KabarBaik.co – Ketua Dewan Kebudayaan Daerah Nusa Tenggara Barat (NTB) Prof. Abdul Wahid, menaruh harapan besar terhadap pembentukan Dinas Kebudayaan oleh Pemerintah Provinsi NTB. Ia menegaskan, kepala dinas yang akan memimpin lembaga tersebut haruslah sosok yang memiliki pemikiran besar, luas, dan berani keluar dari pola-pola lama dalam mengelola kebudayaan.
Meski enggan menyebut nama secara langsung, Prof. Abdul Wahid mengungkapkan bahwa diskusi mengenai figur yang tepat sudah lama dilakukan. Namun demikian, ia menegaskan bahwa pemerintah memiliki mekanisme dan kriteria tersendiri dalam menetapkan pejabat. “Kebudayaan itu besar dan liar, sehingga yang memimpin harus liar juga, out of the box,” tandasnya.
Menurutnya, kebudayaan tidak bisa dikelola dengan cara-cara sempit dan administratif semata. Ia menilai kebudayaan NTB harus dipahami sebagai proses yang dinamis, hidup, dan terus berkembang seiring interaksi masyarakat NTB dengan masyarakat luas, baik nasional maupun global.
Ia juga menegaskan bahwa Dewan Kebudayaan Daerah, diminta ataupun tidak diminta, memiliki kewajiban moral dan konstitusional untuk memberikan masukan kepada gubernur dan wakil gubernur NTB. Hal tersebut merupakan bentuk tanggung jawab dalam memajukan dan melestarikan kebudayaan daerah sebagaimana diamanatkan dalam peraturan daerah.
Prof. Abdul Wahid menyinggung pandangannya terhadap arah kebudayaan yang berkembang saat ini. Ia menilai wacana kebudayaan masih terlalu bertumpu pada warisan masa lalu, sementara pengembangan kebudayaan ke depan belum mendapatkan porsi yang memadai.
“Yang saya tangkap dari debat kandidat gubernur, kebudayaan masih dipahami berdiri di landasan masa lampau, bukan pada pengembangan kebudayaan kita di masa depan,” ujarnya.
Padahal, lanjutnya, masyarakat NTB hidup dan bergaul dengan masyarakat dunia. Interaksi itulah yang menjadi makna sesungguhnya dari cita-cita “NTB Mendunia”.
Dalam konteks pembinaan, Prof. Abdul Wahid menekankan pentingnya regenerasi pelaku kebudayaan. Menurutnya, kebudayaan membutuhkan sumber daya manusia muda yang aktif, kreatif, dan inovatif, bukan hanya didominasi oleh pelaku-pelaku lama.
“Jangan dibayangkan pemain kebudayaan itu orang-orang yang sudah tua. Justru kebudayaan harus diwariskan kepada generasi muda. Anak-anak sekolah harus menjadi pemain kebudayaan, mahasiswa juga, dan perguruan tinggi harus mengintegrasikan program akademiknya dengan program kebudayaan Pemerintah Provinsi NTB,” tegasnya.
Ia berharap perguruan tinggi di NTB membuka dan mengembangkan program studi maupun kegiatan akademik yang berkaitan dengan pengembangan, pelestarian, pemanfaatan, perlindungan, serta pembinaan kebudayaan.
Menutup pernyataannya, Prof. Abdul Wahid kembali menegaskan harapannya agar Dinas Kebudayaan NTB yang akan dibentuk nantinya memiliki sosok pemimpin visioner dengan perspektif global, memahami karakter masyarakat NTB yang multikultural dan kosmopolit, serta memiliki rekam jejak yang baik.
“Sosok itu harus mampu berkolaborasi, menguasai peta lapangan, dan memiliki grand design pengembangan kebudayaan NTB,” pungkasnya.(*)







