Gus Yahya: Santri Marah Bukan karena NU, tapi Serangan ke Identitas Bangsa

oleh -490 Dilihat
Ketua PWNU Jatim KH Abdul Hakim Mahfudz dalam Kick-off Hari Santri 2025 di kampus Unusa, Minggu (19/10).

KabarBaik.co- Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menegaskan, kemarahan santri terhadap tayangan Xpose Uncensored di Trans7 bukan karena pesantren atau NU. Dia menyebut, tayangan itu dianggap menyerang kelompok identitas dan bisa memicu perpecahan bangsa.

“Hari Santri ke-10 tahun ini mendapat kado pahit dari tayangan televisi nasional. Tapi ada hikmah besar, yaitu pentingnya menjaga persatuan dan kemerdekaan,” kata Gus Yahya dalam Kick Off Hari Santri Nasional (HSN) 2025 di Universitas NU Surabaya (Unusa), Minggu (19/10).

Acara ini digelar PWNU Jatim bersama PBNU dan Pemprov Jatim. Hadir sejumlah tokoh, di antaranya KH Said Asrori, Prof Dr Mohammad Nuh, Prof Dr Achmad Jazidie, Dr KH Amin Said Husni, KH Abdul Matin Djawahir, dan KH Abdul Hakim Mahfudz.

Gus Yahya menegaskan, Indonesia adalah negara majemuk. Ada banyak kelompok identitas dari suku, agama, ras, dan golongan. Karena itu, serangan terhadap kelompok identitas tidak boleh dibiarkan. “NU dan pesantren juga bagian dari identitas bangsa. Kalau diserang, dampaknya bisa memecah belah,” tegasnya.

Dia mencontohkan pernikahan. “Pasangan menikah itu ingin bersatu, tapi tetap ada perbedaan. Soal sayur kurang asin atau pedas saja bisa jadi masalah. Tapi jangan jadikan perbedaan alasan untuk berpisah,” ujarnya.

Dalam acara itu juga diluncurkan buku Resolusi Jihad NU (Perang Sabil di Surabaya 1945) karya Riadi Ngasiran. Gus Yahya berharap NU terus bersatu dan menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaan.

Ketua PWNU Jatim KH Abdul Hakim Mahfudz (Kiai Kikin) menambahkan, pendidikan di lingkungan NU harus tetap menjunjung adab. Menurutnya, adab lebih penting dari pengetahuan.

“Santri mencium tangan dan menunduk di depan guru itu bukan formalitas. Itu cara menekan ego agar ilmu mudah masuk. Adab itu ajaran Nabi,” ujarnya.

Rais Syuriah PBNU Prof Dr Mohammad Nuh menyebut, kunci peradaban ada pada sumber daya manusia. “Pesantren, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi adalah pabriknya SDM. Karena itu NU memperkuat pendidikan dengan 22 universitas NU di seluruh Indonesia,” katanya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.