Hitung-Hitungan Baru Persebaya Surabaya di Tangan Tavares: Dari Papan Tengah ke Tangga Juara

oleh -1345 Dilihat
Bernardo Tavares, pelatih baru Persebaya Surabaya (Foto IG)

KabarBaik.co- Sepak bola modern tidak lagi semata soal intuisi dan semangat. Namun, telah berubah menjadi permainan angka, tren, dan margin kecil yang menentukan arah angin musim. Di titik inilah Persebaya Surabaya memasuki fase krusial BRI Super League 2025/2026. Bukan hanya karena kedatangan Bernardo Tavares, tetapi karena untuk kali pertama musim ini, jarak Persebaya dengan papan atas bisa dihitung secara konkret.

Saat ini, per 2 Januari 2026, dengan 22 poin dari 15 laga, Persebaya berada di peringkat ketujuh klasemen sementara. Rata-rata 1,47 poin per pertandingan menempatkan Bajul Ijo sebagai tim papan tengah atas yang relatif aman. Namun, jika dibandingkan dengan rival langsung di papan atas, yaitu Persib Bandung, Persija Jakarta, dan Borneo FC, terlihat jelas bahwa masalah Persebaya bukan kualitas dasar, melainkan efisiensi.

Persib, Persija, dan Borneo berada di jalur rata-rata poin sekitar 1,9 hingga 2,1 per laga. Perbedaan 0,4–0,6 poin per pertandingan tampak kecil, tetapi jika dikalikan satu musim penuh, maka jaraknya bisa mencapai 12–15 poin. Inilah jurang yang harus dijembatani Persebaya, bukan dengan keajaiban, tetapi dengan perbaikan detail.

Seri yang Terlalu Mahal

Paruh pertama menunjukkan Persebaya terlalu sering berbagi poin. Tujuh hasil imbang dari 15 laga mengungkap satu kenyataan, tim ini jarang benar-benar kalah, tetapi juga jarang benar-benar mematikan lawan. Rival papan atas, seperti Persib dan Persija, cenderung “kejam” di laga menengah dan bawah. Mereka tidak selalu dominan, tetapi selalu tahu cara mengamankan kemenangan tipis. Borneo FC bahkan lebih ekstrem—mereka jarang tampil spektakuler, tetapi sangat efisien dalam mengelola keunggulan.

Persebaya, sejauh ini, belum sampai di level itu. Inilah penyebab utama mengapa peluang juara untuk Persebaya di musim ini tipis, meski tetap terbuka.

Masuknya Bernardo Tavares harus dibaca sebagai upaya mengejar ketertinggalan struktural tersebut. Persebaya tidak tertinggal jauh secara kualitas skuad, tetapi tertinggal dalam konsistensi pengambilan poin.

Secara matematis, untuk mendekati level Persib, Persija, dan Borneo, Persebaya perlu menaikkan rata-rata poin menjadi minimal 1,7–1,8 per laga. Itu berarti menambah sekitar 6–8 poin dari sisa musim. Target ini tidak mengharuskan Persebaya mengalahkan semua rival besar. Cukup dengan mengurangi jumlah seri dan kekalahan di laga yang seharusnya bisa dimenangkan.

Putaran kedua akan mempertemukan Persebaya secara langsung dengan ketiga rival tersebut. Laga-laga ini bukan hanya soal tiga poin, tetapi soal “enam poin” secara psikologis dan matematis. Kekalahan tidak hanya membuat Persebaya kehilangan angka, tetapi sekaligus memperlebar jarak dengan rival.

Namun sejarah liga menunjukkan, tim papan atas jarang benar-benar ditentukan oleh laga besar. Persib, Persija, dan Borneo membangun posisi mereka dari kemenangan rutin atas tim papan tengah dan bawah. Jika Persebaya ingin naik kelas, mereka harus meniru pola itu.

Hitung-Hitungan Poin Realistis

Dengan proyeksi realistis sekitar 49–51 poin, Persebaya hampir pasti finis di posisi 5 atau 6 pada musim ini. Rival papan atas diperkirakan akan mengakhiri musim di kisaran 55–62 poin. Artinya, Persebaya masih membutuhkan tambahan 4–6 poin ekstra untuk benar-benar masuk zona persaingan elite.

