KabarBaik.co – Rencana kenaikan tarif impor yang diterapkan Amerika Serikat (AS) disebut tidak berpengaruh terhadap aktivitas ekspor produk olahan ikan kaleng asal Kabupaten Banyuwangi. Alasannya karena AS bukan pasar utama produk tersebut.
Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Pemasaran PT Pasifik Harvest Indonesia Sherly Indrawati Aminoto. Perusahannya memproduksi olahan ikan sarden dan tuna dalam kemasan kaleng.
Produknya lebih banyak disuplai ke puluhan negara-negara Eropa, Timur Tengah, Afrika, Australia serta Asia Timur. Hanya sedikit saja suplai ke AS.
“Memang ada pasar di AS. Tapi tidak sebesar yang non AS,” kata Sherly, Jumat (2/5).
Sherly menyebut AS sebenarnya adalah pasar menjanjikan bagi eksportir. Semua eksportir, kata dia, mengincar AS sebagai tujuan ekspansi. Misalnya, produk udang.
“Berbeda dengan produk perikanan lain. Udang misalnya, itu pasar utamanya AS. Tapi dengan tarif tinggi menjadikan situasi tidak menentu. Pasar AS itu memang diminati karena high income levelnya,” terang dia.
Kini Sherly masih berfokus untuk melakukan ekspansi ke negara-negara lain di luar AS. Harapannya, ekspor produk ikan kaleng bisa lebih meluas.
Terbaru perusahaan ini juga melakukan ekspansi ke beberapa negara di Afrika diantaranya Kongo dan Mozambik. Setiap bulannya perusahaan mengirim 150 hingga 200 kontainer ke negara-negara Afrika. Jika dikurskan ke mata uang rupiah, nilai ekspor mencapai Rp 1 miliar per kontainer.
“Target kami adalah menjadi yang terbesar di dunia. Dengan target 6000 kontainer setiap tahun,” tegasnya.(*)






