Gubernur Iqbal: Masa Depan Pertanian NTB Ada pada Teknologi

oleh -84 Dilihat
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal saat memberikan sambutan pada acara Serah Terima Jabatan (Sertijab) Kepala Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BPSIP/BRMP) NTB, Selasa (10/2). (Foto: Ist)

KabarBaik.co, Lombok Barat – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal menghadiri acara Serah Terima Jabatan (Sertijab) Kepala Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian (BPSIP/BRMP) NTB dari pejabat lama Awaludin Hipi kepada Hendro Cahyono, Selasa (10/2).

​Dalam sambutannya, Gubernur Iqbal mengungkapkan rasa syukurnya atas peningkatan kesejahteraan petani di NTB. Ia mencatat adanya lonjakan signifikan pada Indeks Nilai Tukar Petani (NTP) yang semula berada di angka 123 pada awal 2025, kini telah mencapai 131 di awal tahun 2026.

“Saya menyaksikan sendiri kebahagiaan para petani. Indeks Pertanaman (IP) yang tadinya 100 naik menjadi 200, bahkan ada yang mencapai 300. Ini terjadi karena biaya produksi yang semakin rendah, pupuk yang lebih mudah didapat, air tersedia, serta harga jual (HPP) yang stabil di angka Rp 6.500,” ujarnya.

Kehadiran Gubernur NTB dalam acara tersebut bukan sekadar urusan formalitas pemerintahan. Ia mengaku memiliki ikatan emosional yang kuat dengan dunia pertanian karena kedua orang tuanya adalah pejuang pertanian di NTB.

​”Darah daging saya adalah pertanian. Ibu saya dulu sarjana pertanian yang mengabdi di kementerian hingga menjadi Kepala Dinas di daerah, sementara ayah saya petani asli. Saya ingat waktu kecil sering diajak ke balai benih ini,” kenangnya.

Gubernur Iqbal menekankan bahwa masa depan pertanian NTB terletak pada intensifikasi melalui penerapan teknologi, mengingat keterbatasan lahan untuk ekstensifikasi, terutama di Pulau Lombok. Ia membandingkan produktivitas jagung dan padi di NTB yang masih tertinggal jauh dibandingkan negara luar seperti Amerika Serikat, Turki, bahkan Israel.

​”Tanah kita jauh lebih subur karena merupakan tanah vulkanik, cuaca kita lebih bersahabat. Tapi kenapa di Turki yang tanahnya berbatu bisa menghasilkan 10 ton gabah kering per hektare, sementara kita baru 6–7 ton? Kuncinya hanya satu: teknologi,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia mengajak para petani untuk memulai cara bertani sekarang milenial. Ia berharap penggunaan smartphone di kalangan petani tidak hanya digunakan untuk media sosial atau terjebak aktivitas negatif seperti judi online (slot) dan pinjaman online, melainkan untuk memantau kondisi lahan.

​”Kita harus ajak petani menggunakan ponsel untuk memantau pH tanah dan kebutuhan unsur hara. Jangan hanya jor-joran pakai pupuk yang justru merusak tanah. Dengan teknologi, petani tahu persis apa yang dibutuhkan tanahnya sebelum musim tanam tiba,” tandasnya.

​Di akhir sambutannya Gubernur Iqbal mengajak seluruh jajaran BRMP dan Dinas Pertanian untuk terus berkolaborasi memperkenalkan teknologi smart farming demi menjaga kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani di Bumi Gora.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Arief Rahman
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.