KabarBaik.co- Model pendidikan pesantren berkontribusi positif terhadap mental santri. Mereka menjadi lebih tangguh. Itulah salah satu hipotesis yang diteliti Urin Laila Laila Sa’adah, mahasiswa program doktoral Universitas Negeri Malang (UM).
Untuk menguji salah satu hipotesa tersebut, mahasiswa Psikologi Program Doktoral UM itu tengah melakukan penelitian di beberapa Pondok Pesantren (Ponpes) di Jawa Timur.
Seperti diketahui, model pendidikan pesantren telah berjalan sejak ratusan tahun lalu di Indonesia. Para alumni pesantren juga sudah berkontribusi besar dalam berbagai bidang. Namun, tidak sedikit orang tua lebih memilih sekolah umum ketimbang pesantren. Salah satu alasannya, di pesantren hanya diajari seputar mengaji saja.
Bisa jadi, hal itu karena para orang tua belum mengetahui secara lebih mendalam tentang pendidikan pesantren. Terutama dalam hal pendidikan mental. Menjadi lebih tangguh dibandingkan sekolah umum. Mengapa demikian? Inilah yang akan dijawab melalui penelitian Laila.
Sebagai awal penelitian, Senin (12/8) lalu, Laila sudah menyebar instrumen kepada 200 santri Ponpes Darun Najah, Ngijo Karangploso Kabupaten Malang. Ratusan responden itu hanya digunakan untuk menguji validitas dan reabilitas intrumen penelitian. “Ini adalah tahap uji reabilitas dan validitas intrumen,’’ katanya.
Karena dalam penelitiannya menggunakan alat ukur dari peneliti asing, maka perlu melalui beberapa tahap penyesuaian. Yakni, penerjemahan, konsultasi dengan ahli bahasa, ahli psikologi dan selanjutnya mengadakan FGD dengan responden untuk menguji keterbacaan. ’’Nah sekarang ini dalam tahap menguji validitas instrumen penelitian ini,” paparnya.
Mahasiswa yang juga aktivis Komunitas Perlindungan Perempuan dan Anak Nusantara (Koppatara) ini menambahkan, setelah intrumen valid semua maka pihaknya akan melakukan penelitian di berbagai pesantren Salaf lain di Jatim. ’’Kurang lebih ada sekitar 1.200 orang sampel yang akan disebar di berbagai pesantren salaf di Jawa Timur,’’ paparnya.
Sebagai asumsi awal dari penelitian ini, Laila menyampaikan bahwa pendidikan salaf yang dimaksud adalah program pendidikan dengan kurikulum yang mengutamakan kajian kitab klasik (kuning) keislaman. Baik terkait kajian fiqih, tauhid sampai tasawuf yang dibarengi dengan kajian mendalam ilmu alat (nahwu dan saraf).
Program pendidikan salaf merupakan warisan khas pesantren, sebelum kemudian dikembangkan dan digabungkan dengan program kurikulum nasional negara, berikut jenjangnya yang telah disesuaikan.
Di era gempuran media digital dan media sosial saat ini, pesantren memiliki lingkungan pendidikan berbeda dengan kebanyakan lingkungan pendidikan pada umumnya. Misalnya, santri dilarang membawa HP atau media digital lainnya. Harapannya, santri menjadi fokus untuk belajar.
Nah, lingkungan yang berbeda dari sekolah pada umumnya, asumsi peneliti hal itu akan membentuk karakter dan perkembangan psikologi, yang juga berbeda dengan siswa pada umumnya.
Selain itu, jenjang pendidikan program salaf juga berbeda dengan program dengan standarisasi pendidikan nasional. Jejang kelulusan tidak diukur dari kemampuan akademis saja, melainkan juga penguasaan pembacaan kitab kuning dan seberapa banyak hafalan nadzom yang dimiliki santri.
Menurut Laila, hal-hal itu juga yang akan dilihat pada penelitiannya sebagai variabel yang mempengaruhi ketahanan. Yakni, komitmen santri untuk mampu terus menyelesaikan sampai tahap akhir jenjang pendidikan. Jika santri tidak betah atau drop out, nilai akademis dan ijazah tidak menjamin keberlangsungan karir. Namun, lebih pada kualifikasi kemampuan yang telah didapatkan di pesantren.
Dia menambahkan, kesejahteraan aspek psikologis, cara bertahan, cara bagaimana menghadapi tekanan, stresor, dinilai dekat dengan aspek ketangguhan mental yang dimiliki santri. Saat ini, banyak siswa terlayani serba instan, banyaknya media belajar yang memudahkan siswa untuk menemukan jawaban dan solusi bagi kesulitan tugas-tugas di sekolahnya.
Khazanah pendidikan pesantren salaf menjadi warisan luhur bangsa ini. Warisan itu bisa dipertahankan, dilestarikan, dan dikembangkan, tentu bila didukung data yang kuat dan kompitebel. ’’Besar harapan penulis, upaya riset-riset serupa terus dikembangkan dalam rangka mengupas khazanah pendidikan di negeri ini,’’ ujarnya.
Lantas, bagaimana potret atau gambaran ketahanan mental pada para santri salaf di pesantren-pesantren di Jawa Timur? ‘’Nanti pada Desember 2024 akan ketemu hasilnya dan kami publikasikan sebagai masukan kita bersama,’’ pungkas Lalila. (*)






