Dukung Transisi Energi, PGN Pimpin Studi Ekosistem CCS dan Blue Ammonia

oleh -204 Dilihat
PGN
PGN resmi menyepakati kerja sama strategis untuk menggodok studi teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau Carbon Capture and Storage (CCS).

KabarBaik.co, Jakarta – PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) kian mantap menapaki jalan transisi energi bersih. Melalui statusnya sebagai Subholding Gas Pertamina, PGN resmi menyepakati kerja sama strategis untuk menggodok studi teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau Carbon Capture and Storage (CCS).

Langkah besar ini dikukuhkan lewat penandatanganan Joint Study Agreement (JSA) di sela-sela gelaran IPA Convex 2026, Kamis (21/5).

Tidak sendirian, PGN bersinergi dengan raksasa energi dan industri nasional lainnya, yaitu Holding Migas PT Pertamina (Persero), PT Pertamina Hulu Energi (PHE), dan PT Pupuk Indonesia (Persero). Kolaborasi ini membidik satu tujuan besar: mengembangkan ekosistem amonia rendah karbon (blue ammonia) di tanah air.

Melalui studi komprehensif ini, keempat korporasi akan memetakan kelayakan proyek dari segala sisi, mulai dari aspek teknis, hukum, hingga hitung-hitungan komersialnya.

Rantai pasok hijau ini nantinya akan dirancang secara terintegrasi, meliputi proses penangkapan emisi karbon di pabrik, pengangkutan gas CO_2, hingga penyuntikan aman ke perut bumi (formasi geologi bawah tanah). Dalam mega proyek ini, PGN mengambil peran krusial di sektor hilir.

“PGN bertindak sebagai penyedia transportasi CO_2. Langkah ini menjadi salah satu pilar penting dalam strategi step out kami untuk memperluas portofolio bisnis ke ranah energi bersih dan dekarbonisasi,” ungkap Direktur Infrastruktur dan Teknologi PGN, Hery Murahmanta.

Guna memuluskan rencana tersebut, PGN tidak perlu membangun segalanya dari nol. Perusahaan akan mengoptimalkan infrastruktur gas bumi yang sudah eksisting. Salah satu strategi cerdas yang diusung adalah memanfaatkan right of way (ROW) atau ruang milik jalur pipa gas yang ada saat ini untuk menggelar jaringan pipa transportasi CO_2.

“Kami ingin mengintegrasikan infrastruktur yang sudah ada dengan teknologi masa depan untuk menekan emisi. Pemanfaatan ROW jalur pipa eksisting ini akan membuat pembangunan ekosistem CCS jadi jauh lebih cepat dan efisien,” tambah Hery.

Langkah ini sekaligus menegaskan posisi PGN sebagai urat nadi atau transporter utama CO_2 di masa depan.

Sebagai tahap awal, studi bersama ini akan membidik wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur. Kedua wilayah ini dipilih karena menjadi rumah bagi berbagai klaster industri besar dengan tingkat konsumsi energi yang tinggi. Meski demikian, PGN dan mitra tidak menutup mata untuk memperluas studi ke wilayah strategis lain di Indonesia yang memiliki potensi ekonomi menjanjikan.

Sinergisitas lintas sektor antara Pertamina Group dan Pupuk Indonesia ini diharapkan bisa menjadi pelopor penerapan teknologi CCS di Indonesia.

Kolaborasi ini menggabungkan tiga kekuatan utama: keahlian sektor hulu dari PHE, gurita infrastruktur dari PGN, serta kapasitas industri pupuk dan amonia dari Pupuk Indonesia.

Jika berjalan mulus, proyek ini tidak hanya akan melahirkan nilai ekonomi baru yang menjanjikan, tetapi juga menjadi benteng baru bagi ketahanan energi nasional yang lebih ramah lingkungan.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.