KabarBaik.co – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, turun langsung ke lokasi ambruknya bangunan musala tiga lantai di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Selasa (30/9) dini hari. Kehadirannya untuk memastikan penanganan darurat berjalan cepat dan terkoordinasi.
Khofifah menegaskan, sejak awal ia sudah meminta agar ekskavator disiapkan di lokasi. Namun, setelah meninjau langsung kondisi lapangan, ia menilai penggunaan alat berat harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak menambah risiko bagi korban.
“Ekskavator memang standby, tetapi penggunaannya sangat terbatas. Kalau mengangkat puing sembarangan bisa berbahaya, karena dikhawatirkan terjadi ambruk mendadak. Evakuasi yang dilakukan tim Basarnas sangat advanced, mereka berfokus memberikan layanan langsung kepada korban yang masih bisa berkomunikasi di bawah reruntuhan. Suplai oksigen dan air terus diupayakan agar mereka tetap bisa bertahan,” ujar Khofifah.
Selain upaya evakuasi, Khofifah juga menekankan pentingnya dukungan logistik. Ia meminta agar dapur umum lapangan segera diperbanyak, baik yang bersifat mobile maupun yang ditempatkan di area sekitar pesantren.
“Kebutuhan dapur umum, oksigen, hingga suplai air harus betul-betul dipantau. Ini semua menjadi ikhtiar yang tidak boleh berhenti. Tim bergerak rolling untuk memastikan kebutuhan itu terpenuhi,” tambahnya.
Gubernur Jatim itu juga memastikan seluruh layanan kesehatan bagi para korban akan ditangani tanpa hambatan biaya.
“Kalau yang ditangani RSUD, pembiayaan ditanggung Pemkab. Namun jika dirujuk ke rumah sakit non-RSUD, biayanya ditanggung oleh Pemprov. Jadi pesantren dan wali santri tidak perlu khawatir, semuanya akan ditangani. Tidak ada yang terkesan sulit karena alasan biaya,” tegasnya.
Lebih lanjut, Khofifah menyampaikan bahwa evaluasi menyeluruh akan dilakukan setelah proses darurat selesai. Fokus utama saat ini adalah penyelamatan korban yang masih tertimpa reruntuhan.
Diketahui, musala tiga lantai di area Ponpes Al-Khoziny ambruk pada Senin (29/9) sekitar pukul 15.00 WIB saat proses pengecoran dari lantai dua ke lantai tiga. Peristiwa tersebut memicu kepanikan santri, wali santri, dan masyarakat sekitar. Hingga kini, tim gabungan Basarnas, BPBD, TNI-Polri, dan relawan masih berjibaku melakukan evakuasi di lokasi kejadian.(*)








