KabarBaik.co – Harga daging ayam di Pasar Pon Jombang kembali mengalami kenaikan menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru). Sejak pekan lalu, harga ayam yang biasanya berada di kisaran Rp 32.000–33.000 per kilogram kini menembus Rp 36.000 per kilogram.
Dewi Nurkamaru, 51, pedagang ayam di Pasar Pon, mengatakan kenaikan harga tahun ini terjadi lebih cepat dibanding tahun sebelumnya. Saat ini harga rata-rata berada di kisaran Rp 35.000 hingga Rp 36.000 per kilogram.
“Biasanya normal itu Rp 32.000–33.000 per kilo. Tapi kalau sudah dekat Natal dan Tahun Baru memang pasti naik. Sekarang tiap hari naiknya,” ujarnya, Selasa (9/12).
Menurut Dewi, selain faktor musiman menjelang Nataru, lonjakan permintaan juga dipengaruhi oleh program pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG). Program tersebut membuat kebutuhan pasokan ayam meningkat sehingga stok dari pemasok lebih cepat terserap.
“Ada program MBG itu juga. Jadi permintaan naik terus. Barang-barang lain juga ikut naik, akhirnya ayam juga ikut naik,” jelasnya.
Dewi memprediksi harga ayam saat ini sudah mendekati batas tertinggi untuk pasar Jombang. Meski begitu, ia tidak menutup kemungkinan harga dapat kembali meningkat jika pasokan menipis.
“Kayaknya pasarnya kuatnya segitu (Rp 35–36 ribu). Tapi enggak tahu kalau nanti naik lagi. Tahun kemarin juga segitu. Paling tinggi itu pas hari raya, bisa sampai Rp 40 ribu kalau Lebaran,” ungkapnya.
Ia menilai harga ayam hampir tidak mungkin kembali ke kisaran Rp 30.000 per kilogram. “Ada MBG, jadi ayam untuk turun Rp 30.000 itu kayaknya enggak bisa,” tambahnya.
Kenaikan harga ini berdampak langsung pada minat beli masyarakat. Dewi mengaku omzetnya menurun karena banyak pelanggan mengurangi jumlah belanja.
“Ya tidak begitu ramai. Pembeli juga enggak berani beli banyak. Katanya uangnya harus dibagi-bagi karena semua harga naik,” tuturnya.
Dalam kondisi normal, Dewi mampu menjual hingga 5 kuintal ayam pada hari-hari ramai. Namun kini jumlah tersebut turun cukup signifikan. Selain daging ayam, ia juga menjual balungan ayam seharga Rp 5.000 per kilogram dan jeroan ayam Rp 30.000 per kilogram.
Keluhan juga datang dari Umrotin, 43, seorang pembeli yang menggunakan ayam sebagai bahan baku jualan mie ayam. Ia mengaku kenaikan harga ini membuat modal usaha membengkak.
“Biasanya saya bisa beli agak banyak untuk jualan mie ayam, tapi sekarang harus dikurangi soalnya mahal. Modal makin besar, sementara kalau harga jual dinaikkan pelanggan pasti banyak yang protes,” ujarnya.
Umrotin kini harus lebih mengatur pengeluaran harian agar tetap bisa berjualan tanpa menaikkan harga secara signifikan.
“Kalau harga naik segini, ya jelas berat buat pedagang kecil. Kita menyesuaikan sama pelanggan juga. Kalau mie ayam dinaikkan harganya, takutnya malah makin sepi,” kata dia.
Ia berharap pemerintah maupun pemasok dapat mengambil langkah stabilisasi agar harga ayam kembali terkendali.
“Semoga cepat turunlah, biar pedagang kecil kayak kami enggak makin susah,” harapnya. (*)







