KabarBaik.co – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Malang menguji coba varietas padi organik baru dengan produktivitas mencapai 12 ton per hektare. Capaian tersebut dinilai cukup tinggi karena hampir dua kali lipat dibandingkan rata-rata hasil panen padi konvensional yang berkisar 7-8 ton per hektare.
Varietas padi yang masih dalam tahap pengembangan dan belum diberi nama itu dipanen perdana di lahan persawahan Desa Tanggung, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Panen awal ini menjadi bagian dari riset berkelanjutan sebelum benih dilepas secara luas kepada petani.
Ketua DPC HKTI Kabupaten Malang, Makhrus Sholeh, mengatakan uji tanam akan dilakukan beberapa kali guna memperoleh hasil paling optimal. “Ini masih gelombang pertama. Kami akan tanam dua hingga tiga kali sampai mendapatkan hasil terbaik, baru kemudian diberi nama,” ujarnya, Jumat (9/1).
Makhrus menjelaskan, tingginya produktivitas padi tersebut ditopang karakter tanaman dengan malai lebih tinggi dan jumlah bulir mencapai sekitar 500 butir per malai. Namun, potensi maksimal hanya bisa dicapai melalui sistem budidaya organik. Jika ditanam secara non-organik, tanaman justru berisiko roboh.
Saat ini, HKTI Kabupaten Malang masih fokus pada tahap penelitian lapangan. Setelah hasil dinilai konsisten, tahapan selanjutnya meliputi pengurusan perizinan, sosialisasi, hingga pendistribusian benih ke Pengurus Anak Cabang (PAC) HKTI di seluruh kecamatan.
Selain unggul dari sisi produktivitas, varietas ini juga dikembangkan untuk menghasilkan beras organik yang lebih aman dikonsumsi karena bebas residu bahan kimia. Hal ini dinilai sejalan dengan upaya peningkatan kualitas pangan dan penguatan ketahanan pangan daerah.
Sementara itu, Bupati Malang, Sanusi, menyebutkan produksi padi di Kabupaten Malang saat ini mencapai sekitar 480 ribu ton per tahun. “Kebutuhan padi Kabupaten Malang sekitar 400 ribu ton per tahun, artinya kita surplus sekitar 80 ribu ton,” jelasnya.
Sanusi menegaskan Pemkab Malang terus mendorong inovasi di sektor pertanian. Menurutnya, peran HKTI turut berkontribusi dalam meningkatkan produktivitas padi daerah. “Kalau sekarang rata-rata 7 sampai 8 ton, lalu bisa naik menjadi 12 ton, maka surplus beras Kabupaten Malang tentu akan meningkat,” tandasnya. (*)






