KabarBaik.co, Malang – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang menemukan kandungan bakteri Escherichia coli (E.coli) serta zat pewarna sintetis Rhodamin B pada sejumlah sampel takjil yang diuji selama Ramadan. Hal tersebut dinyatakan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif.
Husnul mengatakan, hasil uji laboratorium menunjukkan masih ada makanan dan minuman takjil yang tidak memenuhi syarat kesehatan. “Dari laporan teman-teman di lapangan sebanyak 98,8 persen memang memenuhi syarat. Tapi ada sebagian kecil yang tidak, dan itu tetap menjadi perhatian kami,” ujar Husnul.
Ia menjelaskan, pengambilan sampel dilakukan di 19 titik pasar takjil yang tersebar di lima kecamatan di Kota Malang. Kegiatan tersebut dilaksanakan selama tiga hari, yakni 23 hingga 26 Februari dengan melibatkan pihak kelurahan serta puskesmas setempat.
Dari total 101 sampel yang diuji untuk kandungan bakteri, sebanyak 10 sampel atau sekitar 9,9 persen dinyatakan terpapar bakteri E.coli. Sementara itu, 91 sampel lainnya dinyatakan memenuhi syarat kesehatan. Selain itu, dari 69 sampel yang diuji untuk kandungan zat pewarna, empat sampel di antaranya positif mengandung Rhodamin B. Artinya sekitar 5,8 persen sampel tidak memenuhi syarat.
Rhodamin B diketahui merupakan zat pewarna sintetis yang dilarang digunakan dalam makanan karena berpotensi membahayakan kesehatan jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Di sisi lain, Dinkes memastikan tidak ditemukan kandungan bahan kimia berbahaya lain seperti boraks pada 73 sampel, formalin pada 72 sampel, serta methanil yellow pada 25 sampel yang telah diuji.
Meski mayoritas takjil dinyatakan aman dikonsumsi, Husnul menegaskan pihaknya tetap menindaklanjuti pedagang yang produknya terindikasi mengandung bakteri maupun zat berbahaya. “Sudah kami tindak lanjuti karena datanya jelas, ada alamat dan nama pedagangnya. Kami sampaikan bahwa makanan dan minuman yang dijual mengandung bahan yang tidak direkomendasikan,” katanya.
Dinkes juga mengimbau para pedagang untuk memperbaiki kualitas bahan baku dan proses pengolahan makanan guna mencegah kontaminasi bakteri. Menurut Husnul, aspek kebersihan serta pemilihan bahan tambahan pangan yang aman menjadi kunci agar takjil yang dijual tidak membahayakan konsumen.
“Harapan kami setelah hasil laboratorium disampaikan, ke depan bahan-bahan tersebut tidak kembali digunakan saat menyajikan makanan yang akan dijual berikutnya,” tegasnya. (*)






