KabarBaik.co, Singapura – Mimpi Timnas Indonesia melaju ke semifinal ASEAN Cup 2026 atau Piala AFF 2026 harus kandas di Stadion Jalan Besar, Jumat (7/8) malam. Sempat unggul lebih dulu melalui gol Ragnar Oratmangoen pada awal babak kedua, Garuda akhirnya dipaksa bermain imbang 1-1 oleh tuan rumah Singapura.
Hasil tersebut memastikan Indonesia tersingkir dari persaingan Grup A, sementara Singapura berhak mengamankan tiket semifinal dengan koleksi delapan poin. Indonesia harus puas finis di bawahnya dengan tujuh poin.
Selepas gol penyama kedudukan Ilham Fandi pada menit ke-67, pertandingan berubah menjadi pertarungan terbuka. Kedua pelatih sama-sama merespons dengan melakukan sejumlah pergantian pemain untuk mengejar hasil yang diinginkan.
Di kubu Indonesia, John Herdman lebih dulu menarik Eliano Reijnders dan memasukkan Rizky Eka Pratama guna menambah daya dobrak dari sisi lapangan. Pergantian itu nyaris langsung membuahkan hasil.
Beberapa menit setelah masuk, Rizky Eka memperoleh peluang emas setelah menerima umpan matang Thom Haye. Berhadapan langsung dengan kiper Singapura, peluang tersebut seharusnya menjadi gol kedua Indonesia. Namun penyelesaian akhirnya gagal menemui sasaran sehingga kesempatan emas itu terbuang percuma.
Memasuki 15 menit terakhir pertandingan, Herdman kembali melakukan perjudian. Victor Geypens dan Saddil Ramdani dimasukkan untuk meningkatkan intensitas serangan dengan menarik Ragnar Oratmangoen dan Wahyu Prasetyo. Menjelang akhir laga, Beckham Putra juga diturunkan sebagai opsi terakhir untuk memecah kebuntuan.
Namun, perubahan tersebut tak mampu mengubah keadaan. Alih-alih tampil lebih efektif, serangan-serangan Indonesia justru kehilangan ketenangan.
Beberapa keputusan terburu-buru dalam penyelesaian akhir maupun distribusi bola membuat peluang demi peluang terbuang sia-sia. Kesalahan-kesalahan elementer yang jarang terlihat sepanjang turnamen justru muncul pada momen paling menentukan.
Di sisi lain, Singapura bermain semakin tenang. Pergantian pemain yang dilakukan pelatih The Lions berhasil menjaga keseimbangan permainan dan meredam tekanan Indonesia hingga peluit panjang dibunyikan.
Statistik pertandingan menunjukkan Indonesia sebenarnya tampil lebih dominan. Garuda menguasai 59 persen penguasaan bola, berbanding 41 persen milik Singapura. Indonesia juga melepaskan 15 tembakan, jauh lebih banyak dibanding sembilan milik tuan rumah.
Meski demikian, efektivitas menjadi pembeda. Kedua tim sama-sama mencatatkan empat tembakan tepat sasaran, tetapi Singapura mampu memaksimalkan salah satunya menjadi gol penyeimbang. Nilai expected goals (xG) Indonesia juga unggul dengan 1,44 dibanding 0,65 milik Singapura, menandakan Garuda sebenarnya menciptakan peluang yang lebih berkualitas.
Indonesia turut unggul dalam jumlah peluang besar (big chances) dengan dua kesempatan, sedangkan Singapura hanya satu. Garuda juga memperoleh tujuh tendangan sudut, berbanding tiga milik tuan rumah, serta mencatat akurasi operan mencapai 84 persen dari 343 umpan. Sementara Singapura membukukan akurasi operan 75 persen dari 248 operan.
Sayangnya, dominasi statistik itu tak berbanding lurus dengan hasil di lapangan. Peluang emas Rizky Eka yang gagal dikonversi menjadi gol, ditambah buruknya penyelesaian akhir pada menit-menit krusial, menjadi gambaran bagaimana Indonesia gagal memanfaatkan momentum.
Sejumlah kartu kuning yang diterima pemain Garuda di penghujung pertandingan juga mencerminkan tingginya tensi sekaligus frustrasi karena waktu terus berjalan tanpa gol kemenangan.
Hasil imbang 1-1 menjadi akhir perjalanan Indonesia di fase grup ASEAN Cup 2026. Sementara Singapura merayakan kelolosan ke semifinal bersama Vietnam, Garuda harus pulang lebih cepat setelah gagal mengamankan kemenangan pada laga penentuan yang sesungguhnya sempat berada dalam genggaman.
Di babak semifinal, timnas Singapura sebagai runner-up grup A akan berhadapan dengan Thailand. Sementara Vietnam sebagai juara juara A, akan menunggu hasil akhir laga grup besok (8/8).
Kegagalan timnas inipun menjadi catatan buruk bagi John Herdman di tengah target juara dari federasi, setelah tampil enam kali di final yang gagal berbuah trofi juara. Kegagalan lolos dari fase grup ini sekaligus mengulangi catatan hitam pada Piala AFF 2024 lalu. Tapi, tetap semangat! (*)






