Gig Economy Kian Diminati, Akademisi Unipdu Jombang Soroti Peluang dan Tantangan Freelance

oleh -24 Dilihat
WhatsApp Image 2026 03 10 at 11.30.57 AM scaled
Dr. Wiwik Maryati memaparkan materi tentang peluang dan tantangan gig economy serta budaya kerja freelance (Istimewa)

KabarBaik.co, Jombang — Perkembangan teknologi digital ikut mengubah cara masyarakat mencari penghasilan. Salah satu fenomena yang kini semakin berkembang adalah meningkatnya pekerjaan lepas atau freelance.

Topik tersebut dibahas dalam Kajian Ramadan yang diselenggarakan Pusat Studi Qur’an Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang.

Dalam kegiatan itu, Dekan Fakultas Bisnis, Bahasa, dan Pendidikan Unipdu Jombang, Dr Wiwik Maryati, menyampaikan materi berjudul Gig Economy & Freelance Culture: Peluang Kerja Fleksibel dan Tantangan Kesejahteraan.

Wiwik menjelaskan munculnya gig economy tidak terlepas dari pesatnya perkembangan teknologi digital yang membuka berbagai peluang pekerjaan baru.

Menurut dia, model kerja berbasis proyek atau jasa kini menjadi pilihan bagi banyak orang karena memberikan fleksibilitas dalam bekerja.

“Transformasi digital membuat akses terhadap pekerjaan semakin luas. Dengan bantuan platform digital, seseorang bisa menawarkan jasa atau produk ke pasar yang jauh lebih besar,” ujar Wiwik dalam keterangannya Selasa (10/3).

Ia menyebut berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 60 persen tenaga kerja di Indonesia berada di sektor informal. Sebagian di antaranya memilih jalur pekerjaan lepas karena dinilai lebih fleksibel dan mudah diakses.

Wiwik menambahkan kelompok yang paling cepat beradaptasi dengan sistem kerja tersebut adalah generasi milenial dan generasi Z.

Menurut dia, kemampuan memanfaatkan teknologi serta belajar secara mandiri menjadi modal penting bagi generasi tersebut untuk masuk ke dunia kerja fleksibel.

“Generasi Z relatif lebih mudah beradaptasi karena terbiasa dengan teknologi digital. Banyak keterampilan yang bisa dipelajari secara mandiri dengan modal yang tidak terlalu besar,” katanya.

Selain memberikan peluang tambahan penghasilan, pekerjaan freelance juga dinilai memberi kebebasan dalam mengatur waktu kerja.

Bahkan pada periode tertentu, seperti bulan Ramadan, kebutuhan terhadap jasa lepas biasanya meningkat.

“Selama Ramadan biasanya muncul berbagai pekerjaan tambahan. Ini bisa menjadi kesempatan bagi pekerja freelance untuk mendapatkan penghasilan lebih,” ujarnya.

Meski demikian, Wiwik mengingatkan bahwa pekerjaan freelance juga memiliki sejumlah tantangan, salah satunya ketidakstabilan pendapatan.

Menurut dia, penghasilan pekerja freelance sangat bergantung pada jumlah pesanan atau proyek yang diterima.

“Ketika order banyak, penghasilan tentu meningkat. Namun saat permintaan menurun, pendapatan juga ikut berkurang,” ucapnya.

Selain itu, pekerja freelance juga harus mengelola sendiri perlindungan sosial, seperti jaminan kesehatan maupun keamanan kerja. Persaingan yang semakin terbuka juga membuat sektor ini semakin kompetitif.

Dalam perspektif Islam, kata Wiwik, pekerjaan freelance diperbolehkan selama memenuhi prinsip-prinsip muamalah yang benar, seperti adanya akad yang jelas, kejujuran, dan tidak melanggar ketentuan syariat.

“Islam memberikan kelonggaran dalam aktivitas muamalah. Selama akadnya jelas, dijalankan secara jujur dan amanah, maka pekerjaan tersebut diperbolehkan,” pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.