KabarBaik.co, Batu – Harga telur ayam ras di pasaran saat ini dinilai masih berada pada level yang wajar dan menguntungkan berbagai pihak, baik peternak maupun konsumen. Penasihat Perkumpulan Peternak Ayam Petelur Kota Batu, Ludi Tanarto, mengatakan harga telur di tingkat eceran saat ini berkisar Rp 28 ribu hingga Rp 29 ribu per kilogram.
Sementara, harga di tingkat kandang berada di kisaran Rp 26 ribu per kilogram lebih sedikit. Menurut Ludi, harga tersebut masih tergolong ideal karena rantai distribusi dari kandang hingga ke konsumen tetap memberikan margin yang wajar bagi pedagang.
“Dari kandang ke pedagang bakul besar, kemudian toko eceran hingga sampai ke konsumen itu berada di kisaran Rp 28 ribu sampai Rp 29 ribu per kilogram,” ujarnya saat ditemui di kantor gudangnya, Senin (9/3).
Ia menilai kondisi tersebut merupakan harga yang cukup adil bagi pelaku industri. Sebab konsumen masih mendapatkan harga yang tidak terlalu mahal, sementara peternak tetap memperoleh keuntungan meski tidak terlalu besar. “Dengan harga seperti ini peternak masih dapat untung, petani jagung juga dapat keuntungan, dan konsumen tidak mendapatkan harga yang terlalu mahal,” jelasnya.
Ludi menjelaskan bahwa komponen terbesar biaya produksi telur berasal dari pakan, terutama jagung. Saat ini harga jagung berada di kisaran Rp 6 ribu hingga Rp 6,5 ribu per kilogram. Dalam komposisi pakan ayam petelur, jagung menyumbang sekitar 50 persen dari total bahan pakan. Sementara konsentrat sekitar 30 persen dan katul berkisar 16 hingga 20 persen.
“Jagung ini memegang komponen terbesar dalam produksi telur ayam. Kalau harga jagung mahal tetapi harga telur tidak ikut naik, peternak bisa kelabakan,” ungkap Ludi. Ia menegaskan, jika harga telur di bawah Rp 26 ribu per kilogram sementara harga jagung mendekati Rp 7 ribu, maka peternak berpotensi mengalami kerugian.
Selain faktor pakan, Ludi juga menyoroti potensi dampak konflik global, khususnya perang di kawasan Timur Tengah, terhadap industri peternakan di Indonesia. Menurutnya, saat ini dampaknya memang belum terasa. Namun apabila konflik tersebut memicu kenaikan harga minyak dunia dan BBM, maka biaya produksi telur bisa ikut meningkat.
“Kalau nanti BBM naik, ongkos angkut naik, otomatis harga jagung bisa ikut naik. Selain itu konsentrat ayam petelur hampir 100 persen impor,” jelasnya. Kenaikan harga minyak dunia juga berpotensi meningkatkan biaya impor konsentrat serta ongkos logistik, yang pada akhirnya akan mendorong kenaikan biaya produksi peternak.
Karena itu, pihaknya berharap tidak terjadi gejolak harga yang signifikan di pasar global yang dapat berdampak pada keberlangsungan usaha peternak ayam petelur. “Kami tentu sangat berharap tidak ada gejolak harga yang nantinya membuat peternak mengalami kesulitan,” tandasnya. (*)