Tambahan itu bisa datang dari: dua kemenangan tambahan di laga imbang, atau satu kemenangan besar plus dua hasil seri di laga berat. Dalam bahasa sederhana: selisih Persebaya dengan tiga besar saat ini tidak terlalu jauh, tetapi cukup lebar untuk tidak bisa dikejar dengan setengah langkah.

Bisakah Persebaya menjadi juara? Meski peluang juara tipis, bukan berarti mustahil. Secara matematis, Bajul Ijo bisa menembus puncak klasemen jika beberapa kondisi krusial terpenuhi, Pertama, konversi seri jadi menang. Paruh pertama menunjukkan Persebaya terlalu sering berbagi poin. Jika tim mampu mengubah minimal 2–3 hasil imbang menjadi kemenangan di laga-laga sisa, itu bisa menambah 4–6 poin ekstra yang sangat menentukan.

Kedua, efek instan Bernardo Tavares. Pelatih baru harus mampu meningkatkan efektivitas tim, baik dalam organisasi pertahanan maupun produktivitas serangan. Keputusan taktis yang tepat di laga berat bisa membuat Persebaya mencuri poin dari rival papan atas.

Ketiga, konsistensi maksimal di laga “wajib menang”. Green Force harus meraih tiga poin penuh dari semua pertandingan melawan tim papan bawah atau papan tengah. Kegagalan mengambil poin di laga ini akan membuat peluang juara hilang sebelum laga besar dimulai.

Keempat, hasil head-to-head lawan papan atas. Persebaya harus bisa mencuri setidaknya satu kemenangan atau beberapa seri penting melawan Persib, Persija, dan Borneo. Setiap kemenangan atau seri di laga ini bukan sekadar poin, tetapi juga memotong jarak langsung dengan rival.

Jika semua faktor tersebut berjalan serentak—tim menutup hasil imbang, meraih poin di laga berat, dan Tavares memberi dampak instan—Persebaya berpotensi mengumpulkan 54–55 poin. Ini cukup untuk menyalip rival dan menembus empat besar. Dalam skenario terbaik, bahkan juara masih bisa diraih, meski kecil kemungkinan, dengan kombinasi keberuntungan dan performa sempurna di putaran kedua.

Skenario Ekstrem: Menang Semua Laga

Jika bicara kondisi ekstrem namun logis, mari hitung: Sisa musim 19 laga, maka andaikan 19 laga itu Persebaya sukses menyapu bersih atau poin penuh, maka akan mendulang 57 poin (19 × 3). Dengan demikian, total akhir Persebaya meraup 79 poin (22 + 57).

Dibandingkan rival papan atas (55–62 poin), Persebaya dengan 79 poin tersebut secara matematis bakal menjamin juara Super League 2025/2026. Selisih 17–24 poin cukup aman, bahkan jika terjadi ketidakpastian seperti cedera, kartu, atau performa menurun di satu-dua laga sekalipun.

Namun, skenario itu tampaknya nyaris mustahil dicapai. Sebab, jadwal super padat, laga tandang melawan tim elite alias papan atas, dan risiko performa menurun. Yang jelas, secara teoritis, peluang Persebaya juara tidak nol, dan memberi batas atas potensi tim di bawah Tavares jika performa sempurna.

Meski peluang juara Persebaya adalah tipis tapi masih terbuka, bergantung pada konsistensi, disiplin, dan kemampuan tim mengeksekusi peluang di momen krusial. Musim kedua bukan sekadar tentang bertahan di papan atas, tetapi tentang membuktikan bahwa Green Force mampu menutup celah dan bersaing dengan elite Super League.

Angka-angka sudah berbicara, jadwal telah memberi peluang, dan Bernardo Tavares memiliki panggung untuk mengubah hitung-hitungan di atas kertas menjadi kenyataan. Jika semua berjalan optimal, Persebaya tidak hanya bisa mengamankan posisi 4–5 besar, tetapi juga membuka jalan menuju juara, walaupun itu butuh keajaiban, memerlukan performa hampir sempurna di sisa musim.

Musim ini, bagi Persebaya, adalah soal memenangkan perhitungan, bukan sekadar berharap keberuntungan. Yang pasti, menyambut momen Ultah 100 Tahun  atau 1 Abad pada 2027 mendatang, sepertinya juara merupakan ”harga mati” bukan? Wani. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini



No More Posts Available.

No more pages to load.