Indonesia Darurat Pengusaha, Sandiaga Uno: Ekonomi Kreatif Jadi Kunci Kemandirian Bangsa

oleh -222 Dilihat
IMG 20260131 WA0010
Sandiaga Salahuddin Uno, pengusaha nasional sekaligus mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

KabarBaik.co, Surabaya – Gagasan besar tentang kemandirian bangsa kembali mengemuka dalam Seminar Nasional bertajuk Indonesia Darurat Pengusaha yang digelar di Hotel Namira Surabaya, Sabtu (31/1).

Seminar ini menghadirkan Sandiaga Salahuddin Uno, pengusaha nasional sekaligus mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sebagai narasumber utama.

Mengusung subtema Membangun Kemandirian Bangsa Melalui Wirausaha, Sandiaga menyampaikan kegelisahan sekaligus harapan tentang arah perekonomian nasional.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia patut disyukuri, namun belum sepenuhnya diiringi oleh ketersediaan lapangan kerja yang berkualitas.

“Ekonomi kita tumbuh, alhamdulillah. Tapi pertumbuhan itu belum sejalan dengan penciptaan lapangan kerja yang berkualitas. Ini yang saya sebut sebagai darurat pengusaha,” ujar Sandiaga di hadapan peserta seminar.

Sandiaga menilai, sebagian besar pengusaha baru yang lahir saat ini masih bertumpu pada sektor informal. Akibatnya, lapangan kerja yang tercipta pun cenderung rapuh dan berpenghasilan rendah. Kondisi ini, jika dibiarkan, berisiko memperlebar kesenjangan sosial: yang besar semakin besar, sementara yang kecil semakin terpinggirkan.

Ia menekankan bahwa tantangan utama bukan sekadar menambah jumlah pengusaha, melainkan memastikan kualitas dan daya tahan usaha.

“Pengusaha harus lahir dari ekosistem yang kuat, dari sektor yang tepat, dan mampu menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan,” katanya.

Dalam paparannya, Sandiaga juga menyinggung situasi ekonomi global yang sedang tidak baik-baik saja. Ketidakpastian geopolitik, perang tarif, hingga kebijakan proteksionisme sejumlah negara besar menjadi tekanan nyata bagi perekonomian dunia.

Namun di balik tekanan itu, ia melihat peluang. Indonesia, dengan politik luar negeri bebas aktif, dinilai memiliki ruang besar untuk memperkuat kolaborasi internasional. Negara-negara seperti China, India, dan Eropa masih terbuka untuk bekerja sama, bahkan menjadikan Indonesia sebagai basis relokasi industri.

“Bukan lagi sekadar mengekspor produk ke Indonesia, tetapi menggunakan Indonesia sebagai basis produksi. Selama kerja sama itu membawa kemaslahatan bagi rakyat, sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945, kita harus membuka ruang,” tegasnya.

Sandiaga menaruh perhatian khusus pada UMKM, terutama usaha mikro dan ultra mikro. Dengan pola pertumbuhan ekonomi saat ini, UMKM kecil berisiko semakin terhimpit. Tanpa pembenahan serius, kesenjangan usaha akan makin nyata.

Peran pemerintah, menurutnya, menjadi sangat krusial—mulai dari fasilitasi, regulasi yang berpihak, hingga memastikan keberlanjutan usaha.

“Negara harus hadir, bukan hanya menciptakan keberadaan UMKM, tetapi juga menjaga keberlanjutannya,” ujarnya.

Ia juga menyoroti fenomena lulusan pendidikan yang terpaksa masuk sektor informal karena minimnya lapangan kerja berkualitas. Dampaknya bukan hanya pada pendapatan, tetapi juga pada keterjangkauan hidup—biaya tempat tinggal, transportasi, hingga kebutuhan dasar yang kian mahal.

“Punya pekerjaan saja tidak cukup. Pendapatan harus memungkinkan orang hidup layak, menabung, bahkan berinvestasi. Inilah esensi lapangan kerja berkualitas,” kata Sandiaga.

Memasuki 2026, Sandiaga optimistis sektor ekonomi kreatif akan menjadi motor baru perekonomian nasional. Ia menyebut sektor ini telah terbukti menyerap puluhan juta tenaga kerja secara global, mulai dari kuliner, fesyen, konten digital, hingga aplikasi berbasis teknologi.

Menurutnya, ekonomi kreatif menawarkan nilai tambah tinggi dan lebih inklusif dibanding sektor ekstraktif yang selama ini mendominasi namun bernilai tambah rendah.

“Ekonomi kreatif adalah jalan migrasi kita menuju ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menutup paparannya, Sandiaga mendorong para pelaku usaha untuk memegang tiga kata kunci utama menghadapi 2026.

Pertama, inovasi, dengan menghadirkan model bisnis yang berdampak positif bagi kesehatan, lingkungan, dan sosial. Kedua, adaptasi, yakni kemampuan merespons perubahan pasar dan teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan dan platform digital. Ketiga, kolaborasi, lintas sektor dan lintas industri.

“Tidak bisa lagi jalan sendiri. Pengusaha properti bisa berkolaborasi dengan teknologi, industri kreatif bisa bersinergi dengan manufaktur. Cara berjualan pun berubah, dari influencer besar hingga afiliator kecil—semua punya peluang,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.