KabarBaik.co, Jember – Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) terus melakukan langkah strategis untuk memperkuat ekosistem koperasi di semua wilayah .
Salah satu fokus utamanya adalah melakukan sosialisasi masif guna mengubah stigma negatif dan kesan zaman dulu yang selama ini melekat pada koperasi, khususnya di kalangan anak muda.
Ketua Umum Dekopin, Bambang Haryadi mengatakan Dekpinda di daerah diminta untuk menggencarkan program-program koperasi sebagai wadah tunggal pergerakan ekonomi rakyat sesuai amanat undang-undang.
Upaya ini bertujuan untuk mengonsolidasikan lebih dari 1.000 koperasi yang ada di Jember, termasuk Koperasi Unit Desa (KUD) yang masih eksis, agar dapat bersinergi dengan program pemerintah.
Tantangan terbesar saat ini adalah meningkatkan kepercayaan (trust) publik. Banyak masyarakat yang masih menganggap koperasi hanya sebatas lembaga simpan pinjam konvensional.
“Pekerjaan rumah kita adalah meningkatkan trust publik. Kita sedang mensosialisasikan program dan juga perubahan regulasi yang sedang dibahas di DPR tahun ini. Insya Allah segera selaras dengan kondisi terkini,” ujar Bambang usai menghadiri pelantikan pengurus Dekopinda Jember di Pendopo Wahyawibawagraha, Jumat (13/3).
Untuk menarik minat generasi muda, Bambang menekankan bahwa koperasi adalah model bisnis modern yang sukses di negara-negara maju. Di Eropa, koperasi menjadi mesin penggerak ekonomi utama, seperti yang diterapkan di Swiss.
Ia mencontohkan seperti klub sepak bola raksasa dunia, FC Barcelona, yang dikelola dengan sistem menyerupai koperasi, di mana klub dimiliki oleh para anggotanya (suporter).
Model pengelolaan klub olahraga berbasis koperasi ini diharapkan bisa diadopsi di tingkat lokal, termasuk untuk klub kebanggaan warga Jember, Persid.
“Siapa tahu nanti Persid bisa didirikan atau dikelola oleh koperasi yang dimiliki oleh suporternya sendiri. Mulai dari penjualan souvenir hingga hasilnya, semua kembali dan dibagi kepada anggota,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Dekopinda Jember Ardi Pujo Prabowo mengungkapkan bahwa dalam satu dekade terakhir, eksistensi Dekopinda dirasa kurang familiar di telinga masyarakat. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya memperkenalkan kembali jati diri koperasi kepada kaum milenial dan Gen Z yang kini hidup di era digital.
“Era digitalisasi ini menuntut kita untuk bisa menampung dan mengajak anak muda agar paham tentang koperasi dan jati diri koperasi, yang saat ini mayoritas belum mereka miliki,” ujar Ardi.
Ardi menjelaskan bahwa pihaknya akan berkolaborasi dengan tokoh politik hingga Dinas Koperasi untuk memetakan kondisi riil koperasi di lapangan.
“Kami merangkul semua elemen, termasuk teman-teman partai politik dan Dinas Koperasi. Kita ingin tahu seberapa banyak koperasi yang ada di Jember, mana yang butuh perhatian khusus, termasuk Koperasi Desa Merah Putih yang menjadi program strategis nasional,” tambahnya.
Melalui sinergisitas antarlembaga ini, Dekopinda Jember optimistis dapat menghidupkan kembali koperasi-koperasi yang sempat vakum dan memperkuat pondasi ekonomi kerakyatan di wilayah tersebut. (*)






