Maret 1997 ini tumbuh di lingkungan keluarga atlet. Sejak kecil, telah akrab dengan busur, target, dan ritme latihan. Orang tuanya merupakan bagian dari komunitas olahraga, menjadikan olahraga bukan sekadar pilihan karier, melainkan warisan nilai dan disiplin.
Dari rumah itulah Anis belajar bahwa panahan bukan hanya soal ketepatan bidikan, melainkan ketenangan batin. Dia tumbuh dengan pemahaman bahwa satu tarikan napas yang salah bisa mengubah hasil, dan satu emosi yang tak terkelola bisa menggugurkan segalanya.
Warisan itu kemudian dipadukan dengan pendidikan formal. Anis menempuh studi Psikologi di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, PTN ternama Indonesia. Ilmu yang dipelajari menjadi bekal penting dalam mengelola tekanan, menjaga fokus, serta menata mental di tengah kompetisi internasional. Dia pun membagikan pengetahuannya dengan mengajar di Srikandi Archery School, Surabaya, sebagai bentuk kontribusi pada regenerasi atlet panahan.
Prestasinya pun panjang dan konsisten. Anis pernah meraih emas SEA Games Naypyidaw 2013 dan SEA Games Kuala Lumpur 2017, perak di Islamic Solidarity Games 2013, Youth Olympic Games China 2014, Asian Games 2018, serta perunggu Kejuaraan Dunia Panahan Shanghai 2018. Di level nasional, emas PON Jawa Barat 2016 dan PON XX Papua 2021 menjadi bukti ketangguhannya.
Anis pun pernah mewakili Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020. Pada Olimpiade Paris 2024, Anis kembali menunjukkan kelasnya dengan melaju hingga babak perdelapan final. Sebuah penegasan bahwa namanya tetap berada di jajaran elite panahan dunia, walaupun belum menggapai emas.
Di luar lapangan, Anis adalah istri dari Dani Pratama, atlet sepak bola profesional sekaligus personel TNI. Dani lahir di Lampung Selatan, 4 November 1995/ Dani pernah membela sejumlah klub seperti PSS Sleman, PS TNI, PSMS, Persela, hingga Nusantara United. Kesibukannya sebagai pesepak bola dan prajurit tak membuatnya abai terhadap keluarga.
Bersama putri kecilnya, Daisha, Anis dan Dani membangun rumah tangga yang hangat. Dari beberapa referensi dan pemberitaan media, mereka menyempatkan waktu untuk sekadar makan bersama, berlibur singkat, atau menemani tumbuh kembang sang anak. Dani memberi ruang sepenuhnya bagi Diananda untuk terus berprestasi, bahkan setelah menjadi ibu.
Dalam salah satu unggahan Instagram, Anis menuliskan pesan yang menggambarkan isi hati banyak ibu atlet. “Mungkin mama nggak bisa selalu ada di sampingmu setiap saat, tapi kamu selalu ada di setiap doa dan setiap langkah mama. Terima kasih sudah menjadi motivasi mama untuk terus berjuang dan berusaha.”
Narasi Diananda Choirunisa adalah narasi tentang perempuan yang menjalani banyak peran tanpa harus mengorbankan satu sama lain. Tentang atlet yang tetap membidik prestasi, dan ibu yang menempatkan anak-anaknya sebagai sumber kekuatan.
Di Hari Ibu, kisah seperti Anis ini menjadi pengingat bahwa keibuan tak selalu hadir dalam bentuk pelukan yang terus-menerus. Kadang hadir dalam fokus yang sunyi, latihan yang panjang, dan keberanian untuk tetap berdiri di garis tembak, sambil menggendong kehidupan.
Seperti anak panah yang dilepas dengan keyakinan, Diananda Choirunisa melangkah ke masa depan dengan doa sebagai arah dan cinta sebagai tenaga. Selamat Hari Ibu, 22 Desember 2025. (*)






