Ekspektasi dan Cinta; Mimpi Timnas Indonesia Menuju Piala Dunia

oleh -735 Dilihat
HUD

OLEH: M. SHOLAHUDDIN*)

PERNAHKAH Anda berteriak, “Wasit, matamu buta ya? Itu jelas penalti woi! Kartu merah.” Padahal, Anda sendiri tidak terlalu paham aturan offside atau pelanggaran?

Atau pernah ngedumel soal penampilan pemain. Membodoh-bodohkan. ‘’Gobl*k! Tinggal memasukkan saja nggak bisa!’’ Begitu enak kita mengomentari. Baik saat nonton langsung di tribun ataukah melalui layar kaca. Padahal, kalaupun Anda jadi pemainnya, bisa jadi belum tentu juga. Sebab, saat bermain di lapangan., pasti situasinya sungguh berbeda bukan?

Tapi, itulah seni. Keindahan, bahkan kekonyolan, menjadi suporter. Emosi adalah bumbu penyedap dalam sepak bola. Tanpa emosi, pertandingan akan terasa seperti makan nasi putih tanpa lauk. Hambar.

Emosi juga bisa bikin kita terlihat seperti baru kali pertama nonton bola. Misalnya, ketika tim kesayangan kalah, kita langsung menyalahkan segala hal. Mulai dari pelatih, wasit, rumput lapangan, sampai-sampai jersey tim yang kurang membawa keburuntungan. Padahal, mungkin saja tim yang kita dukung sedang tidak dalam performa terbaik. Atau memang kalah kelas.

Namun, ada pula suporter yang lebih memilih bersikap rasional. Mereka tipe orang yang akan menganalisa pertandingan dengan kepala dingin. Mempelajari data dan faktas statistik, dan tidak mudah terpancing emosi. Mereka mungkin akan berkata. “Ya, tim kita kalah karena strategi yang kurang tepat, materi pemainnya juga, bukan karena wasitnya.”

Menjadi suporter itu seperti pacar yang posesif. Kadang marah-marah tanpa alasan jelas. Kadang bahagia sampai lupa diri. Kadang pula ngotot membela pasangan kita, walaupun dia jelas-jelas salah. Tapi, apakah menjadi suporter yang emosional itu salah? Atau justru harus lebih rasional dalam mendukung tim kesayangan?

Seharusnya, kita memang dapat mengatur emosi. Bukan sebaliknya. Jadi, alih-alih marah-marah ketika tim kita kalah, kita bisa mencoba memahami apa yang sebetulnya terjadi? Atau ikut memberikan analisa, kira-kira bagaimana tim dapat memperbaiki performa di pertandingan-pertandingan berikutnya.

Menjadi suporter rasional, juga punya tantangan tersendiri. Kadang, dianggap kurang greget atau tidak fanatik oleh suporter lain. Padahal, sejatinya hanya mencoba agar tidak larut dalam emosi.

Emosi dan Rasionalitas Bisa Berdampingan  

Dalam psikologi, seperti disebut dalam teori Dual Process, manusia memiliki dua sistem pemrosesan informasi. Yakni, sistem cepat (emosional) dan sistem lambat (rasional). Sistem cepat membuat kita spontan berteriak ketika tim kita mencetak gol, misalnya. Sedangkan sistem lambat membuat kita ikut berpikir keras. “Bagaimana caranya tim ini bisa menang?”

Nah, sebagai suporter, kita mesti memadukan kedua sistem tersebut. Antara emosi dan rasionalitas. Kita boleh saja berteriak kegirangan saat tim menang, tapi juga perlu berpikir jernih saat tim kalah. Dengan demikian, kita tidak hanya menjadi suporter yang fanatik, melainkan juga pendukung yang cerdas.

