Di Balik Murah dan Tren: Fast Fashion Menggoda, Lingkungan Menanggung Luka

oleh -175 Dilihat
IMG 20260503 WA0052
Fast fashion membuat bumi harus menanggung beban yang tidak sedikit. (Foto: Dani) 

KabarBaik.co, Surabaya – Fenomena fast fashion kian menjamur dan menjadi gaya hidup baru di dunia mode, termasuk di Indonesia. Dengan harga terjangkau, desain yang selalu mengikuti tren, serta kecepatan produksi yang tinggi, industri ini berhasil memikat konsumen dari berbagai kalangan.

Dalam hitungan minggu koleksi baru terus bermunculan. Merek lokal hingga internasional berlomba menghadirkan produk terkini dengan harga yang semakin kompetitif. Konsumen pun dimanjakan dengan banyaknya pilihan yang murah dan mudah diakses.

Namun, di balik gemerlap etalase dan tren yang silih berganti, ada dampak besar yang kerap luput dari perhatian: kerusakan lingkungan.

Aktivis lingkungan dari Nol Sampah Surabaya, Hanie Ismail, mengingatkan masyarakat untuk tidak hanya terpukau pada tampilan luar produk fashion. Ia menegaskan bahwa penting untuk melihat dampak lingkungan dari setiap pakaian yang diproduksi dan dikonsumsi.

“Inovasi dan produk yang berkelanjutan perlu diperhatikan untuk lingkungan yang lebih sehat. Perubahan pola konsumsi dan produksi dalam industri fashion menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan lingkungan,” kata Hanie, Minggu (3/5).

Menurut Hanie, konsumen memiliki peran penting dalam mengendalikan laju fast fashion. Ia mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam berbelanja, tidak sekadar tergoda diskon atau tren sesaat. Memilih produk lokal, menggunakan bahan ramah lingkungan, serta membeli pakaian yang tahan lama menjadi langkah awal yang bisa dilakukan.

Selain itu, kebiasaan sederhana seperti mendaur ulang pakaian lama, memperbaiki pakaian yang rusak, hingga mengurangi pembelian berlebih dinilai mampu memberikan dampak signifikan bagi lingkungan.

Tidak hanya konsumen, peran pemerintah dan pelaku industri juga menjadi krusial. Regulasi yang tegas serta dorongan terhadap inovasi berkelanjutan dinilai perlu untuk menekan dampak negatif industri ini.

Secara karakteristik, fast fashion dikenal dengan perputaran tren yang sangat cepat, biaya produksi rendah, serta penggunaan bahan yang cenderung tidak tahan lama. Produksi massal yang kerap dilakukan di negara berkembang juga sering dikaitkan dengan isu upah rendah dan kondisi kerja yang kurang layak.

Dampak lingkungannya pun nyata. Limbah pewarna tekstil mencemari sungai, mikroplastik dari bahan poliester mencemari laut, serta penggunaan pestisida dalam produksi kapas merusak tanah dan membahayakan kesehatan pekerja. Penggunaan bahan kimia berbahaya juga turut mengancam ekosistem.

Fast fashion memang menawarkan kemudahan dan gaya. Namun, di balik itu, bumi harus menanggung beban yang tidak sedikit.

Jika industri mode ingin terus berkembang, perubahan menuju praktik yang lebih berkelanjutan menjadi keniscayaan. Tanpa itu, bukan hanya lingkungan yang terancam, tetapi juga masa depan generasi mendatang. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.