Kabarbaik.co Nganjuk – Maraknya penggunaan game daring atau game online di kalangan anak membawa konsekuensi serius terhadap aspek keamanan digital. Salah satu platform yang banyak digunakan adalah Roblox, dengan jumlah pengguna anak yang mencapai puluhan juta setiap harinya.
Tingginya interaksi di dalam game online tersebut membuka celah bagi munculnya berbagai risiko tersembunyi, termasuk ancaman predator anak di ruang digital.
“Tidak semua pengguna Roblox merupakan anak-anak. Sebagian pelaku kejahatan digital memanfaatkan fitur interaksi seperti chat dan roleplay untuk menyamar sebagai anak sebaya, kemudian membangun kedekatan secara perlahan,” demikian disampaikan Bagian Hukum Women Crisis Center (WCC) Nganjuk, Musida, Selasa (17/2)
Beberapa modus yang kerap digunakan antara lain mengajak anak ke ruang percakapan privat, bermain roleplay dengan tema tertentu, hingga memberikan bantuan dan hadiah dalam permainan.
“Setelah kepercayaan terbentuk, pelaku biasanya mengarahkan komunikasi ke platform lain di luar sistem pengawasan game, sehingga risiko eksploitasi meningkat,” jelasnya.
Sebagai langkah pencegahan, orang tua didorong untuk mengoptimalkan fitur pengaturan privasi yang tersedia.
“Pengendalian akses chat, pembatasan akun, serta penghubungan akun anak dengan akun orang tua dinilai penting agar aktivitas bermain dapat dipantau secara berkala,” tutur Musida yang telah lama mendampingi wanita korban kekerasan tersebut
“Membangun kebiasaan berdialog ringan tentang aktivitas bermain game membantu anak merasa aman untuk bercerita apabila menemui pengalaman yang tidak nyaman,” urainya.
Pengawasan yang bersifat mendampingi, bukan menginterogasi, menjadi kunci dalam membangun kepercayaan antara orang tua dan anak.
“Peran aktif orang tua dan lingkungan sekitar menjadi faktor utama dalam menciptakan ruang bermain daring yang aman, sehat, dan mendukung tumbuh kembang anak,” tegasnya.
Melalui peningkatan kesadaran bersama, diharapkan platform game online dapat dimanfaatkan secara positif, sekaligus meminimalkan potensi ancaman yang membahayakan anak-anak di dunia digital.
“Kita berharap dengan pemahaman yang lebih baik, anak-anak bisa menikmati manfaat teknologi tanpa harus terpapar risiko yang tidak diinginkan,” pungkasnya. (*)






