Diungkap Dirut Trans7, Ini Bos PH yang Bikin Tayangan Bermasalah Xpose Uncensored

oleh -1706 Dilihat
DIRUT TRANS7 scaled
Direktur Utama Trans7 Atiek Nur Wahyuni (kanan) saat rapat di DPR, Kamis lalu (16/10).

KabarBaik.co- Polemik besar tayangan Xpose Uncensored Trans7 edisi 13 Oktober 2025, belakangan juga menyeret nama rumah produksi (PH) Shandika Widya Cinema. PH inilah yang membuat tayangan yang menuai kecaman luas lantaran dianggap menyinggung kiai, santri, dan pesantren.

Lantas siapa pemilik PH itu? Kini, publik mengetahui bahwa PH yang bekerja sama dengan Trans7 itu bernama Shandika Widya Cinema dengan pemilik Herianto beralamat di Cipinang. Data itu terungkap dalam rapat gabungan antara DPR RI, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdig), manajemen Trans7, dan Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal), Kamis (16/10/2025).

Dalam rapat tersebut, Direktur Utama Trans7 Atiek Nur Wahyuni menegaskan bahwa program itu tidak diproduksi secara in-house oleh Trans7. “Program Xpose Uncensored itu diproduksi oleh rumah produksi Shandika Widya Cinema, bukan oleh internal Trans7,” ujar Atiek di hadapan anggota dewan. yang juga ditayangkan banyak media itu

Atiek juga mengungkap sosok pemilik PH tesebut. “Pimpinan dari Shandika adalah Bapak Heriyanto, beralamat di Cipinang,” imbuhnya. Dalam kesempatan itu,  selain menyampaikan permohonan maaf, Atiek juga menegaskan bahwa pihaknya sudah memutus hubungan kerja sama dengan PH bersangkut sehari setelah tayangan itu memunculkan reaksi publik.

Setelah mendapat data itu, publik melacak profil Shandika Widya Cinema (SWC) serta siapa Herianto, bos PH tersebut. Ternyata, SWC adalah rumah produksi yang berdiri sejak lama. Yakni, sejak 1995 silam. PH itu dipimpin oleh Herianto, nama lengkapnya Henricus Herianto, yang disebut sebagai salah seorang anak dari almarhum Pollycarpus Swantoro.

Perusahaan SWC berlokasi di Jalan Media Masa Blok K No.188, Cipinang Muara, Jatinegara, Jakarta Timur. Selama ini, SWC dikenal sebagai salah satu PH produktif yang menelurkan banyak program hiburan populer di berbagai stasiun televisi swastas nasional. Di antaranya, Kabar Kabari (RCTI), Status Selebritis (SCTV), Hot Issue (Indosiar), BestKiss (Indosiar), Untold Story (NET.), Potret Selebriti (MDTV), dan Xpose Uncensored (Trans7).

Tayangan Expose Uncensored di Trans7 bermula ketika menayangkan episode yang menyoroti kehidupan pesantren pascamusbah robohnya musala di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur. Tayangan tersebut menimbulkan kemarahan publik lantaran dianggap merendahkan dan menghina kiai, santri dan pesantren. Terlebih narator, pembaca naskah, nada bicaranya.

Sejumlah kalangan pun bereaksi. Mulai dari NU, Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan beberapa Ormas Islam lainnya. Menteri Agama (Menag) dan sejumlah parpol juga menyesalkan tayangan tersebut. Meski manajemen Trans7 sudah meminta maaf, baik melalui pernyataan terbuka maupun datang  ke Pesantren Lirboyo, karena KH Anwar Manshur yang merupakan pengasuh Pesantren sepuh itu menjadi objek visual dalam tayangan.  namun gejolak aksi dan reaksi masih terjadi di banyak tempat.

Sementara itu, selain menuntut Trans7 meminta maaf, sejumlah pihak juga tengah menuntut agar PH dengan pemilik Henricus Herianto itu untuk bertanggungjawab. Bahkan, sebagian juga melacak siapa narator dalam tayangan Xposes Uncensored Trans7 itu. Sebelumnya, selain melaporkan ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), beberapa organisasi juga melaporkan perkara ini ke polisi. Publik pun tentu menunggu tindak lanjut dari duan tersebut.

Reaksi Pagar Nusa

Sementara itu, Pencak Silat Nahdlatul Ulama (Pagar Nusa NU) secara resmi juga melayangkan tuntutan terbuka kepada Trans7. Dalam pernyataan resmi yang dirilis di Jakarta pada Sabtu (18/10), Ketua Umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa NU Muchamad Nabil Haroen atau Gus Nabil, menyebut tayangan tersebut bukan sekadar kekeliruan teknis, melainkan kelalaian moral yang serius serta bentuk pengkhianatan terhadap nilai-nilai luhur bangsa.

“Pesantren bukan tempat hiburan. Kiai bukan bahan olok-olok. Mereka adalah penjaga akidah, benteng kebudayaan, dan pilar keutuhan republik,” tegas Gus Nabil.

Pagar Nusa menilai tayangan itu telah melukai perasaan umat Islam, terutama para santri, sekaligus mencederai kehormatan pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pengkaderan moral bangsa. Karena itu, Pagar Nusa menuntut dua hal penting kepada pihak Trans7 dan induk perusahaannya, Trans Corp. Pertama, agar menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada umat Islam, para kiai, santri, dan seluruh keluarga besar pesantren atas tayangan yang dianggap melecehkan martabat ulama dan pesantren.

Kedua, agar mengambil langkah konkret dan bertanggung jawab untuk memulihkan marwah kiai dan pesantren yang telah tercoreng akibat tayangan Xpose Uncensored. “Selama tuntutan ini belum terpenuhi, Pagar Nusa akan terus melakukan aksi serupa dengan kekuatan yang lebih besar. Ini adalah wujud kesetiaan kami dalam menjaga kehormatan kiai dan marwah pesantren di seluruh Indonesia,” tegasnya.

Lebih lanjut, Gus Nabil menegaskan bahwa gerakan “Bela Kiai, Jaga Pesantren” bukan sekadar bentuk perlawanan, melainkan manifestasi cinta dan kesetiaan terhadap ulama serta nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin. “Bela Kiai adalah Bela Negeri. Menghina Pesantren berarti menghina akar bangsa ini. Pokoknya, Bela Kiai Sampai Mati,” ujar Gus Nabil.

Dia juga memastikan bahwa Pagar Nusa tidak akan tinggal diam ketika kehormatan kiai dan pesantren dilecehkan. Organisasi bela diri di bawah naungan Nahdlatul Ulama itu siap mengerahkan seluruh kekuatan moral dan kultural untuk menegakkan keadilan serta memulihkan marwah pesantren di ruang publik. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini



No More Posts Available.

No more pages to load.