KabarBaik.co – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar bertemu dengan Duta Besar Maroko untuk Indonesia, Ouadia Benabdellah, di kantor pusat Kemenag, Jakarta. Pertemuan dua tokoh ini membahas penguatan kerja sama di bidang pendidikan. Di antaranya meningkatkan jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Maroko.
“Di program berikutnya saya akan mengirimkan pelajar saya ke negara Anda. Juga di tiga tempat, Amerika Serikat, Mesir, dan Maroko. Pihak LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) bertanya pada saya, ‘kenapa Maroko?’ Maroko adalah negara yang sangat istimewa,” kata Nasaruddin seperti dikutip dari laman resmi Kemenag, Jumat (7/2).
Nasaruddin menjelaskan, sistem pendidikan di Maroko lebih efisien dibandingkan beberapa negara lain dalam hal studi keislaman. Program magister di Maroko dapat diselesaikan dalam waktu dua tahun, sedangkan program doktoral maksimal empat tahun, lebih cepat dibandingkan di negara lain.
“Jika kita bandingkan dengan Maroko, master program membutuhkan 2 tahun dan Ph.D. program maksimum empat tahun. Saya rasa itu sangat intensif,” ujar Nasaruddin. Selain itu, kerja sama antara dua negara juga dalam rangka memperkuat program pertukaran ulama dan santri.
Nasaruddin menyebutkan bahwa ulama Indonesia dapat belajar banyak dari sistem pendidikan Islam di Maroko, yang memiliki sejarah panjang dalam kajian Islam berbasis tasawuf. “Insya Allah bidang pengadilan ulama, kita akan mengirimnya ke Maroko,” tegas Nasaruddin.
Duta Besar Maroko, Ouadia Benabdellah menegaskan bahwa pemerintah Maroko siap meningkatkan beasiswa bagi mahasiswa Indonesia. Saat ini, jumlah beasiswa yang diberikan terus bertambah untuk mendukung kerja sama di bidang pendidikan.
“Ketika saya tiba di sini, ada 15 beasiswa yang diberikan oleh Maroko ke Indonesia. Setelah 4 tahun, sekarang ada 50 beasiswa. Kita bisa lakukan lebih dari itu karena kita percaya dalam memperkuat hubungan ini,” kata Ouadia Benabdellah. (*)