Di Tengah Hening Ramadan: Sang Pembela Perempuan Telah Berpulang

oleh -34 Dilihat
IMG 20260301 124228

BULAN  suci Ramadan telah memasuki hari-hari pertengahannya ketika umat Islam di Indonesia masih khusyuk menjalankan ibadah puasa. Di hari ke-11 Ramadan 1447 Hijriah atau bertepatan dengan Minggu, 1 Maret 2026, sebuah kabar duka menyapa warga Nahdliyin di tanah air.

Hj Margaret Aliyatul Maimunah MSi, sosok yang selama ini tegak membela hak-hak perempuan dan anak, berpulang ke Rahmatullah di RS Fatmawati, Jakarta Selatan.

Kepergiannya terasa begitu dekat. Baru tiga pekan sebelumnya, pada 7 Februari 2026, publik masih melihat unggahan terakhir di akun Instagramnya masih merekam kepeduliannya pada nasib anak-anak Indonesia. Dalam sebuah video yang diunggahnya, Ning Liya—sapaan akrabnya –tampak duduk berdampingan dengan Mbak Alissa Wahid (putri Gus Dur) dalam sebuah program talkshow di televisi.

Keduanya membahas kasus yang memilukan hati: seorang anak SD di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli buku dan pena seharga Rp10 ribu . Korban yang masih duduk di kelas 4 SD itu meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya yang membuat siapapun menitikkan air mata: “Mama, saya pergi dulu. Mama relakan saya pergi. Jangan menangis ya Mama” .

Di usia yang baru 47 tahun, Ning Liya berpulang meninggal di bulan yang penuh ampunan, saat doa-doa mudah diangkat ke langit. Usianya mungkin baru 47 tahun, tapi warisannya terasa abadi, seperti akar pohon yang menancap kuat di tanah. Sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU periode 2022-2027 dan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Ning Liya bukan hanya pemimpin organisasi. Dia juga inspirasi bagi jutaan perempuan muda yang berjuang di garis depan sosial dan keagamaan.

Lahir pada 11 Mei 1978 di Denanyar, Jombang, Jawa Timur, sebuah kabupaten yang sarat dengan sejarah keilmuan Islam tradisional. Alamarhumah adalah putri kedua dari pasangan KH Mohammad Faruq dan Hj Lilik Chodijah Aziz Bisri, yang keduanya berasal dari keluarga ulama terkemuka.

Tak heran jika Ning Liya disebut sebagai cucu buyut salah satu pendiri NU, KH Bisri Syansuri—garis keturunan yang membentuk karakternya sejak dini. Masa kecilnya dihabiskan di Pondok Pesantren Denanyar, tempat ia menempuh pendidikan tingkat SMP dan SMA. Lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya ini membekali dirinya dengan pengetahuan yang tak hanya spiritual, tapi juga akademis.

Perjalanan karirnya adalah cerita tentang dedikasi tanpa henti. Sebelum menjadi Ketua Umum Fatayat NU, aktif sebagai aktivis perempuan, terlibat dalam berbagai isu sosial seperti pemberdayaan ekonomi dan perlindungan anak. Pada 2022, dalam Kongres XVI Fatayat NU di Palembang, Sumatera Selatan, dia terpilih secara aklamasi menggantikan Anggia Ermarini. Di bawah kepemimpinannya,

Fatayat NU—yang memiliki sekitar 10 juta anggota perempuan muda usia 25-45 tahun—memperkuat program literasi keuangan syariah, bekerja sama dengan lembaga seperti Prudential Syariah. Tak berhenti di situ, sebagai Ketua KPAI, ia gigih memperjuangkan hak anak-anak korban kekerasan dan eksploitasi. “People can’t keep quiet,” katanya dalam sebuah wawancara, menekankan pentingnya suara perempuan dalam menghadapi ketidakadilan.

Dan, unggahan soal anak di NTT itu seolah menjadi pesan kegetiran dan satu paradoks di negeri ini.

Kabar meninggalnya Ning Liya menyebar cepat, disertai ucapan belasungkawa dari berbagai pihak. Keluarga besar Pelajar Nahdlatul Ulama menyatakan, “Semoga almarhumah husnul khotimah, perjuangan serta amalnya diterima di sisi-Nya.”

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) juga turut berduka, mengakui dedikastinya sebagai inspirasi bagi perjuangan politik dan sosial.

Unggahan terakhirnya tentang anak NTT itu kini dibanjiri komentar duka, seolah menjadi surat wasiat digital yang mengingatkan kita pada konsistensinya: hingga detik akhir, pikirannya tertuju pada nasib anak-anak bangsa.

Kepergian Ning Liya meninggalkan lubang besar di Fatayat NU dan KPAI. Tapi, seperti yang ia ajarkan, perjuangan tak pernah berhenti. “Semoga Allah SWT menerima amal ibadahnya, diberikan tempat terbaik di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” begitu bunyi ucapan duka, yang menjadi awal dari banyak tribut serupa.

Di bulan yang mulia, bangsa ini kembali kehilangan seorang pejuang yang tak kenal lelah. Margaret Aliyatul Maimunah bukan hanya nama, ia adalah nyala api yang menerangi jalan bagi generasi perempuan NU selanjutnya. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.