Jadi, bagaimana menjadi suporter yang ideal? Jawabannya, menjadi fanatik tetapi jangan sampai lupa diri. Boleh saja marah ketika tim yang kita dukung kalah. Namun, jangan sampai offside. Emosional kebablasan. Apalagi sampai merusak barang-barang atau berkelahi dengan suporter tim lain. Pun sebaliknya. Boleh bahagia saat tim kita menang, tapi jangan sampai lupa bahwa sepak bola hanyalah sebuah permainan.

Sepak bola adalah cermin kehidupan. Kadang kita menang, kadang kita kalah dalam situasi tertentu. Kadang dapat rezeki banyak, kadang sedikit atau mungkin tidak sama sekali. Yang terpenting, bagaimana kita merespons setiap hasil tersebut dengan sewajarnya. Seperti pepatah Jawa: Ngono yo ngono, tapi ojo ngono.

Jadi, apakah kita harus rasional atau emosional? Jawabannya keduanya! Emosi membuat kita cinta dengan sepenuh hati, sementara rasionalitas membuat kita tetap waras. Ingat, sebagai suporter, tugas kita bukan hanya untuk berteriak. Tapi, juga memberikan energi positif. Mari dukung tim dengan penuh semangat, dengan tetap jaga akal sehat. Seperti kata pepatah, ’’Suporter yang baik adalah suporter yang tahu kapan harus berteriak dan kapan harus diam.”

***

Begitu kecewanya kita Ketika timnas Indonesia kalah melawan Australia. Bertambah kecewa kekalahannya memalukan 5-1. Mungkin tidak hanya kecewa. Sampai-sampai tidak enak makan. Tidak enak tidur. Kepikiran. Trauma saat melihat atau membaca berita-beritanya. ‘’Coba kalau tadi menang.’’

Ada pula yang emosinya luar biasa. Pecat pelatih. Pecat pengurus. Atau bubarkan saja tim sekalian. Sumpah serapah. Nah, kembali ke khittah sebagai seorang suporter. Tentu, rasanya tak ada yang berharap timnas Indonesia kalah. Kecuali sedang bertaruh judi dan timnas Indonesia harus kalah.

Kita memang tengah berekspektasi tinggi dengan timnas Indonesia. Bermimpi bagaimana Skuad Garuda bisa terbang tinggi, lantas menjejak ke Piala Dunia. Mimpi itu begitu lama. Sejak bangsa ini lahir. Mimpi mulai dari kakek-buyut. Kini, sejatinya mimpi itu sudah di depan mata. Ibaratnya, cinta kita pada timnas tengah bersemi-seminya. Nah, ketika cinta itu tidak mendapat balasan, rasa itu berubah menjadi pengalaman pahit. Cinta kita masih bertepuk sebelah tangan.

Tapi, berbahagialah karena masih memiliki rasa cinta. Kata Doel Sumbang dulu dalam sebuah lirik lagunya bahwa cinta itu anugerah. Cinta adalah emosi paling kompleks dalam kehidupan manusia. Ia mampu membuat seseorang merasa bahagia, berbunga-bunga, bahkan merasa hidup lebih berarti. Namun, pada suatu ketika bisa berubah sebaliknya.

Cinta mengajarkan tentang penerimaan hingga ketegaran. Pada akhirnya, setiap luka yang ditinggalkan oleh cinta adalah ruang belajar untuk menjadi individu yang lebih kuat dan bijak dalam memaknai arti mencintai dan dicintai. Demikian juga dengan cinta kita pada timnas Indonesia. Rasanya, tengah-tengah saja. Bagaimana menyeimbangkan antara emosi dan rasionalitas.

Pertanyaannya, apakah Timnas Indonesia saat melawan Bahrain pada Selasa, 25 Maret 2025 nanti kembali kalah? Sehingga cinta kita kembali ternoda? Ini pun lagi-lagi menguji sejauhmana cinta dalam pribadi kita. Yang pasti, tidak perlu ada cinta abadi dan sejati, kecuali kepada Sang Pemilik Keabadian. (*)

—-

*) M. SHOLAHUDDIN, penulis tinggal di Kabupaten Gresik Indonesia

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini



No More Posts Available.

No more pages to load.