KabarBaik.co, Mataram — Di saat gema takbir berkumandang dan keluarga berkumpul dalam hangatnya Idul Fitri, Muhammad Reza Pahlevi justru bersiap meninggalkan rumah. Bukan tanpa alasan, pria 35 tahun ini memikul tanggung jawab sebagai Ketua Tim Jaga di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUP Nusa Tenggara Barat (NTB), tempat di mana detik-detik penentuan hidup dan mati kerap terjadi.
Lebaran baginya bukan sekadar perayaan, tetapi juga ujian antara panggilan keluarga dan panggilan kemanusiaan. Tahun ini terasa lebih berat. Anak-anaknya harus ia tinggalkan di rumah, sementara sang istri tengah menjalankan ibadah umrah. Anak bungsunya pun harus dititipkan kepada sang nenek.
“Senangnya kita bisa ketemu dengan Lebaran tahun ini, tapi agak sedih juga karena waktu bersama keluarga tidak banyak seperti teman-teman yang lain. Malam takbiran, salat Ied pagi-pagi, langsung menuju rumah sakit menjemput tugas. Sementara anak yang paling kecil kita titip sama mbahnya karena ibunya kebetulan masih umroh,” tutur Reza dengan nada lirih, Sabtu (21/3).
Ini bukan pertama kalinya ia merayakan Idul Fitri di balik pintu IGD. Sudah dua tahun terakhir, Reza mengabdikan momen sakral tersebut untuk berjaga, memastikan setiap pasien yang datang mendapatkan penanganan terbaik. Baginya, ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa yang juga dipahami oleh keluarganya yang berlatar belakang tenaga kesehatan.
Namun di balik ketegaran itu, Reza menyimpan banyak cerita tentang wajah lain Lebaran di ruang gawat darurat. Beberapa hari menjelang hari raya, IGD kerap dipenuhi korban kecelakaan lalu lintas, sebuah ironi di tengah euforia mudik dan silaturahmi.
“Menjelang Lebaran, dua atau tiga hari sebelumnya, kebanyakan pasien kecelakaan lalu lintas,” ungkapnya.
Belum usai itu, gelombang pasien kembali datang pasca Lebaran. Kali ini, mereka yang tumbang akibat pola makan berlebihan, terutama hidangan bersantan khas hari raya yang memicu serangan jantung.
Di tengah tekanan dan kesibukan itu, secercah kehangatan hadir dari rekan-rekan kerja yang berbeda keyakinan. Saat Reza menunaikan salat Idul Fitri, mereka tanpa ragu mengambil alih tugas, menjaga ritme pelayanan tetap berjalan.
Bagi Reza, inilah makna Lebaran yang sesungguhnya, bukan hanya tentang berkumpul, tetapi juga tentang saling menjaga dan menghargai.
“Semoga suasana toleransi di tempat kerja tetap terjaga, sehingga pelayanan kepada pasien bisa terus berjalan dengan baik,” harapnya.
Di balik riuhnya takbir dan gemerlap hari raya, ada mereka yang tetap berdiri di garis depan, menunda rindu, menahan lelah, demi satu hal yang tak ternilai, menyelamatkan nyawa.(*)






