Ini Tanggapan Akademisi Unej Soal Banjir di Jember

oleh -202 Dilihat
Kondisi wilayah yang terdampak banjir. (Ist)

KabarBaik.co – Hujan deras dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kabupaten Jember sejak Senin sore hingga malam (15/12) kembali memicu banjir di berbagai wilayah. Curah hujan ekstrem selama berjam-jam tanpa jeda menyebabkan debit Sungai Bedadung dan Kali Jompo meningkat drastis hingga meluap ke permukiman warga.

Menanggapi banjir tersebut, Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Unej, Bambang Herry Purnomo mengatakan banjir kali ini bukan sekadar fenomena alam akibat hujan lokal. Namun ini adalah kulminasi dari akumulasi aliran dari wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) yang mengalami perubahan tutupan lahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

“Akibatnya, sungai-sungai utama di Jember kehilangan kapasitas untuk menampung limpasan air (run-off). Kondisi ini diperparah oleh drainase perkotaan yang terbatas, sedimentasi yang parah, serta penyempitan ruang alir akibat aktivitas manusia di sepanjang bantaran sungai,” kata Bambang,

Banjir dilaporkan terjadi di sekitar 20 titik yang tersebar di beberapa kecamatan, terutama di kawasan padat penduduk dan dataran rendah.

Bambang menyebut, banjir di Jember adalah masalah struktural. Memang benar bahwa perubahan iklim memicu cuaca ekstrem dan hujan lebat yang lebih sering.

“Tetapi , pada sistem hidrologi yang sehat, hujan semacam ini seharusnya tetap dapat dikelola tanpa menimbulkan bencana berarti,” ungkapnya.

Fakta bahwa hujan dengan karakteristik serupa kini rutin berujung pada banjir serius menunjukkan penurunan drastis daya dukung lingkungan di Jember.

“Dalam konteks ini, hujan ekstrem hanyalah pemicu (trigger), sementara akar masalahnya terletak pada kebijakan tata ruang dan pengelolaan DAS yang tidak berkelanjutan,” paparnya.

“Kerentanan ini nyata terlihat dari menurunnya fungsi hidrologis DAS Kali Bedadung dan Kali Jompo. Alih fungsi lahan di wilayah hulu—baik menjadi lahan terbuka, perkebunan, maupun infrastruktur meningkatkan erosi dan sedimentasi. Akibatnya, badan sungai mengalami pendangkalan dan penyempitan. Tanpa hujan ekstrem pun, sistem DAS Jember sebenarnya sudah berada pada titik rapuh,” imbuhnya.

Bambang menyebut tanpa pembenahan tata ruang yang konsisten dan pemulihan daya dukung lingkungan, banjir di Jember akan terus berulang yang sebenarnya sudah sangat bisa diprediksi. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dwi Kuntarto Aji
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.