Galuh Mustiko Mumpuni, Sinden Cilik Bojonegoro yang Menawan di Kayangan Api

oleh -112 Dilihat
IMG 20260131 WA0010 1
Galuh Mustiko Mumpuni, sinden cilik Bojonegoro. (Foto: Shohibul Umam)

KabarBaik.co, Bojonegoro – Lantunan tembang beriring musik karawitan menggema di kawasan wisata Kayangan Api. Alunannya mengalir ke setiap sudut pendapa, bahkan merambat hingga ke tepian hutan jati yang mengelilingi kawasan tersebut.

Grup karawitan Sanggar Rengganis tampil memukau menghibur para pengunjung wisata api abadi. Dua sinden mengiringi pertunjukan, satu dewasa dan satu anak-anak. Keduanya tampil anggun dengan paesan Jawa yang mempercantik penampilan. Sosok sinden cilik itu adalah Galuh Mustiko Mumpuni, bocah 10 tahun asal Desa Ngaglik, Kecamatan Kasiman, Bojonegoro.

Duduk simpuhnya terlihat luwes dan anggun. Bibirnya melantunkan ragam tembang dengan suara merdu yang menghadirkan suasana syahdu. Usai tampil, Galuh mengaku sangat menikmati perannya sebagai sinden cilik. “Saya senang sekali menjadi sinden seperti ini,” ujarnya, Sabtu (31/1).

Siswi kelas IV MI Islamiyah Batokan itu bercerita, ia mulai belajar nembang sejak usia tujuh tahun. Guru pertamanya adalah kakak kandungnya sendiri yang berprofesi sebagai dalang wayang. “Kakak dalang wayang. Kakak yang pertama kali mengajari nembang,” tuturnya.

Menurut Galuh, belajar nembang sebenarnya tidak terlalu sulit, asalkan rajin berlatih. Tantangan terbesarnya justru saat tampil di depan banyak orang. “Di awal-awal dulu, saya sering grogi kalau sedang nyinden di atas panggung,” katanya sambil tersenyum.

Kini, rasa grogi itu perlahan berkurang seiring bertambahnya jam terbang. Galuh mengaku sudah cukup sering tampil di berbagai acara, terutama di wilayah Bojonegoro. Bahkan, ia juga pernah tampil di luar kota seperti Tuban, Blora, dan Ngawi. “Paling sering nyinden di Bojonegoro, di acara desa dan lainnya. Di luar kota juga pernah,” ungkapnya.

Ke depan, Galuh ingin terus melantunkan tembang dan menekuni dunia sinden. Baginya, nembang bukan hanya menyalurkan hobi, tetapi juga menentramkan hati. “Saat dewasa, saya ingin menjadi sinden terkenal seperti Ibu Sukesi Rahayu dari Surakarta. Beliau idola saya,” ujarnya.

Meski begitu, Galuh tidak berencana menjadikan sinden sebagai profesi utama. Ia bercita-cita menjadi dosen seni karawitan atau seni tari. Ia mengaku ingin melanjutkan kuliah di bidang seni. “Di Unnes, jurusan seni musik atau seni tari. Tidak di ISI, soalnya kakak sudah di situ,” jelasnya.

Dukungan penuh datang dari sang ibu, Sulistyorini. Ia mengaku bangga dan bersyukur melihat bakat seni yang dimiliki putrinya. Menurutnya, darah seni memang mengalir di tubuh Galuh karena kakeknya adalah seorang seniman karawitan.

Sulistyorini juga mengenang, sejak dalam kandungan, Galuh sudah akrab dengan tembang. Pasalnya, ia kerap mendampingi anak sulungnya yang berprofesi sebagai dalang tampil dalam berbagai pertunjukan wayang. “Kakaknya dalang, selalu saya dampingi saat tampil. Termasuk ketika saya mengandung Galuh ini,” kenangnya.

Sebagai seorang ibu, ia berkomitmen terus mendukung Galuh dalam menekuni dunia sinden, termasuk mendampingi setiap kali tampil. Ia pun memastikan pendidikan Galuh tetap menjadi prioritas. “Sekolahnya Galuh tidak terganggu. Nilai pelajarannya bagus. Alhamdulillah,” pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Shohibul Umam
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.